[Freelance] Don’t Stop

Don't Stop by ACE

Title : Don’t Stop

Author : ACE RYE

Genre : Romance, fluff.

Length : Vignette 1500+

Rated : Teen

Main Cast : Kim Jongin (EXO) | Park Hyeya (OC)

Disclaimer : Cerita dan alur milik saya. Silahkan nikmati. Just don’t be PLAGIARISM.

Summary : Karena sekeras dan secepat apapun ia berusaha meninggalkannya. Maka sebanyak itu pula seorang Park Hyeya akan kembali. Menuju tempat segala kekuatan yang menguatkannya berdiri.

 – posted by Chenhye 110913 –

|

|

 

Gadis itu berkali-kali mengusap air mata dan peluh yang mengalir deras dipelipisnya. Handuknya sudah basah, dan ia tak peduli dengan tubuhnya yang terasa lengket, membuatnya tak nyaman, tapi perasaan buruk lebih mendominasi dirinya hingga membuat gadis dengan rambut dikuncir asal itu tak mau tahu lagi dengan kondisi tubuhnya. Ia hanya mendekap lutut dan menangis sesegukan.

” Sudahlah. Kita bisa berlatih sekali lagi. ” lelaki lain yang duduk di sampingnya kali ini hanya bisa bersandar di tembok dingin pemisah punggung mereka dengan ruang sebelah. Ia sudah duduk di sana setengah jam yang lalu sejak gadis tadi keluar dari ruangan dan menangis sejadi-jadinya.

” Aku tidak mau. Aku akan berhenti. Dan aku mau pulang sekarang. ” gadis itu menyeka kasar air mata yang menganak dipelupuk matanya, sudah bosan dengan dirinya sendiri yang tak berhenti menangis. Ia menarik tas dan handuknya sebelum beranjak. Tapi tangan lain lebih dulu menahan pundak gadis itu, memaksanya tetap duduk.

” Masalahmu tak akan selesai kalau kau kabur. ” kata lelaki itu yang segera mendapat tatapan mencela dari sang gadis. ” Setidaknya aku tidak perlu menambah masalah lain dan membuat diriku sendiri semakin buruk. Jadi biarkan aku pergi sekarang. Aku lelah. ” cecar gadis itu cepat.

” Tidak ada yang bisa meninggalkanku sebelum aku selesai bicara. ” kali ini lelaki itu lebih tegas, ia merebut tas gadis itu lalu melemparkannya sembarangan ke sudut lain, gadis tadi sempat tertegun bagaimana bisa lelaki menyebalkan ini melempar tasnya begitu jauh sedang deru nafasnya jelas menunjukkan kalau lelaki itu sudah kelelahan luar biasa.

Gadis itu buru-buru sadar, untuk apa ia menuruti lelaki ini. ” Omong kosong. Aku bukan anak buahmu lagi. “

” Kukatakan berhenti. Maka kau harus berhenti. Kukatakan kau tak boleh kemanapun, maka tak ada yang bisa membawamu pergi. Dengarkan itu Park Hyeya! ” Jongin menaikan nada bicaranya. Anak ini sedang berada dipuncak emosi dan cara lembut bukanlah jalannya.

” Tapi aku sudah bilang aku akan berhenti besok. Kau dengar tak ada yang bisa diandalkan dariku. Mereka semua mengakui itu. Jadi cari saja orang lain. Dan lupakan kalau aku akan tetap bertahan. ” Hyeya sekali lagi harus menahan kuat-kuat tangisnya agar tidak pecah. Ia menghela nafas keras, ia akan berdiri tapi sekali lagi Jongin menarik tubuhnya untuk tetap duduk dan kali ini Jongin mengeratkan tangannya dipergelangan tangan Hyeya.

” Kau dengar! Aku belum selesai bicara! ” suara Jongin meninggi. Ia marah dan Hyeya terhenyak, sadar kalau Jongin sudah membentaknya. Gadis itu bungkam. Bukan karena ia takut. Ia sudah terlalu muak dengan hari ini. Harus berapa orang lagi yang ia biarkan membentak dirinya agar ia bisa menjauh dari tempat ini.

 

Hening.

 

Sejenak tak ada suara diantara mereka, walau hanya bertahan sekian detik, karena Hyeya sudah membuang pandangannya kearah lain dan sekali lagi ia menangis tanpa suara. Tubuhnya kelelahan hingga ia bersandar membelakangi Jongin yang tak tahu harus memulai darimana. Jongin merasa bersalah sudah membentak gadis itu. Hyeya kelelahan, dan Jongin membuatnya semakin parah.

