[Freelance] Count The Time

jongwoon kim

Count The Time

Author: Ellyn / @hellollyn

Cast: Kim Jongwoon

Genre: Romance

Length: One Shot

Rating: PG-15

Enjoy reading!! ^^ tinggalkan “cuap-cuap” kalian ya hehe also publish on my own blog www.hellollyn.wordpress.com thanks!

 – posted by Chenhye 030913 –

Gadis itu membuka pintu apartemennya dengan sedikit kasar, mengindahkan panggilan sayang yang tertuju pada dirinya. Melepas heels yang ia kenakan dan meletakkannya sembarang tempat dan berjalan masuk tanpa memperdulikan seseorang yang sedari tadi mengekorinya.

“Alena…” suara laki-laki itu terdengar putus asa.

Masih mengacuhkan panggilan laki-laki yang setahun belakangan telah berhasil menguasai seluruh hati dan pikirannya, gadis bermata hijau hazel itu menyentak pintu kamar dengan kasar dan menghilang di balik pintunya.

“Alena… sayang, kau benar-benar tidak ingin berbicara padaku? Apa kau tidak merindukanku? Kita baru saja bertemu sejak kau pergi ke Busan,” berusaha menciptakan pembicaraan dengan gadisnya laki-laki itu masih mencoba mengetuk pintu kamar gadis itu.

“Kau benar-benar tidak ingin bicara denganku?” lirih laki-laki yang kini tengah menyandarkan sebelah bahunya pada pintu kamar yang sedari tadi tidak bergeming.

“Alena…”

“Baiklah. Kau sepertinya tidak ingin bertemu denganku, istirahatlah, kau pasti lelah,” dengan berat hati laki-laki itu menyeret langkahnya menuju pintu apartemen. Sepertinya kedatangannya kesini bukanlah suatu hal yang tepat. Meskipun pada awalnya ia ingin menjelaskan apa yang terjadi, namun melihat sambutan sang gadis yang nampaknya tidak bersahabat membuat ia harus menunda keinginannya.

Tepat saat ia menyentuh knop pintu dan bergerak untuk membukanya, seseorang menubruk punggungnya dan detik berikutnya ia sudah melihat sepasang lengan melingkari tubuhnya.

Nappeun!” ujar Alena nyaris seperti bisikan, namun ia yakin laki-laki itu bisa mendengarnya.

Senyum kecil terukir pada wajah laki-laki berusia 29 tahun itu.

“Kim Jongwoon… nappeun!” gadis itu masih merutuki laki-laki yang kini tengah dipeluknya.

Laki-laki bernama Kim Jongwoon itu membalikkan tubuhnya guna melihat wajah sang gadis yang sangat ia rindukan. Tidak melihat eksistensi gadis ini selama dua minggu saja sudah cukup membuatnya nyaris melupakan bagaimana memberikan asupan oksigen pada paru-parunya, lalu bagaimana jika satu bulan tidak bisa bertemu dan berkomunikasi dengannya? Apa dia sanggup?

“Hei, kau tahu… kau satu-satunya gadis di dunia ini yang terlihat jelek ketika menangis, jadi berhentilah menangis,” Jongwoon menyapukan ibu jarinya pada pipi gadis di hadapannya.

“Aarrgghh!”

Pabo!” gadis itu masih terkejut dengan berita yang ada dan bahkan ia tidak bisa berhenti menangis sejak dua hari yang lalu setelah ia mendapatkan berita yang mengejutkannya juga mengejutkan seluruh fans dari boyband dimana sang kekasih bernaung. Tetapi dengan santainya laki-laki yang setahun belakangan ini berstatus sebagai kekasihnya menebar cengiran lebar dihadapannya saat mereka bertemu di basement tadi. Tidak tahukah ia kalau saja jantung gadis itu nyaris berhenti berdetak dengan pemberitaan yang ada.

