[Freelance] Did You Remember? – Part 3

Did you remember

Author: Lee Hyohee (@Lousey_Han)

Title: Did you remember? [Part 3/4]

Main Cast: Lee Hyuk Jae, Han Ji Min

Other Cast: Member Super Junior and family also other illustration cast

Genre: Romance

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Aku selalu merindukanmu…

Aku terus mencarimu…

Tapi apa kau masih mengingatku?

– posted & last edited by Ai Lee 150913 –

A FEW OF REVIEW…

“Kau tidak ingat, ini hari raya Chuseok. Kita pergi ke Mokpo Kota untuk merayakannya. Di sana ada festival besar.”

Jinjja? Ayo Oppa kalau begitu,” aku malah yang bersemangat menggandengnya pulang ke rumah.

***

Seminggu sudah aku di Mokpo. Hari ini Donghae menjemputku kembali ke Seoul. Padahal aku sudah mulai betah di sini. Eomma terlihat sedih melihatku hendak pergi. Ia tak henti-hentinya berpesan padaku untuk jaga diri baik-baik, selalu makan dengan teratur, jaga kesehatan, dan lain-lain. Aku mulai merasakan kasih sayang dari Lee ahjumma, aku bahkan tak sungkan menyebutnya eomma seperti eommaku sendiri. Dia juga membawakan banyak kimchi dan makanan lain untuk kami bawa ke Seoul. Donghwa oppa memberikan nomor ponselnya padaku. Ia bilang aku harus rajin menghubunginya.

Kami pamit. Kami meluncur dari Mokpo sekitar pukul empat sore dan baru sampai di Seoul pukul delapan malam. Donghae langsung mengantarkanku ke apartemen.

“Kita sudah sampai. Terima kasih Donghae. Kau bisa buka bagasinya. Aku akan turunkan sendiri barang-barangku.”

Andwe! Aku saja. Aku harusnya yang membantumu,” Donghae melarangku membawa barangku sendiri.

“Baiklah kalau kau memaksa, tapi jangan menyesal ya?”

Dia membuka bagasi dan membawa semua barangku sendirian. Dia terlihat keberatan. Aku terkikik melihatnya. Tapi lama-lama aku tidak tega. Aku menyambar dua tas dari tangannya dan kubawa sendiri. Ia mengantarkanku sampai ke dalam apartemen. Ia meletakkan semua barang tadi di ruang tamu. Aku sendiri pergi ke dapur  untuk mengambil minuman dingin untuknya.

Di ruang tamu dia sedang menyalakan TV, aku menyodorkan sebotol jus dingin untuknya. Dia terlihat serius sekali menonton TV. Jadi aku buyarkan pikirannya dengan mengajaknya sedikit bicara.

“Donghae ya, bagaimana keadaan Hyukjae?”

“Dia baik-baik saja. Tenang, aku akan selalu menjaganya untukmu.”

“Bagaimana SS4 kalian di Singapura? Ada yang istimewa?”

“Tidak ada, tapi Ryeowook, dongsaengku di lempari lightstick penonton.”

“Mungkin mereka terlalu gemas, makanya sampai melempar lightstick segala. Kalian harusnya jangan terlalu imut saat di panggung.”

“Haha lucu sekali. Itu tidak lucu, pabo.” Dia tersenyum sengit padaku.

“Aku kan ingin melihatmu tertawa. Kau dari tadi hanya diam. Kau marah ya?”

Ani.”

“Lalu itu apa? Hm, sudahlah cepat pulang sana. Aku bosan melihat wajah datarmu itu.”

“Aku tidak mau pulang. maaf-maaf, aku hanya terbawa suasana sejak kemarin.”

“Ada apa memangnya?” aku menatapnya penuh rasa penasaran.

Dia meneguk jus itu sampai habis. Lalu dia mulai bercerita. Ternyata besok Kangin, hyungnya di Super Junior yang wamil akan pulang. Dia belum membeli hadiah apapun untuknya. Donghae jadi bingung sendiri. Besok mungkin dia tidak bisa hadir di sana karena ada jadwal wawancara. Tapi Manager hyung sudah memberitahunya untuk tidak mengkhawatirkan acara wawancara itu. Acara itu bisa dicancel. Yang terpenting sekarang Donghae bisa menjemput hyungnya.

“Lalu apa masalahnya?” tanyaku lagi.

“Aku belum sempat membeli apapun untuknya. Dia suka wine, tapi aku tak tahu wine jenis apa. Tapi setelah kuingat-ingat ia lebih suka beer.”