Hyeya merasa sesuatu bertumpu di punggungnya. Ia tahu itu kepala Jongin. ” Hyeya-ah. ” panggil Jongin lembut. Hyeya enggan menyahut tapi helaan nafasnya bisa Jongin rasakan dengan jelas. Gadis itu bernafas satu-satu, mungkin ia sedang mengatasi airmatanya.

Beberapa saat gadis itu menarik nafas panjang sebelum bergerak perlahan ingin berbalik, ia tak mau juga membiarkan dirinya terlalu lama membelakangi seseorang, itu tidak sopan kata ibunya. Tapi tangan Jongin menahan bahu gadis itu lebih dulu. Ia masih ingin menumpukan kepalanya di punggung Hyeya. Tak peduli kaos abu-abu gadis itu sudah basah, tak peduli ia terantuk tulang punggungnya. Tidak, selama Jongin bisa merasakan gadis itu bernafas dengan wajar. Ia ingin merasakannya lebih lama.

” Maafkan aku. ” gumam Jongin akhirnya.

Hyeya menegang, lagi-lagi Jongin bisa merasakan itu dan kali ini ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.

” Bisakah kau tidak menyerah sekarang? “

Tak ada jawaban. Jongin menarik kepalanya tapi sekarang lengan lelaki itu menarik bahu Hyeya mendekat. Tubuh gadis itu terlalu lemah hingga ia diam saja saat sekali lagi Jongin menempelkan keningnya di belakang kepala Hyeya, melingkarkan lengannya disekitar bahu gadis itu. Memeluknya dengan hati-hati. Dan Hyeya bisa mencium wangi kayu manis menyelimuti tubuhnya.

” Maaf sudah membentakmu, kau tahu bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau kuat dan bertahan lebih keras lagi. Ini bukan dirimu. ” Jongin berucap pelan di telinga Hyeya. Gadis itu sudah terbiasa, dan kali ini ia memilih bersikap egois, duduk diam tanpa memberikan respon lebih. Ia ingin Jongin bicara lebih banyak. Memberinya alasan kuat kenapa ia harus tetap tinggal dan menuruti lelaki itu.

” Karena kau sudah berjanji akan percaya padaku apapun yang terjadi. Jadi kalau kau tak bisa bertahan dengan aturan kelompok, kau ingat kita masih punya peraturan ‘kita’ sendiri, Park Hyeya. “ jelas Jongin seakan ia bisa mendengar isi kepala Hyeya hanya dengan keningnya yang menyatu dengan belakang kepala gadis itu.

Hyeya tercekat, ia ingat bagian ini, tapi tak menyangka kalau Jongin akan menggunakan caranya sendiri untuk menenangkan sang gadis keras kepala. Hyeya pikir membiarkannya keluar dari tempat ini akan terlihat lebih mudah. Mereka tak perlu terlalu sering bertengkar. Tapi Jongin tak akan setuju dengan pikirannya kali ini.

” Dan kalau kau berpikir aku egois karena memaksamu, sungguh, aku hanya ingin kau bisa menikmati kerja kerasmu nanti. Bukan hanya kerja kerasku sendiri yang ingin kubanggakan. Kau juga sudah berjanji akan berbagi denganku. Kenapa sekarang malah mau pergi seperti ini? Kau mau meninggalkanku di sini berkeringat setiap hari sendirian eo? “

Hyeya nyaris tergelak mendengar kalimat terakhir Jongin tadi, lelaki ini sekali lagi membuatnya harus membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Dirinya memang gadis yang tak akan pernah bisa membuat tembok pertahanan diri lebih lama saat menghadapi Kim Jongin. Karena sebelum mengaku kalah pun, ia sudah mengalah lebih dulu.

Kali ini Hyeya memutar tubuhnya menghadap Jongin, Hyeya bisa melihat lingkaran hitam disekitar mata lelaki itu, bibirnya sedikit pucat dan poninya yang basah karena keringat menempel dikeningnya. Ohh lihat siapa kekasih dari lelaki tampan yang tak bisa merawat dirinya ini.

” Issh. Kim Jongin kenapa kau harus terlihat dekil seperti ini huhh? Kau tahu, kau bisa membuat orang-orang berpikir kalau pacarmu tidak merawat kekasihnya dengan baik. Hih. ” Hyeya mengusap keringat dikening Jongin dengan tangannya, merapikan rambut-rambut basah lelaki itu, dan tentu Jongin akan bersikap lebih kekanakan lagi.

” Kau yang membuatku seperti ini tahu. Menghadapi gadis yang menangis setiap pulang latihan, kakiku juga sakit karena harus melatihmu lebih lama. Jadi bisakah kau berhenti mengeluh dan bekerja lebih keras lagi. Itu akan membuat pekerjaanku lebih mudah, dan kita tidak perlu menghabiskan waktu ditempat terkutuk ini. Masih banyak tempat makan yang harus kita perdebatkan. ” rajuk Jongin  berhasil membuat Hyeya tak mampu lagi menahan tawanya.

