[Freelance] Rain Sound

poster

Sriptwriter       : Nadhifa Jung

Main Casts      :

–         Lee Jae Mi

–         Wu Yi Fan

Cameo             : Please look for by yourself

Genre              : Drama, friendship, comedy

Length             : One-shot

Rated              : T

Disclaimer       : Annyeong! I’ve been writing this fanfiction when listened ‘Rain Sound’ by BAP. Even if this story isn’t well, please don’t re-upload without permit. Read-comment-like as a must. Thanks ^^

– posted & last edited by Ai Lee 150114 –

Usai jam tambahan kuliahnya berakhir, Jaemi memutuskan kembali ke rumah. Perkiraannya benar, malam ini, ribuan, bahkan jutaan partikel awan berupa cairan berbodong mendarat di jantung kota Korea Selatan. Sedari tadi awan kelabu menyelimuti jantung kota Korea Selatan. Itu artinya hot coffee with cherry extract buatan Kris akan menemaninya menerjang malam sembari mendengar rintik hujan.

Kyungsoo mengantarnya pulang malam ini. Ia tak sampai hati jika membiarkan Jaemi menumpangi bus. Kendati peraih medali emas dalam Seoul Athletic Championships kategori taekwondo dan pemegang sabuk hitam, tetap saja jenis kelamin Jaemi perempuan. Dan gadis sepertinya kerap menjadi incaran pria di Seoul saat malam. Ya, Kyungsoo memang pria. Namun Ia berbeda. Ia telah menganggap Jaemi sebagai adik kandungnya.

Oppa, terimakasih telah mengantarku.” Jaemi membungkukkan badan. Kyungsoo hanya membalasnya dengan senyuman sembari menyodorkan sebuah payung pada Jaemi. Jarak rumah Jaemi dengan keberadaan mobil Kyungsoo saat ini teramat jauh. Pria itu tak ingin sahabatnya jatuh sakit hanya karena tetesan hujan.

Jaemi langsung menyergap pintu rumahnya dengan perasaan riang. Lantas Ia menerka keberadaan Kris, sahabatnya. Tetapi setelah mencari ke segala penjuru ruangan, Jaemi tak kunjung menemukan pria jangkung itu. Tersirat sebuah kekecewaan bercampur takut di wajahnya.

“Mencariku?”

Sebuah suara mengenjutkan gadis itu. Ia membalikkan badan. Memeriksa apa suara itu benar-benar berasal pria incarannya.

“Kris! Kau kemana saja?” Jaemi mendekap tubuh Kris seraya menteskan cairan benin dari pelupuk matanya.

“YA! Kau menangis? Gadis jantan sepertimu bisa menangis rupanya!” Goda Kris seraya membalas rengkulan Jaemi.

“Diam! Kau membuatku takut setengah mati! Untuk menebusnya, buatkan aku hot coffee!”

Kris tergeli kala melihat gadis dihadapannya membentuk aegyo menggemaskan. Segera Ia ayunkan langkahnya menuju dapur guna membuat pesanan sahabatnya.

Setelah bergulat bersama cangkir, air panas, sendok, dan biji kopi di dapur, akhirnya Kris dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam lima belas menit. Dua cangkir hot coffee with cherry extract telah tersedia. Ia membawa minuman itu ke ruang tamu tempat dimana Jaemi berdiam. Gadis itu sengaja memilih ruang tamu untuk mendengar suara hujan. Dari ruangan ini Ia dapat mendengar jelas suara menenangkan itu.

“Dua cangkir hot coffee telah siap. Silahkan dinikmati.” Kata Kris dengan gaya seorang pelayan cafe.

Gomawo.”

Kemalut sinar remang rembulan serta muatan awan hitam berupa air menemani kedua insan itu melewati malam gulita. Kepala seorang gadis tersandar di puncak bahu pria disampingnya. Lengan kanan gadis itu menggenggam secangkir minuman sementara lengan kirinya melingkar di pinggang pria itu. Tanpa disadari, gadis itu telah terlelap dalam tidurnya.