“Aish! Yak! Alena Kim! Kau… beraninya kau menginjak kakiku, kau kira itu tidak sakit?!” keluh Jongwoon sambil mengusap kaki kirinya yang dengan brutalnya diinjak oleh Alena. Gadis itu segera berbalik dan meninggalkan laki-laki yang masih meratapi kakinya yang diinjak oleh sang gadis.

 

 

Gadis itu kini duduk menatap layar televisi tanpa minat. Memindahkan saluran melalui remote control dengan gusar tanpa menghiraukan Jongwoon yang kini tengah duduk di sampingnya.

“Kau tidak kasihan dengan benda itu? Dia bahkan tidak tahu salahnya dimana tapi kau melimpahkan rasa kesalmu padanya,” dengan santai Jongwoon merebahkan kepalanya di pangkuan Alena membuat gadis itu berjengit.

Ya! Menyingkir dari tubuhku!” perintah Alena dalam nada tinggi. Amarah gadis itu masih belum hilang sepenuhnya.

Aigooo, Nona Kim wajahmu lucu jika sedang kesal seperti itu,” Jongwoon dengan gemas mengacak wambut Alena membuat gadis itu membelalakkan matanya. Tidak tahukah laki-laki ini jika ia sedang marah padanya?

Yak! Kim Jongwoon!” gadis itu berteriak kesal dan baru saja akan bangkit dari tempatnya jika saja Jongwoon tidak memeluk pinggangnya.

“Kau mau kemana? Aku lelah, bisakah tetap seperti ini?” laki-laki itu dengan sengaja membenamkan wajahnya pada perut sang gadis membuat gadis itu menahan nafasnya untuk sepersekian detik. Laki-laki ini kenapa senang sekali membuat jantungnya nyaris terloncat keluar?

Dalam waktu sepuluh menit mereka berdua bertahan dalam diam. Hanyut dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya Jongwoon tidak tahan untuk tidak bicara.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” ujar laki-laki itu kini menatap wajah sang gadis, masih dalam posisinya.

Alena menatap Jongwoon yang masih betah merebahkan kepalanya di pangkuannya. Menghela nafas lelah, akhirnya gadis itu membuka mulutnya.

Why you did this so sudden? Why you didn’t tell me? Aku bahkan mengetahuinya dari beberapa fan page,” keluh gadis itu dengan senyum pahit.

Membiarkan gadis itu melanjutkan kalimatnya, Jongwoon hanya diam menatap sang gadis, hal yang tidak akan pernah bosan ia lakukan.

“Apa ini hal yang tepat? Bukankah minggu depan kalian harus terbang ke Amerika Selatan? Kau tidak tahu bagaiman perasaan Clouds diluar sana? Mengapa kau ingin melakukannya diam-diam, Oppa?” berondongan pertanyaan yang Alena ajukan mendadak berhenti bersamaan dengan butiran bening yang menetes dari sudut matanya.

Jongwoon menghapus air mata Alena dengan ibu jarinya sebelum ia memutuskan untuk bangun dari posisinya. Meraih tubuh sang gadis dalam dekapan protektifnya. “Kau tahu, Nona Kim! Aku benar-benar sangat merindukanmu,” ujar Jongwoon mengacuhkan segala ucapan sang gadis. “I almost forgot how to take a breath since you were in Busan for two weeks, and you are right, aku memang tidak bisa terlalu jauh dari sosokmu,”

Suara isakan kecil terdengar dari bibir Alena. “Keputusan ini sudah kami bicarakan sejak lama, aku ingin menyelesaikan tugasku dengan cepat dan aku bisa kembali bergabung dengan para member lebih cepat. Bukankah lebih cepat aku melakukannya lebih baik?”

“Tetapi kenapa kau ingin melakukannya secara diam-diam? Apa kau tidak ingin Clouds memberikan dukungan untukmu?” Alena sudah bisa mengontrol emosinya. Kini ia sudah nampak lebih tenang.