“Kau tak perlu beli apa-apa. Ajak aku menjemputnya besok. Aku akan berteman dengannya. Itu hadiah yang jauh lebih baik dari wine yang bisa kau berikan padanya.”

Jeongmal, kau mau datang menjemputnya?”

Ne, tentu saja. Kenapa tidak?”

“Gomawo, kurasa aku bisa tenang sekarang.”

“Sudah sana pulang. Jangan lupa besok jemput aku.”

“Arraseo,” dia mulai berdiri dan mengacak rambutku pelan.

“Aku pulang, jaljayo Ji Min ah.”

“Ne, hati-hati di jalan.”

Aku mengantarnya sampai ke depan pintu lift. Hm, akhirnya dia pulang juga. Aku sendiri sekarang. Agak sepi memang, lebih baik aku cepat tidur agar besok terlihat sedikit segar.

***

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menikmati peranku. Aku sekarang bekerja di KBS. Aku bekerja di acara reality show sebagai penata wardrobe, juga asisten sutradara. Ini semua berkat Donghae. Ia punya koneksi di sini. Tapi aku juga tidak boleh terlalu bergantung padanya. Aku percaya dengan kemampuanku, aku yakin aku bisa bekerja lebih baik lagi.

Setiap hari aku bisa melihat Hyukjae. Tapi kadang juga dia tidak datang ke sini karena jadwal lain di luar negeri. Aku tahu itu dari Donghae. Diam-diam aku terus mengamatinya. Ada saat dimana saat aku bekerja tiba-tiba berpapasan dengannya. Seketika itu aku akan menunduk berusaha menutupi wajahku agar dia tak mengenaliku.

Tapi suatu waktu aku memberanikan diri untuk bertemu dengannya dan menanyainya secara langsung.

“Annyeonghaseyo, Hyukjae ah.”

“Nuguseyo?”

“Kau tidak mengenaliku?”

“Aniyo.”

“Apa kau masih ingat? Tentang Eunhyuk?”

“Itu aku, hm… maaf tapi aku harus buru-buru. Aku tidak ada waktu untuk membahas hal seperti ini. Annyeong.”

Dia bahkan tidak mengingatnya. Dia tidak mengingatku. Apa yang terjadi sehingga dia bisa lupa. Hampir tujuh tahun memang, tapi kalau dia memang menganggapku penting ia takkan melupakan aku. Molla? Hanya dia yang tahu.

***

Hari ini aku ingin pergi ke rumah keluarga Hyukjae. Terkesan nekad memang, tapi aku harus melakukan ini. Aku ingin meminta maaf atas segala yang kulakukan pada Hyukjae. Mungkin mereka akan membenciku, aku tidak peduli asalkan aku sudah berusaha.

Rumah itu nampak masih sama, tak banyak berubah. Aku berjalan mendekati pintu itu. tapi langkahku terhenti saat si empunya rumah membuka pintu.

“Soora unnie?”

“Ne, kau siapa?”

“Aku Han Ji Min.”

“Han Ji Min? Siapa?”

“Ehm, apa Hyukjae…”

Plakkk! Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi kiriku. Soora unnie menamparku, walau aku belum menyelesaikan kalimatku. Sepertinya dia tahu maksudku.

“Beraninya kau menampakkan diri lagi di hadapanku setelah apa yang kau lakukan pada adikku.”

“Mianhae, unnie. Waktu itu…”

Plakkk! Sebuah tamparan menyusul ke pipi kananku.

“Appo unnie,..” aku meringis kesakitan sekarang.

“Itu sama sakitnya ketika aku melihat adikku menangis karena seorang yeoja sepertimu.”

“Unnie, biar aku jelaskan semuanya.”

“Shireo, lebih baik kau pergi dan jangan muncul lagi.”

Aku menangis menjauh dari tempat itu. Tapi langkahku tertahan saat melihat sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Aku segera naik mobil. Terlihat seorang ahjumma dan seorang ahjussi turun dari mobil itu. Mereka menghampiri Soora unnie dan melakukan sedikit percakapan. Aku tak tahu apa yang mereka katakan tapi dua orang itu mulai menghampiri mobilku.

Ttokkk ttokkk ttokkk…

Seorang ahjumma mengetuk pelan kaca mobilku. Aku membukanya.

“Turunlah, ayo kita bicara.”

“Ne, ommonie.”

Eomma Hyukjae dengan sabarnya menuntunku masuk ke rumah.

“Ada apa kau kemari, Ji Min ah,” ommonie membelai rambutku pelan.

Aku duduk di ruang tamu di samping ommonie. Abboji duduk di kursi di seberang kami. Hanya saja aku tak melihat Soora unnie. Tak lama kemudian dia muncul membawa beberapa minuman dengan nampannya.