Menyadari Jaemi telah beranjak ke alam mimpi, lantas Kris menopang tubuh gadis itu ke kamarnya. Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Kris meninggalkan kiss mark di dahi sang gadis.

***

“Wu Fan! Ppali ppali! Jika hujan reda karena keterlambatanmu aku tak mau bermain bersamamu lagi!”

Jaemi menarik lengan sahabatnya dengan jengkel. Nyawa Kris belum sepenuhnya terkumpul dari tidur siang. Pria itu kalap dalam mengatasi rengekan dari seorang gadis. Mau tidak mau, Kris menuruti perintah sang gadis. Mengapa? Gadis itu pengisi hidupnya. Semenjak lahir dan beranjak dewasa hingga kini waktunya selalu dihabiskan bersama Jaemi. Maka dari itu, Kris beranggapan bahwa Jaemi bukan sekedar sahabatnya, melainkan adiknya. Kris teramat menyayangi gadis itu.

“Kau ini seperti seorang gadis saja! Lamban sekali!”

Senja itu hujan berintensitas tinggi tengah mengguyur kota Seoul. Ini pertanda baik bagi Jaemi. Jiwanya akan merasa tentram kala mendengar irama abstrak dari gemiricik partikel berupa cairan yang mendarat di bumi. Terlebih dengan adanya Kris, hidup Jaemi mungkin akan terasa benar benar sempurna.

Gadis itu mengernyitkan dahi. Bibirnya di ajukan beberapa inchi. Ia menatap pria itu kesal. Ternyata pria yang digusurnya dengan sejumlah tenaga ternyenyak kembali. Bahkan dalam posisi tegak lurus dengan lantai. Sebal akan kelakuan Kris, Jaemi mendaratkan sebuah pukulan termahir yang Ia miliki ke kepala Kris. Meski puncak tubuh Kris cukup sulit dijangkau, tetapi dengan menumpukan telapak kakinya pada jempol bah tengah menarikan ballet Ia dapat meluncurkan pukulan itu. Bingo! Kris terbangun seraya mengusap-ngusap puncak kepalanya.

Aish, neomu appo!” Kris meringis. Tampak paras kesakitan menelungkup dalam wajahnya. Tak dapat dipungkiri bahwa Jaemi memang pemukul handal. Pasalnya Jaemi terpilih menjadi kapten taekwondo di Sungkyungkwan of University. Tingkatnya telah mencapai master. Bahkan seorang Choi Siwon, seniornya di Kwanghee dulu, dapat dengan mudah Ia taklukan. Siwon memang terkenal atas pencapaian sabuk hitamnya. Namun ketika ditandingkan dengan Jaemi dua tahun lalu, Ia tersungkur dan dinyatakan kalah oleh wasit.

“Lihat! Karena ulahmu, hujannya berhenti! Aku membencimu!” Jaemi berlalu meninggalkan Kris dengan sisa kegeramannya. Melihat tingkah gadis itu, Kris merasa bersalah. Sejujurnya tadi Ia ingin mengerjai Jaemi. Tetapi kejahilannya berhujung pada malapetaka. Sigap Kris menyusul Jaemi ke kamarnya. Namun Kris terlambat, Jaemi telah menutup rapat pintu kamarnya.

Drrrttttt……

Ponsel Kris bergetar. Bertanda ada sebuah pesan singkat terdeteksi masuk di ponselnya. Ia lantas membuka pesan itu dan membacanya sekilas. Matanya terbelalak. Ekspresi wajah penyesalannya berubah menjadi ketidakpercayaan. Pesan singkat itu Do Kyungsoo tulis dalam rangka mengingatkan Kris pada ulangtahun Jaemi hari ini. Pantas saja Jae Mi sedikit sensitive padanya. Kris telah melakukan kesalah besar. amat fatal.

Sigap pria itu mengayunkan langkah menuju posisi kendaraannya. Jalanan licin terpaksa Ia arungi. Tak mungkin Ia lewati ulang tahun ke tujuh belas tahun sahabatnya tanpa hadiah dan kejutan.