“Kau tahu betapa aku mencintai para fansku, Clouds juga ELF? Aku bahkan tidak tega melihat mereka menangis demi aku, mereka sudah cukup banyak kami repotkan, terlalu banyak perhatian dan kebahagiaan yang mereka berikan dan aku tidak ingin melihat mereka menangis, karena saat itu aku juga tidak mungkin bisa menahan diriku untuk tidak menangis. Aku tidak ingin terlihat lemah, aku ingin saat tiba saatnya aku menjalankan tugasku sebagai warga negara aku memulainya dengan rasa tegar dan bangga,”

And what about me? Apa kau tidak ingin mengatakan padaku terlebih dulu?”

Jongwoon tersenyum. Ia tahu terkadang gadis itu akan bersikap sedikit egois demi kepentingan dirinya, dan ia menyukai kenyataan itu. Itu berarti gadis itu benar-benar menganggap dirinya spesial.

“Aku ingin memberitahumu, Alena. Sungguh. Tetapi pihak manajemen lebih dulu mengumumkannya dan aku terlalu sibuk menjawab berbagai macam pertanyaan terkait dengan jadwal pendaftaranku sehingga aku lupa untuk memberitahumu, kau mengerti, kan?”

Kembali menghela nafas, Alena mengeratkan pelukannya pada tubuh kekasihnya.

“Jongwoon Oppa~,” panggilan lirih Alena membuat kedua sudut bibir Jongwoon terangkat.

“Eumm?”

“Apa kau setega itu meninggalkanku?” rengekkan Alena nyaris membuat Jongwoon tertawa. Sejak kapan gadis itu bersikap manis di depannya.

Jongwoon melepaskan pelukannya dan memperbaiki posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Alena.

“Dengar, aku hanya akan menjalankan pelatihan selama satu bulan. Memang selama itu aku tidak bisa menghubungi dan dihubungi siapa pun, tapi setelah itu aku bisa kembali bertemu denganmu. Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu, aku hanya akan menjalankan public service seperti yang dilakukan Heechul Hyung, itu berarti aku tidak akan berada di camp seperti yang dilakukan oleh Kangin karena aku masih bisa pulang setiap hari dan kita masih bisa bertemu,” Jongwoon menjelaskannya semua yang sejak tadi menjadi tujuannya mengunjungi gadis itu.

“Benarkah?” dalam hitungan detik sepasang mata hijau hazel itu berbinar, berbeda 180 derajat seperti pada lima belas menit terakhir.

Jongwoon terkekeh melihat reaksi gadisnya hingga dengan gemas mencubit pipi chubby Alena. “Eo, kau senang?”

“Sangat. Sangat senang, tapi… kau tetap akan meninggalkanku selama satu bulan,” Alena mencebikkan bibirnya membuat Jongwoon tidak tahan untuk tidak mendaratkan kecupan di bibir tipis gadis itu.

“Jangan memasang wajah seperti itu lagi, atau aku akan melumat bibirmu. Ara?” ujar laki-laki itu ketika ia telah melepaskan pautan bibir mereka membuat Alena hanya bisa membeku ditempatnya dengan semburat merah dipipinya.

“Kau tahu bagaimana aku sangat merindukanmu selama aku di Busan? Tapi aku masih beruntung karena masih bisa menghubungimu, masih bisa mendengarkan suaramu meskipun hanya lewat telpon, tapi ketika kau mulai memasuki camp nanti?” Alena kembali merubah ekspresinya.

“Kau juga sangat mengerti betapa aku sangat membutuhkanmu sama seperti kau membutuhkanku? Anggap saja aku sedang melakukan promo album K.R.Y di Jepang, seperti beberapa bulan yang lalu,”

“Tapi saat itu tidak selama itu, dan kau masih bisa menghubungiku,”

“Astaga, Nona Kim. Sebesar itukah perasaanmu sehingga kau tidak ingin aku meninggalkanmu, hm? I don’t even realize it,” mau tidak mau perasaan bahagia menyusup dalam hati Jongwoon saat ini. Siapa yang tidak bahagia jika kehadiranmu sangat diharapkan oleh orang yang kau sayangi?

