I.T.A.L.Y (I Trust And Love You)

Title : I.T.A.L.Y (I Trust And Love You)

Author : Nindirau

Cast : Lee Taemin SHINee, Kim Yoorin (OC)

Length : One-Shot

Genre : Romance, Sad, Angst

Rating : PG-13

ITALY COVER

repost from http://fanfictionschools.wordpress.com with some revision

Recommended Song : All Soul Star’s Song in their mini album : Rebirth 

Happy reading. If you mind, leave comment after read this story

~I.T.A.L.Y~

Aku membuka kelas itu. Entah perasaanku yang begitu kuat, sehingga bisa membawa kedua kakiku untuk melangkah ke kelas ini.Kuedarkan pandanganku ke tiap sudut kelas ini.

Sama persis dengan yang ada di pikiranku selama ini.

Aku memasuki kelas itu dengan perlahan. Berharap setiap langkah akan mengingatkanku pada semua kenangan yang ada di sini. Kenangan yang selalu menyeruak satu-persatu ketika aku tidak mampu mengingatnya lagi setahun terakhir ini.

Pandanganku tertuju ke sebuah meja yang terletak paling depan. Aku menatap dalam-dalam meja berbahan dasar kayu itu.

DEG.

Aku memegangi dadaku cepat. Berusaha mengatur detak jantungku yang berubah menjadi lebih cepat.

Perasaan itu..muncul lagi.

“Pasti di situ,” kataku seraya mendekati meja tersebut. Tanganku menyentuh permukaan meja itu. Mencoba mencari kenangan yang selama ini aku cari.

Tanganku berhenti di atas sebuah tulisan. Aku mencoba melihat lebih dekat tulisan kecil yang terpampang di atas meja itu.

Saat itu juga, sebersit kenangan mulai memenuhi pikiranku.

“Sedang memikirkan apa?”

Gadis itu mengangkat kepalanya, dipandanginya sosok teman sekelasnya yang menatapnya polos. Saat itu hari sudah mulai beranjak senja, maka tidak heran jika lelaki itu bertanya kepada gadis yang sedang duduk termangu di pinggir lapangan sekolah.

Gadis itu tidak menjawab. Dia tetap membisu di tempatnya.

Lelaki itu tanpa pikir panjang langsung menempatkan diri di sebelah gadis itu. Kembali dia menatap sesosok gadis berambut panjang itu. Tatapannya masih sama.

Sejenak terjadi kesunyian di antara mereka berdua. Gadis itu sama sekali tidak membuka mulutnya. Walau sebenarnya dia merasa tidak nyaman dipandangi oleh teman sekelasnya dari tadi.

Merasa semakin tidak nyaman, gadis itu melirik temannya sekilas, ditatapnya kembali mata teman sekelasnya itu.

Lagi-lagi keheningan menyelimuti mereka berdua. Gadis itu menghela napas pendek lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah lapangan kosong di depannya, “Mereka memanfaatkanku lagi.” gadis itu berkata dengan nada tertahan. Seolah mengucapkan kalimat itu sangat mempengaruhi keadaannya saat ini.

Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit, “Memangnya kamu melakukan apa?” tanyanya.

“Tidak ada. Mereka hanya suka memanfaatkanku demi kepentingan mereka sendiri.” Gadis itu meraih kerikil terdekat darinya dan mulai melempar asal ke arah lapangan kosong itu.

“Kalau kau mau, aku bisa menjadi tempatmu bercerita,” Lelaki itu berkata dengan semangat, “Aku siap menjadi tong sampahmu.”

Gadis itu tersenyum kecil mendengar keseriusan perkataan teman sekelasnya itu, “Tidak usah terlalu serius seperti itu, Taemin-ssi. Ini hanya masalahku sendiri.”

 “Jangan panggil aku seformal itu, Yoorin-ah. Sudah kuingatkan beberapa kali kan.” Lee Taemin mengerutkan aslinya, yang membuatnya semakin terlihat lucu.

Yoorin tidak merespons perkataan Taemin lagi. Dia menatap Taemin enggan.

Taemin tidak memperdulikan tatapan Yoorin, dia mulai melanjutkan perkataannya lagi

“Yang kamu maksud itu kejadian sewaktu mereka memintamu untuk mengerjakan makalah IPA mereka?” tebak Taemin.

Yoorin tidak merubah air mukanya. Dia tidak ingin berpura-pura memasang wajah terkejut ataupun menyanggah ucapan Taemin. Karena memang itu benar apa adanya, “Ya.” jawab Yoorin.

“Kenapa? Bukankah jika mereka meminta pertolonganmu seperti itu, artinya mereka mengakui bahwa kamu itu pintar? Kau ingin menjadi dokter kan?”

Yoorin mengerang pelan begitu mendengar perkataan Taemin, pertanyaan yang terlihat sangat simpel, tetapi jika ditujukan kepadanya akan sangat sulit.

“Bukan mauku untuk menjadi dokter.” Yoorin menundukan kepalanya. Diambilnya kembali kerikil kecil lalu dilemparkannya ke lapangan kosong lagi.

