29 Cupcakes

29 cupcakes

29 Cupcakes

 

by amymoet〡Genre: Romance; Fluff〡Length: One shot〡Rated : PG 17〡Cast:Super Junior’s Eunhyuk [Lee Hyukjae] and Lee Byul [OC]

우리 멸치 The Series

link lengkap 우리 멸치 The Series ada di sini 

dipublish juga di my short stories

Spesial Uri Myeolchi birthday…. Happy b’day my lovely Myeolchi. Dibikin singkat saat hujan lebat dan mati listrik ><~~ Happy reading.

***

Hari masih pagi saat aku berlari keluar dari gedung apartemen. Dengan tubuh dibalut sweater dan mantel musim dingin, syal tebal, topi rajut dan masker, aku menyusuri trotoar. Meski Seoul sudah memasuki musim semi, tapi suhu masih teramat dingin, terlebih karena aku sedikit flu. Brrr, rasa dinginnya menusuk tulang.

Aku menyurukkan tangan dalam-dalam ke saku mantel, berharap mengurangi rasa beku. Aku lagi-lagi tak mengenakan sarung tangan, aku tak suka memakainya, jadi aku selalu melupakannya.

Aku memelankan langkah di deretan pertokoan. Menilik dengan hati-hati, takut terlewat. Di depan toko kue bercat pastel, aku berhenti. Mengintip ke dalam toko dari balik kaca besar. Tidak salah lagi, ini pasti tempatnya.

Aku mendorong pintu kaca pelan, aroma wangi aneka kue langsung menyerbu indra penciuman. Sangat memancing air liur, rasanya pasti enak.

Untuk sesaat, aku membiarkan mataku berkelana di sepanjang etalase. Mengabsen aneka kue disana. Semuanya terlihat begitu indah dan enak. Rasanya, kue-kue itu memanggil untuk dimakan.

Setelah puas melihat-lihat, aku berjalan menuju konter, berbincang sebentar pada penjaga dan menit berikutnya, aku sudah berada di dapur. Bukan dapur tempat koki memasak aneka kue, tetapi dapur khusus. Dapur yang lebih mirip tempat kursus. Ruangannya tidak terlalu besar dengan meja mengelilingi dinding serta dua wastafel. Di atas meja berjejer aneka bahan pembuat topping cupcake. Mulai dari butter cream, coklat, misis, aneka permen warna warni, fondart, dan lainnya yang tak aku kenal namanya.

Penjaga konter menghampiriku dan memberikan apron serta sebuah kotak besar, berisi cupcake polos tanpa topping. Ya, aku akan menghias cupcake.

Di toko ini, aku bisa berkreasi membuat topping cupcake sendiri. Aku akan menghadiahkan cupcake itu untuk kekasihku. Karena aku tak memiliki waktu untuk membuat kue seperti tahun lalu –terlebih karena betapa repotnya aku membereskan dapur yang porak poranda—aku memilih untuk menghias cupcake. Aku bisa menghias apa saja. Simpel kan?! Aku bahkan tak perlu membeli perlengkapannya, semuanya sudah tersedia di toko kue ini. Dan yang lebih menggembirakan lagi, aku tak perlu merasa bertanggung jawab atas kekacauan dapur. Menyenangkan sekali.

Seorang koki yang kali ini menjadi instruktur, mendemonstrasikan cara membuat topping cupcake tiga dimensi dengan menggunakan fondant, kelihatannya mudah. Aku pasti bisa. Aku akan membuat yang lebih baik dari yang dibuat si koki. Pasti!

Setengah jam kemudian, aku menyesal mengatakan menghias cupcake itu mudah. Baru 2 cupcake yang aku hias, tapi hasilnya bahkan jauh dari lumayan. Bagaimana bisa si koki melakukan itu dengan begitu mudah dan indah?! Tidak adil!

Ternyata menghias kue sekecil cup itu teramat sangat merepotkan! Lebih mudah menghias strowberry shortcake, hanya menutup kue dengan krim, lalu menghias dengan buah strowberry. Apa aku membuat strowberry shortcake saja? Tidak, tidak. Meski menghias shortcake itu mudah, tapi membuatnya tidak mudah. Membereskan dapurnya jauh lebih merepotkan lagi!

“Huft!” Aku mendesah panjang. Baru 3 cupcake dan aku sudah lelah. Karena cupcake itu hendak aku hadiahkan untuk kekasihku, aku berusaha untuk membuatnya indah, tapi susah sekali! Sepertinya aku tak sanggup jika harus menghias 29 cupcake. Tadinya aku berencana menghias 29 cupcake dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahuh kekasihku (29 sesuai usianya) tapi, jika aku sudah hampir menyerah di kue ke tiga, bagaimana bisa aku menyelesaikan 29 kue?

Sepertinya aku batal memberi 29 cupcake, aku akan memberikan 13 cupcake saja, bertuliskan H A P P Y B D A Y 우리멸치

Sejauh ini aku cukup berhasil menghias huruf H dan A, ya meski hasilnya jauh dari lumayan. Tapi tidak buruk. Setidaknya, kekasihku menyadari ketulusanku di setiap kue.

Matahari sudah begitu tinggi saat aku berhasil menyelesaikan cupcake – cupcake itu. Pfuh. Ternyata menjadi koki itu teramat merepotkan. Untung aku tak pernah bermimpi menjadi koki. Bagaimana mungkin bermimpi menjadi koki jika masak saja tidak bisa? Satu-satunya keahlianku di dapur adalah menghancurkannya.