“Aku tidak perduli jika kau ingin menertawakanku, tertawalah sepuasnya, aku tidak akan marah, tapi tidak bisakah kau tetap tinggal?”

Jongwoon mencium puncak kepala Alena. “Dan mengabaikan kewajibanku sebagai warga negara Korea Selatan? Tidak mungkin, sayang. Percayalah padaku, sebulan itu bukanlah waktu yang lama, kita pasti bisa melewatinya,”

Alena menundukkan kepalanya. Jongwoon benar, ia tidak mungkin mengabaikan kewajibannya sebagai warga negara karena seluruh laki-laki di negaranya pasti melakukan wajib militer dan kekasihnya itu juga harus menjalankannya.

Jongwoon mengangkat wajah Alena agar dapat menatap mata hijau hazel gadis berkebangsaan Korea – Inggris itu. Mata yang pastinya akan sangat ia rindukan selama ia menjalani masa pelatihannya.

Menit berikutnya Jongwoon berhasil memapas jarak diantara mereka, menangkup wajah Alena dengan kedua tangannya ia mendaratkan bibirnya tepat pada bibir tipis gadis itu. Mengecupnya perlahan, melampiaskan segala rasa rindunya karena tidak melihat gadis itu selama dua minggu.

Alena mengalungkan lengannya pada leher Jongwoon tepat saat Jongwoon memperdalam ciumannya, melumat bibir gadis itu lebih dalam dan melupakan fakta bahwa mereka butuh bernafas. Terkekeh pelan saat ia mendapati tangan Alena memukul-mukul dadanya, memintanya agar menghentikan aktifitasnya.

Pabo! Kau ingin membunuhku, huh?!”

 

***

 

Do you want to promise me for not going anywhere?” Alena kembali menegakkan kepalanya dari bantal tidurnya.

“Aku berjanji kau masih akan melihatku disini ketika kau bangun besok pagi,” ujar Jongwoon yang masih setia menempeli tubuh gadisnya.

“Baiklah,” gadis itu kembali beringsut menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan Jongwoon. Menghirup aroma laki-laki itu sebanyak-banyaknya menikmati setiap waktu yang tersisa sebelum laki-laki itu benar-benar menjalankan tugas wajib militernya.

Sedikit menyesali keputusan untuk menghadiri peluncuran novelnya di Busan dua minggu lalu. Kalau saja ia tidak menghadiri acara tersebut ia yakin ia pasti memiliki banyak waktu tersisa sebelum melepas kepergian kekasihnya.

Oppa?

“Eum?”

“Apa kau benar-benar tidak boleh menggunakan telepon selama di camp?”

“Eum. Itu sudah menjadi peraturan, sayang,”

Gadis itu menghela nafas dan kembali berusaha memejamkan matanya.

Oppa…

“Mwoya?” Jongwoon mulai sedikit kesal dengan gadis di hadapannya. Sudah tiga puluh menit ia menunggui gadis itu untuk sekedar memejamkan mata, namun gadis itu masih belum mau memejamkan matanya. Ia terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah pasti sama.

“Apa aku sama sekali tidak bisa melihat keadaanmu selama di camp meskipun hanya sekali?”

“Kalau itu kau tenang saja, dapat kupastikan akan banyak fotoku dengan seragam militer bertebaran setelah aku benar-benar memasuki camp,” Jongwoon terkekeh.

“Baiklah, setidaknya aku masih bisa melihat wajahmu dan matamu yang sipit itu,”

“Eisshh, kau ini benar-benar! Tidak bisakah kau segera memejamkan matamu?”