“Mianhae, Ji Min ah,” katanya sambil mengulurkan secangkir teh padaku.

“Maaf kalau tadi aku terlalu emosi.”

Aku menundukkan wajahku tak berani menatap siapapun di ruang ini. Aku merasa sangat bersalah pada mereka semua.

“Ceritakanlah kenapa kau pergi saat itu. Kami tahu semua itu pasti ada alasannya,” abboji menyuruhku bercerita.

“Abboji, ommonie, unnie… aku benar-benar ingin minta maaf. Aku saat itu membuat keputusan sepihak,” aku pun mengisak. Aku tak menyangka harus menangis di saat yang seperti ini.

“Dia tak pernah menemuiku. Aku mencarinya ke sini tapi dia tak ada. Aku mencarinya ke SM. Tapi aku diusir seolah seperti pengemis… hiks hiks…”

“Tenangkan dirimu, Min ah..” Soora unnie kini duduk di sampingku dan menenangkanku.

“Aku, aku, bingung harus apa. Aku pulang dan me.. menemukan eommaku tergeletak di tanah. Dua hari dia tak kunjung sadar. Sampai akhirnya dia meninggal di rumah sakit. Dihadapanku, eomma pergi dengan diam…”

“Maafkan kami, Ji Min. Maafkan kami…”

“Aku pergi ke Mokpo untuk pemakamannya. Di sana aku bertemu Lee ahjussi, ayah Donghae yang tak lain adalah teman appa. Dia mengajakku menemui Hyukjae ke dormnya. Aku bertemu dengannya tapi dia sepertinya berubah. Aku tak tega menceritakan yang kualami padanya…”

“Lalu selama ini kau kemana, Min ah?”

“Aku ke Italia lalu ke Amerika. Aku berharap bisa meraih kebahagiaan di sana. Tapi aku salah ommonie, aku salah… aku tak bisa melupakan Hyukjae.”

“Aku kembali dan semuanya kini memang sudah berubah. Kumohon maafkan aku, aku hanya ingin minta maaf pada kalian juga Hyukjae.”

Kini giliran mereka menceritakan yang terjadi pada Hyukjae selama aku pergi. Aku benar-benar merasakan sesak mendengar kepedihan Hyukjae. Aku bodoh. Aku tak seharusnya pergi saat itu.

***

Suatu hari datang hari yang memberiku satu langkah lebih dekat dengan Hyukjae. Hari itu, seorang MC acara reality show kami mengalami kecelakaan saat menuju lokasi syuting. Karena itu aku langsung ditunjuk menggantikannya. Tapi aku ragu apa aku bisa. Aku hanya berada di belakang layar, bukan di depan layar.

“Hebat! Rating acara ini langsung naik begitu kau yang menjadi MC. Kau sangat berbakat. Orang-orang suka dengan American stylemu itu. dialekmu kental sekali dengan gaya Amerika dan seruan-seruan dalam bahasa Italia itu sangat menarik. Mamamia!”

“Itu hanya saat aku terkejut, hanya refleks. Aku tak sengaja mengatakannya. Tak kusangka malah orang-orang suka.”

“ Ji Min ah, tidakkah menurutmu kau memang berbakat?”

“Donghae, itu karena Park Min Sam sedang kecelakaan. Aku hanya menggantikannya beberapa episode.”

“Sayang sekali, padahal aku masih ingin melihatmu tampil. Aku selalu menonton acaramu di sela-sela kesibukkanku. Aku selalu mendukungmu. Tapi ternyata kau sudah akan kembali ke belakang layar. Hm,…”

“ Ya! Ada apa denganmu? Ya! Jangan pasang ekspresi seperti itu. itu menggelikan.”

Donghae dan aku sering keluar bersama. Kadang kami harus bermain kejar-kejaran dengan paparazzi. Hal apapun yang kami lakukan  sangatlah mengasyikkan. Tapi aku mulai mendapat teguran dari seseorang yang mengaku temannya. Aku tahu itu Eunhyuk. Lagi-lagi dengan nomor Donghae dia menelponku untuk menjauhinya. Aku tak menghiraukannya. Donghae bilang aku harus mengabaikannya.

***

Dua bulan semenjak aku tampil di depan layar, lima bulan semenjak aku bekerja, dan tujuh bulan semenjak aku tiba di Korea. Karena banyak permintaanku untuk menjadi MC tetap di acara itu, aku sekarang memiliki program acaraku sendiri. Bukan di acara itu, tapi benar-benar acaraku sendiri. Aku sudah memiliki sejumlah fans, memiliki jadwal pemotretan, dan ada beberapa produk iklan yang harus aku bintangi. Memang segalanya terjadi secara instant tapi aku tak boleh tergiur dengan segala macam tawaran ini.