Aku menatap dua kotak besar berisi cupcake, satu kotak berisi 13 cupcake yang aku buat dengan tulisan H A P P Y B D A Y 우리멸치, sedangkan kotak satunya berisi 16 cupcake dengan topping lebih indah. Jelas enam belas cupcake itu bukan aku yang menghias topping-nya. Aku membeli enam belas cupcake yang sudah ber-topping. Meski tiga belas cupcake buatanku –oke bukan murni buatanku, hanya toppingnya saja—itu kalah jauh dari enam belas cupcake lainnya, tapi tidak buruk. Aku cukup puas, ya, cukup. Kekasihku itu akan tahu ketulusanku kan?!

Oppa, semoga kamu menyukainya. Setidaknya, kamu harus menghargai usaha kerasku!”

Aku menggunakan jasa antar untuk mengantarkan 29 cupcake itu, aku sengaja meminta kurir mengantarnya tengah malam nanti ke dorm. Aku tidak tahu apa kekasihku ada di perusahaan atau di dorm, tapi dia pasti akan pulang ke dorm kan? Meski kue ku tidak pertama sampai, tapi pasti Oppa menerimanya.

Sepanjang sisa hari, aku tidak tenang. Bagaimana nasib cupcake ku nanti? Apa sampai dengan selamat? Apa Oppa menerimanya? Menanti itu bukan keahlianku.

***

Aku tertidur di sofa sambil menggenggam smartphone, laptop di meja rendah masih menyala, beberapa lembar kertas bertebaran di meja dan karpet. Beberapa bungkus snack ikut memenuhi meja rendah.

Beep beep

Suara samar tanda kunci pintu terbuka membangunkanku. Siapa yang datang? Jam berapa sekarang? Aku mengerjap, pandanganku belum jelas. Sebelah tanganku meraba meja rendah, dimana kaca mata ku?

Sebelum jemariku menemukan kaca mata, mataku menangkap sosok pria tengah kesusahan membawa kotak di tangannya. Aku menelengkan kepala, sepertinya tubuhnya terlihat falimier.

“Byul-ah!” Begitu panggilan itu keluar dari bibirnya, aku tersenyum. Aku tahu sekali siapa pria yang berdiri di sana. Pria yang tahu nomor kombinasi apartemenku. Dialah kekasihku.

Dengan hentakan keras, ia duduk di sebelahku. Mengecup pipiku sekilas, membuat pandanganku berubah jernih.

“Apa yang Oppa lakukan disini?” Tanyaku sambil menguap.

“Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?” Oppa melirikku tajam, memasang ekspresi terluka.

Aku tersenyum senang. Bergelayut manja di pundaknya yang bidang. “Jam berapa sekarang?”

“Entahlah, jam 2 mungkin,” Oppa mengangkat bahu.

“Oh, aku tertidur cukup lama di sofa,” gumamku tidak jelas. “Apa Oppa sudah menerima cupcake ku?”

Oppa hanya menunjuk kotak di pangkuannya. Sementara aku mengangguk-angguk.

“Aku ke sini mau protes.”

“Hah?” Aku duduk tegak. Apa katanya? Protes? Kenapa? Apa karena topping-nya jelek?

“Ish, kamu jorok sekali,” Oppa menyingkirkan kertas dan sampah di meja untuk meletakkan kotak.

Aku mengamati dalam diam. Menunggu protesnya. Sementara pikiranku mulai berkelana, apa kiranya yang membuat Oppa hendak protes?

Oppa membuka penutup kotak, memperlihatkan cupcake dengan topping H A P P Y B D A Y우리멸치

Aku mengamati cupcake dalam kotak, apa ada yang salah?

“Kamu tidak memberi lilin, bagaimana aku bisa meminta permohonan?”

Ish! Hanya karena itu?” aku mencibir. Kekanakan!

“Tentu saja tidak, kamu belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku.”

“Tapi kue itu kan ucapan selamat ulang tahunku! Dan lagi, jumlahnya sesuai usiamu. Eh, bagaimana dengan enam belas cupcake yang lain?”

“Aku tinggal di dorm. Aku ingin mendengar ucapan itu langsung.” Dia menatapku sambil mengerjap-ngerjap manja.

Oppa, kamu lupa dengan usiamu? Mana ada pria berusia dua puluh sembilan tahun bersikap kekanakan seperti itu?”

“Biar saja, aku hanya melakukannya di depanmu!”

Ish!

“Tapi, kamu menyukainya kan?” Oppa mengerjap genit.

“Baiklah Oppa, selamat ulang tahun.”

Oppa menyodorkan pipinya untuk aku cium. Aku tersenyum sebelum mengecupnya singkat. Dengan manja, Oppa menunjuk bibirnya. Ish! Tapi, tak urung aku mengabulkannya. Aku menciumnya, rencananya, aku hanya mengecupnya seklias, seperti saat aku mengecup pipinya, tapi Oppa menahanku.

“Aku akan mengambilkan lilin dan korek api,” aku bangkit. Tetapi, Oppa mencengkeram tanganku. Menarikku duduk di pangkuannya.

“Aku sudah tak membutuhkannya. Aku sudah mendapatkan permohonanku.”

“Eh?”

Lengan Oppa melingkari pinggangku, mendekapnya erat. Kepalanya bersandar di bahuku.

“Aku akan disini hingga matahari terbit.”

Saat kekasihmu melakukan itu, apa kamu memiliki pilihan lain? Aku, meski memiliki pilihan lain, aku memilih untuk menurutinya. Berada di pelukanya hingga matahari terbit. Menikmati kehangatannya, aromanya, serta cintanya yang berlimpah. Aku bersandar nyaman di dadanya yang bidang. Aku harap matahari terlambat terbit.

_END_

3 comments on “29 Cupcakes

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s