“Setidaknya nyanyikan aku sebuah lagu agar aku tertidur. Untuk apa kau memiliki suara yang bagus tapi kau tidak pernah menyanyikan lullaby untuk kekasihmu?”

“Cerewet! Baiklah, baiklah… tapi kau harus segera tidur setelah itu, ara?

“Eum,”

 

neoege haji motan maldeuri nun gameumyeon jakku tteoolla

gieogeul dameunchaero meomchwodun naui sarang, neoreul saenggakhae

gyeote dugo banghwanghaetdeon naldeureul huhoehago isseo

naui jinsimi deulliji anni

 

neoreul gidaryeo sesangi kkeutnal ttaekkaji

neol gidaryeo unmyeongi mageul geu sungankkaji

ijen naega neoege modu jul su inneunde

naegero dagaol su eomni sojunghan nae saram

 

hamkke han gieokdeureul jiugo amu ildo eopdeon geotcheoreom

moreunda mareul haedo gaseumi neoreul meonjeo arabojanha

neowa bonaen sigandeuri neomaneul gidarigo isseo

majimak sarang neo hanainde

 

neoreul gidaryeo sesangi kkeutnal ttaekkaji

neol gidaryeo unmyeongi mageul geu sungankkaji

ijen naega neoege modu jul su inneunde

naegero dagaol su eomni sojunghan nae saram

 

hollo ijeul sudo bakkul sudo eomneun i sarang

neoui binjarie nameun honjatmal

naui gyeote itdeon neoui soneul japji motan geotcheoreom

dasin neoreul nochi anheul tenikkan

 

bogo sipeotdeon, bogo sipeotdeon maeumi neomu keojyeoseo

neoreul hyanghan balgeoreum neuryeo jigo itjiman

cheoeum mannan geotcheoreom neoreul saranghal geoya

meomchwoitdeon naui gaseume huhoe eomneun sarangeul…

 

 

Words I couldn’t tell you,

When I close my eyes, they will emerge again

Stop reminiscing my memories

My love, I think of you

I regret the days when I wandered with you staying by my side

Can’t you listen to my sincere heart?

 

I wait for you until the end of the world

I wait for you until the moment fate forbids

Now I can give you my everything

Can’t you come to me?

My dear, love.

 

Erasing memories we had together

As if nothing happened

I say I do not know you

But my heart recognizes you at first

All the time spent with you is waiting for you

My last love, it is only you.

 

I wait for you until the end of the world

I wait for you until the moment fate forbids

Now I can give you my everything

Can’t you come to me?

My dear love.

 

This love that can’t be forgotten alone and changed

The monologue was left by your empty side

 

As I didn’t take your hand when you were by my side

I will never let you go again.

 

I missed you

I missed you, my heart grows burdened too much

Steps to you are becoming slow

But I will love you like how I met you first time

I will give love to my stopped heart.

 

(Super Junior Yesung – Waiting For You, Paradise Ranch Ost.)

 

Jaljayo~,” Kim Jongwoon mengakhiri “show”nya dengan mengecup puncak kepala Alena.

Sepuluh menit berselang suasana hening melingkupi mereka. Jongwoon tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Alena. Memperbaiki posisinya agar lebih nyaman untuk turut mengistirahatkan tubuhnya namun detik berikutnya ia hampir saja terlonjak karena suara gadis di pelukannya.

Oppa!

“Demi Tuhan, Nona Kim! Tidak bisakah kau memejamkan matamu? Aku sudah sangat lelah,” gerutu Jongwoon, tidak habis pikir dengan sikap gadisnya.

Alena mengerucutkan bibirnya. “Ara. Aku memang baru ingin tidur, tapi aku melupakan sesuatu,”

“Apa?” tanya Jongwoon tanpa minat.

 

Chu~

 

Sontak mata Jongwoon membulat lebih lebar dari biasanya ketika dengan cepat gadis bermata hijau hazel itu mengecup bibirnya.

Jaljayo, Oppa,

 

=F I N=

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s