Sibuk bukan alasan untuk tidak memantau Eunhyuk. Aku dan Donghae sudah sepakat untuk melancarkan usahaku untuk minta maaf. Kami memang harus bekerja di bawah permukaan. Tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini. Walaupun Donghae dekat dengan Eunhyuk, ia tidak boleh mengatakan apapun tentangku. Donghae juga harus pura-pura tidak mengenalku sebagai Han Ji Min, seorang MC. Tapi ia hanya kenal seorang yeoja yang setahun terakhir jalan dengannya.

Misi pertama adalah membuatku masuk industri hiburan dan  itu sudah berhasil. Misi kedua adalah membuat Eunhyuk semakin membenci yeoja yang selalu bersama Donghae walaupun Eunhyuk belum bertemu dengannya. Dan kata Donghae, Eunhyuk sudah melarangnya berpacaran. Artinya misi kedua berhasil. Misi ketiga adalah membuat Eunhyuk mengenaliku yang sebenarnya. Ia harus tahu kalau aku adalah Han Ji Min dari masa lalunya dan aku adalah yeojachingunya Donghae. Misi keempat yang terakhir adalah membuat Eunhyuk mau menerimaku dengan tangan terbuka. Aku harus membuatnya iba.

Tapi bagaimana aku akan melaksanakan misi ketiga kalau Donghae sibuk dengan come backnya Super Junior pada 6jib-nya. Selain itu dia juga sedang syuting drama. Ia rutin menghubungiku. Dia bilang aku harus bersabar saja. Nanti dia janji akan membantuku, hanya saja dia masih sibuk.

Aku tak boleh berdiam diri lagi, aku harus cepat bertindak. Aku punya rencana lain yang bahkan Donghae tidak mengetahuinya. Hanya satu orang ini yang dapat membantuku sekarang.

Gedung KBS pukul 12.00

Seorang namja turun dari mobil dan dengan ramahnya terus tersenyum sambil melambaikan tangannya pada fans yang berkumpul menunggunya di luar gedung itu, lalu namja itu masuk gedung. Di dalam ia tak lagi dijaga ketat. Aku sudah mengamatinya seminggu terakhir. Sekarang aku tahu kebiasaan dan rute yang ia lalui. Jadi aku bisa mengikutinya. Ia meneruskan langkahnya ke ruang persiapan miliknya. Selain bergabung dalam grup Super Junior, dia juga seorang MC yang handal. Kau tahu siapa dia?

“Leeteuk ssi?” sapaku.

“Ah Ne, annyeonghaseyo.” Ia membalas sapaanku dengan ramah.

“Kau tidak mengenaliku?”

“Aniyo,.. ah aku ingat, kau MC yang punya rating tertinggi sekarang. Chukkaeyo, aku jadi iri padamu.”

“Ah kau ini, kau masih tidak mengenaliku?”

“Mwo? Kau menggunakan bahasa informal padaku?”

“Kita kan sudah kenal jauh sebelum ini.”

“Maaf, sepertinya kau salah orang, aku permisi dulu.”

Kenapa dia nampak kesal padaku? Dia mulai berjalan. Aku menghadangnya lagi.

“Jungsoo Oppa, haruskah aku memanggilmu seperti itu?”

“Siapa sebenarnya kau ini? Semua orang juga tahu namaku Park Jungsoo.”

“Sungai Han, 4 November 2002. Jauh sebelum debut. Kau mengadakan pertunjukkan jalanan bersama Hyukjae dan Xiah Junsu untuk ulang tahun sesorang. Kau masih ingat siapa seseorang itu? Yak! Itu aku.”

Dia mengerutkan keningnya. Ia berpikir keras. Sepuluh tahun itu waktu yang lama. Tapi hal itu hanya ada sekali. Mana bisa ia lupa. Ahjussi ini, kenapa dia sudah pikun? Apa karena dia sudah berumur?

“Ji Min ssi?” katanya ragu. “Aha! Ji Min ah! Kau rupanya.”

“Butuh berapa lama untukmu mengingat semua itu Oppa?”

“Mianhae, itu kan sudah lama sekali.”

“Ah ne.”

“Tapi ada apa? Kau ada perlu denganku?”

“Iya Oppa, apa kau ada waktu? Yang jelas bukan waktu yang singkat. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan.”