Kris memacu kendaraannya dalam kecepatan di atas rata-rata. Mobilnya meluncur amat cepat bahkan mengalahkan seorang pembalap dalam sirkuit. Perasaannya gelisah sementara fikirannya melayang tertuju pada Jaemi. Matanya berkaca. Kris takut, kejadian tujuh tahun lalu kembali terulang.

7 Years Ago

Kris merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Kegiatannya di sekolah merenggut habis tenaganya. Bayangkan, sang pelatih basket tak tanggung-tanggung memerintah anak didiknya untuk melakukan pemanasan lari sebanyak tujuh keliling, push up, sit up, dan scot jam. Semua itu tidak termasuk dengan ritme bermain basketnya. Jadi Ia menghabiskan waktu setengah hari guna menyelesaikan ektrakulikuler basket.

Tiba-tiba Kris mendegar jeritan seorang gadis dari arah berlawanan. Lantas Ia mencari sumber suara. Dari kamar Jaemi. Suara itu berasal dari kamar Jaemi. Kris tak memikirkan kondisi tubuhnya, dalam fikirannya kini adalah Jaemi. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada Lee Jaemi. Pasalnya tak ada lagi orang yang Ia miliki di Seoul selain Jaemi.

“Ya Tuhan, Jaemi! Sadarlah!”

Iris matanya tertuju pada sesosok  gadis tersungkur tak berdaya dengan lengan kiri berlumur darah di atas lantai. Di samping kepalanya tergeletak sebuah gunting mainan. Kris langsung menyergap tubuh gadis itu dan mengantarnya ke rumah sakit. Sebelum itu, Kris menemukan sebuah tulisan. Dari tangan mungilnya mungkin.

‘Mengapa semua orang di dunia ini menyebalkan? Ibu, ayah, teman-teman, dan Kris. Mereka tak ingat hari ulangtahunku. Dan aku harus melewati hari ini tanpa ucapan selamat ulangtahun. Bahkan Kris asyik dengan urusannya. Aku membencinya!’

Tanpa diperintah, air mata menetes dari mata Kris. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Bagaimana bisa kesibukannya membuatnya lupa akan hari spesial Jaemi. Setelah membaca surat tangan Jaemi, Kris langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Agar Jaemi dapat tersadar guna merayakan peringatan ulangtahunnya.

Tanpa disadari sedaritadi Ia menambah kecepatan mobilnya. Sebuah truk pengangkut barang tampak menuju ke arahnya. Membuat Kris membanting kemudi. Tetapi alih-alih menyelamatkan diri, Ia menabrak sebuah pagar pembatas jalan. Alhasil kepalanya berbenturan dengan kemudi penuh dengan pecahan kaca.

***

Tiba-tiba Jaemi merasa ada sesuatu bergetar di sakunya. Ponselnya berdering. Ternyata dari Kris. Karena keteledoran Kris tadi, Jaemi mengabaikan panggilan dari pria itu lantas membanting ponselnya ke atas ranjang. Tetapi panggilan itu terus terulang hingga akhirnya Ia menyerah dan mau menerima panggilan itu.

“Jangan menel- ah, ne. Lee Jae Mi imnida. Nuguseyo?”

“…”

MWOYA?”

Seketika sekujur tubuh Jaemi menengang sulit digerakkan. Peredaran darahnya berhenti mengalir sejenak. Degup jantungnya berdetak lima kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Nafasnya tecekat di dada. Air mata tumpah merebah membuat aliran sungai di pipi mulusnya. Rasanya saat itu juga Jaemi ingin berteriak. Namun tenaganya telah habis. Tubuhnya kini terhempas ke atas lantai. Semua ini salahnya. Seandainya Jaemi tak marah pada Kris, keadaannya tak mungkin seperti ini.

3 Years Later

Setelah menghadiri rapat direksi, gadis berperawakan langsing itu memutuskan kembali ke ruangannya. Saat ini Seoul tengah diguyur hujan. Pantas saja, Seoul telah memasuki musim gugur setelah melewati masa dua bulan dengan musim panas. Sebelum benar-benar menerjang musim dingin, para tumbuhan biasanya akan beradaptasi guna menyambut datangnya salju. Maka dari itu, manusia lampau menyebut sesi ini dengan musim gugur.