 

Lihatlah Hyeya betapa mudahnya kau untuk lelaki ini. Kemana keegoisan setinggi tower Namsanmu tadi? Kemana keputusan yang sudah kau gembok dan kuncinya kau tenggelamkan kedasar laut itu?

Bagaimana bisa seorang Kim Jongin hanya perlu menunjukkan wajah penuh ibanya dan kau luluh begitu saja?

Kau pasti sudah gila Park Hyeya!

 

” Jadi, kau berjanji akan bertahan denganku di sini? ” tanya Jongin dengan jari kelingking menggantung. Hyeya menyambutnya dengan anggukan setuju dan tautan kelingking mereka yang menyatu.

” Tidak akan menyerah dan bersedia menambah jam berlatih kita 2 jam lebih lama tanpa mengeluh. ” Hyeya menguncang tautan jari kelingking mereka sekali lagi tanda ia kembali menyetujuinya

” Kau percaya padaku? ” kali ini Jongin menatap Hyeya tepat dimata gadis itu, mencari kepastian dari pertanyaan sendiri. Hyeya tak langsung menjawab. Ia meneliti wajah tamppan Jongin lebih lama, senang karena mata itu masih tertuju padanya. Dan seluruh beban Jongin seakan meluap saat gadis itu mengangguk yakin dengan senyum simpulnya.

Setelah itu Jongin langsung menaruh kedua tangannya di sisi kepala Hyeya, meremas pelan sisi wajah Hyeya seperti yang biasa ia lakukan kalau Hyeya mengabulkan permintaannya yang hanya dibalas dengan tatapan you-got-it-boy dari sang gadis. Kim Jongin tersenyum puas.

” Bagus! Kalau begitu bisa aku mendapatkan dua porsi bulgogiku sekarang. Menunggumu satu jam di sini membuatku nyaris mati kelaparan. ” kata Jongin lagi. Hyeya buru-buru mengangguk. Ia juga lapar. Tangan kanannya sudah bersiap menarik lengan Jongin untuk berdiri sedang tangan lainnya berusaha menggapai sesuatu. Tapi Hyeya tak menemukan apapun disebelah kirinya.

 

Tunggu…

 

” Jongin bodoh kau sudah melempar tasku! Cepat kembalikan! Ya Tuhan, ponselku. Awas kalau layar ponselku retak lagi! Kenapa sih kau harus punya kebiasaan menjengkelkan seperti itu huhh? ” Hyeya mengomel setengah berteriak tepat ditelinga Jongin. Lelaki itu meringis, ia tahu kalau sampai Hyeya mengulang perintah dengan cara mengerikan seperti ini, maka Jongin terancam akan berjalan tanpa menumpukkan lengannya dimanapun. Ia sudah kelelahan dan ia harus berjalan merangkul Hyeya kalau masih mau sampai di restoran langganannya.

” Iya. Iya. Aku akan mengambil tasmu. Jangan mengomel lagi. Oke. Lagipula bagus kalau ponselmu rusak. Oh Sehun pucat itu tak akan bisa menghubungimu lagi. ” dengus Jongin sebelum ia menyeret paksa kakinya menuju sudut lorong tempatnya melemparkan tas Hyeya tadi. Jongin harus merutuki dirinya karena masih punya tenaga melemparkan tas itu begitu jauh.

” Hih. Memangnya siapa yang akan uring-uringan kalau pesannya terlambat kubalas huh? ” cibir Hyeya yang hanya ia dengar sendiri. Ia berencana berjalan lebih dulu membiarkan Jongin menyusul tapi sekali lagi langkahnya terhenti karena rengekan sekarat di belakangnya.

 

” Sayang, aku tidak bisa membawa tasmu lagi! Perutku lapar, tanganku sakit dan kakiku—– “

 

Huhh~

Oke.

Akhirnya pun Hyeya akan memutar tubuhnya menghampiri lelaki dengan wajah memelasnya itu. Karena sekeras dan secepat apapun ia berusaha meninggalkannya. Maka sebanyak itu pula seorang Park Hyeya akan kembali. Menuju tempat segala kekuatan yang menguatkannya berdiri. Menuju tempat dimana segala keyakinan dan kepercayaannya menyatu, membuat seorang Park Hyeya mampu berdiri. Mengambil langkah menuju arah yang sama.

 

Kembali pada Kim Jongin.

 

” Sayang jangan dihemp—- YA! KIM JONGIN KAU MENGHANCURKAN PONSELKU! “

 

|

|

 

ACE RYE

3 comments on “[Freelance] Don’t Stop

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s