“Ini masih jam makan siang. Kajja, kita keluar.”

Oppa? Mana bisa? Kau baru datang. Lagipula fansmu tidak akan bubar sebelum kau pulang acara nanti.”

“Oh iya, aku lupa.”

“Bagaimana kalau besok saat jam makan siang.”

“Baik. Ji Min ah, aku ke ruanganku dulu ya? Jaga dirimu.”

Ne, Oppa.”

Ia berlalu. Yes! Awal rencana berjalan lancar. Tinggal usahaku untuk besok. Mian sebelumnya Oppa, maaf telah memanfaatkanmu. Andai semua kesalahanku yang lalu itu tak ada. Mungkin aku sudah mengenal dekat dirimu juga member Super Junior yang lain.

***

Keesokkan harinya di Kona Beans

Eomma, aku datang,” katanya sambil memeluk ahjumma itu.

“Iya, sayang. Tumben sekali kau datang kemari. Kajja, ada ibu Kyuhyun dan Sungmin ada di dalam.”

“Sebentar Eomma, aku juga bawa teman.”

“Teman? Ah pasti Kangin. Ayo ajak dia juga.”

“Aniyo, eomma. Dia bukan Kangin. Aku perkenalkan dia pada eomma. Kajja.”

Leeteuk Oppa mengajak eommanya ke bangku tempat aku duduk. Eommanya sangat terkejut. Apa dia marah padaku karena aku ke sini bersama anaknya? Leeteuk Oppa juga terlihat takut bila eommanya malah memakiku. Dia sudah antisipasi untuk memegang lengan eommanya erat.

eomma, ini temanku. Han Ji  Min.”

“Annyeonghaseyo ahjumma, naneun Han Ji Min imnida.”

“Kau Han Ji Min yang di TV itukan? Acara With American Style? Omo, mimpi apa semalam, suatu kehormatan bisa bertemu denganmu. Aku adalah fansmu.”

Huft, itu hampir saja. Kukira ia akan marah. Ternyata ia justru mengaku sebagai fans. Ahjumma, gamsahamnida sudah mau jadi fansku.

“Ne, ahjumma. Saya Han Ji Min yang itu. Terimakasih ahjumma sudah jadi fans saya.”

“Sudahlah, kajja. Kita masuk ke dalam saja. Ada ibunya Sungmin dan Kyuhyun. Mereka juga fansmu. Ini akan mengasyikkan.”

Aku sedikit mengobrol dengan para ahjumma itu. Mereka ramah sekali. Mereka menawariku semua menu makanan di sana. Dengan sopan aku menolak, aku dan Oppa mampir hanya untuk bicara. Sekarang Oppa malah masuk dapur. Sepertinya ia memang ingin memegang penggorengan.

“Ji Min ssi, kau harusnya jadi menantuku. Kyuhyun pasti akan terlihat sangat serasi denganmu,” kata eomma Kyuhyun.

“Tidak, Sungmin jauh lebih baik dari anakmu yang nakal itu. Kasihan Ji Min bila terus diduakan dengan game,” sahut eommanya Sungmin.

“Haistt! Bicara apa kalian ini, apa kalian tidak lihat? Dia ke sini bersama Jungsoo. Pasti dia akan menikah dengannya.”

Ahjumma, tidak. Bukan begitu, kami hanya kenal.”

“Jungsoo itu hanya mengajak yeojachingunya ke sini. Bulan lalu ia juga ke sini dengan yeojachingunya. Kau pasti yeojachingunya yang baru.”

Eomma! Apa yang kau katakan padanya? Jangan bicarakan aku yang seperti itu di depannya.”

“Kalau kau seorang playboy?” tambah eommanya Sungmin.

Ahjumma, andwe.”

“Hahahahaha,” semuanya tertawa.

Oppa membawakan aku sepiring penuh daging sapi panggang. Apa dikiranya aku ini kelaparan ya? Para ahjumma kembali ke aktivitasnya melayani tamu. Di ruang ini hanya tinggal kami berdua.

Oppa! Kenapa kau bawakan aku daging sebanyak ini?”

“Kau terlihat kurus, pasti kau sering kelaparan ya?”

Oppa!”

“Iya iya, maaf, nanti aku bantu makan.”

“Aku ingin bertanya sesuatu tentang Hyukjae, Oppa.”

Seketika itu mimik wajah Leeteuk Oppa berubah.

“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menanyakannya lagi.”

“Tapi Oppa, aku harus tahu. Aku ingin minta maaf padanya.”

“Maaf kau bilang? Dia tidak akan memaafkanmu. Aku jamin itu.”