Mendengar suara hujan mengingatkannya pada seseorang yang terbaring lemah di atas ranjang. Kelopak matanya tak kunjung mengangkat. Bibirnya hanya menunjukkan garis lurus tanpa lekuk manis yang biasanya dia juruskan. Pria itu masih berada di bawah alam sadarnya. Terperangkap dalam mimpi indah tanpa bisa berbuat sesuatu.

Di tengah melayangkan fikiran pada pria itu, seseorang mengetuk pintu ruangannya seraya terengah-engah. Dia Choi Jinri, sekretaris Lee Jae Mi., “Presdir Wu Yi Fan telah mendapatkan kesadarannya kembali. Kini Ia tengah menyebut nama Anda..”

Jinjja? Arraseo, aku segera kesana.”

Jaemi beranjak dari kursi kerjanya. Ia melangkahkan kaki menuju ke basement tempat mobilnya terparkir. Lantas gadis itu pasang kecepatan tinggi pada kendaraannya. Sebenarnya Jaemi membenci rumah sakit. Salah satu dokter di rumah sakit Seoul pernah melakukan malpraktik pada Mrs. Lee Min Ah, selaku ibu kandung Jaemi, sehingga Mrs. Lee menderita kanker sumsum tulang belakang. Selain itu, Mr. Lee pernah melakukan percobaan di lantai paling atas rumah sakit St. Mary Seoul Gangnam karena frustasi. Kendati selamat dari kecelakaan maut itu, tetap saja patah tulang berat serta pendarahan di otaknya meraup nyawa ayahnya itu.

Setelah menghabiskan beberapa menit di perjalanan, akhirnya Jaemi sampai di tempat tujuan. Aroma khas rumah sakit menimpali hidungnya. Suasana empat belas tahun silam kembali mencengkramnya. Tetapi Jaemi melawan rasa takutnya, Ia memasuki rumah sakit dengan nafas terengah.

Jaljjayo.”

Jaemi membungkukkan badannya. Wu Hwang Tsie, Kyungsoo, Jeong In, Sehun, serta Min Seok terlihat melingkari jasad Kris. Sebuah senyuman terukir di wajah pria itu. Air mata Jaemi kembali menetes. Kali ini pertanda haru, bukan duka.

“Lee… Jae-Mi… Saengilchukka hamnida…” Kris tercekat. Memapahkan bibirnya guna menyampaikan sepatah kata teramat sulit. Benar, Ia lakukan itu demi Lee Jaemi. Sahabatnya.

BABO! Kenapa kau baru bangun? Apa kau tidak tahu selama ini aku kesepian tanpamu? Gajima, jebal.”

“Aku berjanji…akan menemanimu… mendengar… suara hujan… bahkan jika aku…”

TETTTTTT

Garis pendeteksi degup jantung pria itu menunjukkan garis lurus. Artinya, tak ada lagi kehidupan dalam raga Kris. Arwahnya telah pergi. Menyisakan isak tangis seluruh audiens. Tidak bagi Lee Jaemi. Gadis itu menyeringai. Menurutnya ini sebuah lelucon. Alat pemacu jantung itu sudah rusak. Sehingga menampilkan deret garis panjang beraturan.

“Aku takkan percaya lagi padamu, Kris! Bangunlah, and stop pretending!”

Jaemi menatap wajah pucat Kris jengkel. Namun tanpa sadar cairan bening dari matanya mengalir menyusuri pipi mulusnya, ““YA! WU FAN! JANGAN PERGI SEBELUM KAU MENYEMPURNAKAN PERKATAANMU! SUDAH KUBILANG JIKA KAU BERANI MENINGGALKANKU, PERSAHABATAN KITA BERAKHIR! WU FAN! KEMBALI! JANGAN MEMBUATKU MENDERITA SEPERTI INI! WU FAN!”

FIN~

4 comments on “[Freelance] Rain Sound

  1. sedih banget thor ga kebayang kalo g mengalami hal itu juga :(, anyway ditunggu cerita lainnya y thor hwaiting

Leave a Reply to annie_heneciatriples Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s