“Kenapa Oppa bilang seperti itu?”

“Aku akan bercerita, dengarkan baik-baik ya. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kau tahu, dia sangat mencintaimu. Jauh sebelum kau mengenalnya.”

***

Leeteuk POV

Ini masa jauh sebelum kami debut. Aku di terima dengan seorang namja lain yang bernama Hyukjae pada tahun yang sama di SME. Aku menjadi sahabat dekatnya juga temannya, Xiah Junsu. Hyukjae adalah orang yang pekerja keras, tapi dia selalu melewati semuanya dengan senyuman.

Suatu hari ia pulang dengan sangat gembira. Ia bilang ia menemukan cinta pertamanya di bus. Konyol memang, tapi aku hanya mengiyakan perkataannya dan terus mendengar ceritanya. Sebagai sunbae yang baik memang inilah tugasku. Apalagi aku dan Hyukjae terpaut usia empat tahun. Semakin hari semakin banyak hal yang ia ceritakan tentang yeoja yang dicintainya itu. Tapi aku sendiri penasaran. Apa Hyukjae tahu nama yeoja itu?

“Ya, Hyukjae ah. Setiap hari kau selalu menceritakan yeojamu itu. Apa kau tahu siapa namanya sebenarnya?”

“Tidak hyung, aku tidak mengetahuinya. Ah, aku selalu lupa. Aku bahkan tak berani mendekatinya.”

“Kau ini payah. Mana bisa kau sebut dirimu itu Lee Hyukjae, kalau berkenalan dengan seorang yeoja saja tidak mampu.”

Dua tahun berlalu. Sama seperti biasanya kami harus berlatih seperti biasanya. Hari ini Hyukjae terlambat. Ia bilang ia tadi sedang membantu yeojanya yang tersesat. Oh ya, beberapa hari yang lalu Hyukjae bilang padaku kalau dia baru saja berkenalan dengan yeojanya itu. namanya Han Ji Min, seorang siswa Geosang High School.

Beberapa bulan setelahnya, Hyukjae meminjam beberapa uang padaku. Ia ingin membelikan hadiah ulang tahun yang istimewa bagi Ji Min. Ia sudah banyak menabung sebenarnya. Selama beberapa minggu terakhir bahkan ia tak mau makan malam untuk mempertahankan uang tabungannya bagi Ji Min. Aku memberinya lima puluh ribu won. Tapi sampai sekarang lima puluh ribu won itu tak pernah kembali padaku. Sungguh menyedihkan.

Bukan hanya sampai di situ, seminggu sebelum hari ulang tahun Ji Min, ia memaksaku dan Junsu untuk mempersembahkan sebuah pertunjukkan jalanan. Akibatnya kami berlatih ekstra selama beberapa hari. Sebenarnya aku sudah menyerah, tapi demi dongsaeng kesayanganku itu aku rela mengorbankan jam istirahatku.

Suatu malam Hyukjae pulang dengan tangis. Ia membawa kembali cincin yang pernah ia berikan pada Ji Min. Ia bilang Ji Min mengakhiri hubungan mereka. Ia sangat terpukul saat itu. Ia mengadu padaku sambil terus menangis.

“Ya! Sudahlah. Yeoja di dunia ini bukan hanya dia.”

“Tapi hyung, dia yang pertama bagiku hyung.”

“Yang pertama bukan berarti yang terakhir.”

Hyung, aku sangat mencintainya.”

“Aku tahu.”

Hyung, aku hanya ingin ia bahagia. Aku berlatih keras agar aku bisa cepat debut, terkenal, dan dapat membahagiakannya. Tapi kenapa ia bahkan tak mau menunggu lebih lama lagi. Aku sangat mencintainya. Aku tak bisa melepaskannya.”

“Apa dia punya namjachingu yang lebih tampan darimu hingga dia memutuskanmu?”

“Bukan, hyung.”

“Apa dia bertemu dengan namja kaya yang bisa membahagiakannya?”

“Bukan, hyung.”

“Apa dia sedang menaksir sunbaenimnya di universitas barunya?”

“Bukan, hyung.”

“Lalu apa? Apa dia takut dengan rambut barumu itu?”

“Bukan, hyung.”

“Pasti itu. Lihatlah sendiri. Rambutmu begitu panjang, bercat pirang, dan terlihat seperti orang suku indian.”

“Bukan, hyung. Ia meninggalkanku hanya karena ia ingin belajar ke Italia.”

“Benarkah? Itu pilihan yang bagus. Kalau aku jadi dia aku akan memilih yang terbaik.”

“Hwaaaaaaaa, hyung. Kau malah membuatku semakin sedih.”

“Maaf maaf, sudah jangan sedih lagi. Cup cup cup.”

Dua hari setelah itu dia tak mau makan, mandi, apalagi keluar kamar. Ia sangat frustasi dan kelihatan seperti orang gila. Tapi salah satu dongsaengku yang lain, Donghae, berusaha menghiburnya. Entah apa yang Donghae katakan, yang jelas Hyukjae sudah kembali seperti sedia kala dan melupakan kesedihannya karena Ji Min.

Akhirnya rencana debut kami sudah di depan mata. Aku, Park Jungsoo, mengubah namaku menjadi Leeteuk. Hyukjae merubah namanya menjadi Eunhyuk si radiant silver yang bersinar. Dia bilang ia akan menjadi Eunhyuk yang bersinar bagi seseorang. Dan aku yakin orang itu adalah Ji Min.

Inilah kami, Super Junior line up pertama. Dengan 12 member siap menggebrak bumi Korea.

***

Leeteuk POV end

Back to Ji Min POV

“Dua belas? Bukankah tiga belas Oppa?”

“Itu saat kami masih 12 member dan punya nama Super Junior 05. Baru tahun 2007 kami menambah 1 member lagi, namanya Cho Kyuhyun.”

“Ah begitu rupanya. Tapi Oppa, benarkah apa yang tadi kau katakan? Seperti itukah Hyukjae mencintaiku?”

“Ya, seperti itulah. Kau ini yang sebenarnya tak tahu diri. Pergi menginggalkannya begitu saja. Dan sekarang muncul begitu saja. Kau bahkan tak tahu betapa ia membutuhkanmu.”

Oppa, jangan salahkan aku. Kau bahkan juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.”

Aku mulai menceritakan apa yang terus aku alami. Bagaimana aku bertemu dengan Hyukjae, bagaimana aku sangat mencintai Hyukjae, bagaimana besarnya harapanku padanya, begaimana ia membuangku begitu saja, bagaimana beratnya aku kehilangan eommaku, bagaimana bimbang aku dengan pilihanku untuk pergi ke Italia, bagaimana aku sampai di Amerika, bagaimana aku kembali ke Korea. Semua aku ceritakan padanya tanpa sedikitpun kata-kata yang tertinggal. Aku mulai sedih teringat itu semua.

Oppa, kau tahu betapa terkejutnya aku saat mengetahui kalau Hyukjae telah menjadi Eunhyuk. Aku sangat terpukul. Aku sangat merasa bersalah. Dan aku hanya ingin minta maaf. Aku tak ingin kesempatan kedua atau apapun itu. Aku hanya ingin minta maaf.”

“Kenapa aku harus membantumu? Bukan urusanku untuk terlibat di antara kalian.”

“Karena kau Jungsoo Oppa yang kukenal sepuluh tahun yang lalu. Karena kau Oppa yang baik pada dongsaengnya. Karena kau yang tahu sejarah kami berdua.”

Mianhae, Ji Min ah. Aku tak bisa berjanji untuk dapat membantumu.”

Waeyo Oppa? Jebalyo, ku mohon bantu aku.”

“Itu akan sulit. Sebentar lagi masa wamilku akan datang. Tapi baiklah akan kucoba.”

“Terima kasih, Oppa.”

“Tapi ingat satu hal, aku hanya punya satu kesempatan. Itu juga sebelum aku berangkat wamil.”

Ne, aku mengerti.”

***

Dorm Suju

Ting tong ting tong…

Aku sudah memencet bel beberapa kali tapi masih tak ada sedikitpun respon. Mungkin juga aku datang terlalu pagi, mereka mungkin belum bangun. Aku tahu jadwal mereka pasti sangat padat hingga mereka tidur larut malam. Mereka pasti lelah, kasihan sekali. Andai saja ada hal yang bisa aku lakukan untuk membantu. Apa saja aku akan melakukannya. Sementara ini cukup makanan untuk sarapan yang bisa aku bawakan untuk mereka.

Aku sudah sepuluh menit berdiri di sini. Tak terasa aku mulai enggan memencet bel, aku takut bila mengusik ketenangan mereka. Lebih baik aku tunggu sampai seseorang membukakan pintunya.

Setengah jam berlalu,

Krreeeeekkkk…..

Akhirnya pintu dorm itu terbuka juga. Yesung ssi yang membukanya. Ia terkejut begitu melihatku sudah berdiri tegak di depan pintu. Ia menutup kembali pintu itu. Lalu ia membukanya lagi dengan wajahnya yang lebih segar dari yang pertama tadi.

“Annyeonghaseyo, Yesung ssi.”

“Ne, annyeong. Han Ji Min ssi?”

“Ne, Han Ji Min imnida. Boleh aku masuk? Aku bawa sesuatu untuk kalian.”

“Apa ini acara TV-mu?”

“Ah, aniyo.”

Yesung ssi membawaku ke ruang makan, sepertinya ia tahu kalau aku sedang membawa makanan. Ia mempersilahkanku duduk, ia sendiri sepertinya sibuk mempersiapkan piring dan alat makan lainnya.

“Ji Min ssi, apa tadi kau sudah lama berdiri di sana?”

“Lumayan, kalau aku tidak salah kira-kira sekitar empat puluh menit.”

“Mwo? Empat puluh menit? Itu lama sekali, dan apa dari tadi kau hanya berdiri? Mianhae, jeongmal mianhae. Kalau begitu jadinya aku harusnya bangun lebih awal agar dapat membukakan pintu.”

“Ah tak apa, aku tak tega membangunkan kalian. Tadi sebenarnya aku sudah memencet bel, tapi tak ada yang meresponnya”

“Ji Min ssi, kalau aku jadi kau pasti aku sudah mendobrak pintu dorm ini. Tapi terimakasih atas makanan ini.”

“Hm, sejujurnya aku ingin menemui Lee….” Yesung ssi menaikkan alisnya sambil menunggu jawabanku.

“Lee….” Aku tak mungkin menyebutkan namanya.

“Lee Sungmin kah? Lee Donghae?”

Aku menelan ludahku. Lee Hyukjae, apakah aku mampu menyebut namanya? Ah, Donghae ya, dimana kau? Tolong aku.

“Leeteuk? Atau Lee Hyuk..”

“Ya! Ji Min ah, kau sudah lama menunggu. Tadi kau tidak menghubungiku? Sebentar aku mandi dulu,” sahut Donghae tiba-tiba.

Yesung ssi sedang tercengang melihat apa yang sedang terjadi. Dengan mulut yang terbuka lebar dan membentuk huruf O besar di sana, juga mata yang tak berkedip sama sekali. Sepertinya otaknya masih memproses yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu Donghae yang pamit ke kamar mandi, berbalik, dan mendaratkan ciuman lembut di pipiku. Aku sendiri terkejut tapi aku harus bisa mengendalikan diri sebagai aktris yang profesional. Aku harus ingat kalau ini hanya sandiwara kami saja. Hanya untuk meyakinkan Hyukjae kalau kami ini sedang berpacaran. Pabonya Donghae, sekarang kan tidak ada Hyukjae?

“Selamat pagi, chagi. Ini ciuman selamat pagi. Nanti siang, kita…” Donghae bertingkah sok mesra dan sedang melingkarkan tangannya di pinggangku.

Arra, saranghae Donghae ya,” aku mencoba menatap matanya dengan penuh arti.

Yesung ssi yang sedang menyaksikan adegan romantis itu hanya bisa geleng-geleng. Dia pasti tidak mengira kalau seorang Donghae dan seorang Han Ji Min berpacaran. Kini aku melihat ke arahnya. Dia salah tingkah dan celingukan tidak jelas. Lalu ia pura-pura menjatuhkan sendoknya, dan mengambilnya di kolong meja. Aku dan Donghae hanya tersenyum simpul saja. Aku mendorong Donghae ke kamar mandi.

“Donghae ya, cepat mandi. Lalu kita keluar.”

“Ne, chagiya.”

Tapi tiba-tiba Donghae terpaku dan menatap lurus ke arahku. Ia memberi isyarat agar aku menoleh ke belakang. Aku berbalik. Kulihat Hyukjae sudah berdiri di sana dengan mata penuh amarah.

Chagi?” panggil Donghae.

“Ne.” jawabku.

“Aku rasa aku harus mandi dulu.”

“Arraseo.”

“Aku mencintaimu.”

Nado.”

Aku menjawabnya sambil mataku masih terkunci pada sosok Hyukjae. Wajahnya lebih kurus sekarang. Setidaknya aku bisa melihatnya dalam jarak yang cukup dekat. Dia semakin mendelik kesal padaku. Aku hanya dapat menatapnya nanar. Ia pun berlalu. Ia keluar dari dorm dan menutup kembali pintu dengan kasar.

“Wae?”

“Ne?”

“Wae? Apa ada yang salah? Kenapa dia marah begitu melihatmu?”

“Mollayo, Yesung ssi.”

– To Be Continued –

3 comments on “[Freelance] Did You Remember? – Part 3

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s