Taemin menatap Yoorin. Seolah mengisyaratkan agar Yoorin lekas menceritakan segala yang dia rasakan sekarang juga.

Yoorin menghela nafas, merasa percuma memendam semua jika sudah di hadapan Lee Taemin. Anak itu memang selalu ingin tahu.

“Itu keinginan orang tuaku. Aku sebagai anak tunggal hanya bisa menurutinya saja. Awalnya aku tak masalah, tetapi seiring bertambahnya usia, aku jadi sering memikirkan tentang impianku yang sebenarnya,” Yoorin melempar kerikil lagi sebelum melanjutkan perkataannya.

“Aku jadi susah memilih antara impianku yang sebenarnya dan ini. Menjadi dokter hanya karena kemauan orang tuaku. Maka dari itu, setiap kali orang meminta bantuanku—sebut saja memanfaatkanku—untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan IPA, aku merasa hampa.” Lanjutnya.

Taemin mengelus punggung Yoorin pelan, seolah ingin memberinya kekuatan. “Memangnya impianmu yang sebenarnya apa?” tanya Taemin.

Yoorin terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Taemin, “Aku ingin menjadi seniman dan merantau ke berbagai negeri.”

Taemin membulatkan kedua matanya, merasa tidak percaya bahwa seorang Kim Yoorin bercita-cita menjadi seniman. Tapi sedetik kemudian Taemin menjentikkan jarinya, “Ah, tentu saja. Karena gambarmu sangat bagus. Jadi itukah alasannya?”

Yoorin mengangguk.

Mata Taemin langsung berbinar, “Daebak..” pujinya tulus. Yoorin hanya tersenyum kecil lalu balik bertanya kepada Taemin, “Kau sendiri, impianmu apa?”

Taemin tersenyum lebar, “Impianku adalah menjadi penari lalu pergi ke Italia.”

Yoorin mengerutkan keningnya, “Kenapa harus ke Italia?”

“Karena makanannya sangat enak.” Taemin terkekeh pelan, “Dan juga karena Italia merupakan negara yang paling kusukai. Aku sangat menyukai suasana malam di Italia, suatu saat aku ingin tinggal di situ.”

“Ah, benarkah?” Yoorin mulai tertarik. “Tapi bukannya kamu tidak bisa berbahasa Italia?” kata Yoorin sangsi.

Taemin yang mendengar itu hanya menyengir lebar. “Tetapi setidaknya aku fasih berbahasa Inggris.” Taemin membela dirinya sendiri.

Yoorin tertawa pelan. Walaupun dari luar, sosok Lee Taemin terlihat seperti anak innocent yang tidak tahu apa-apa, tetapi pada kenyataanya dia itu salah satu penari terbaik di SMA-nya. Siapa sangka Taemin mempunyai bakat melakukan poppin’ dance serta sangat pintar berbahasa Inggris? Tidak heran, Taemin termasuk golongan lelaki yang banyak penggemarnya.

Sementara Kim Yoorin hanyalah seorang gadis lemah yang tidak mempunyai impian yang jelas, yang juga selalu dimanfaatkan oleh orang lain. Walau begitu, entah mengapa Taemin tetap ingin berteman dengannya.

“Sepertinya suasana hatimu sudah membaik.” Taemin tersenyum ke arah Yoorin, “Baguslah, aku paling suka melihatmu tertawa seperti ini.”

Tawa Yoorin terhenti. Apa katanya barusan?

Taemin bangkit dari duduknya, sebelum pergi, dia mengelus pelan rambut Yoorin, “Cheers up, girl.”

Yoorin memandangi Taemin yang perlahan berjalan menjauhinya. Dia tersenyum kecil seraya mengingat kalimat terakhir Taemin tadi.

Hanya tiga kata, tetapi benar-benar sukses membuat keadaan Yoorin membaik.

Yoorin berjalan menyusuri lorong kelas dengan perasaan yang berbeda.

Entah mengapa, perasaannya menjadi jauh lebih ringan setelah kejadian kemarin. Dia merasa mendapat pencerahan untuk bisa berjuang menggapai impiannya.

Dan semua itu berkat Taemin.

Mengingat Taemin membuat Yoorin tersenyum kecil lagi. Dia tidak sabar untuk menemui Taemin dan berterimakasih padanya.

Yoorin memasuki kelas, hendak mengucapkan salam, tetapi dia terkejut dengan pemandangan di kelasnya.

Di papan tulis tertempel sebuah foto dirinya bersama Taemin, sewaktu Taemin sedang mengelus rambutnya. Di sebelah foto itu tertulis : Yoorin dan Taemin Pacaran?

Yoorin tidak bisa berkata apa-apa, dirinya terlalu shock dengan kejadian ini. Siapa yang mengambil foto ini?

Seluruh teman sekelasnya langsung menatapnya tajam, seorang yeoja ada yang menghampirinya, “Hei, apa benar kau dan Taemin berpacaran?”

Yoorin menjawab dengan kaku, “A-aniyo, aku—” perkataan Yoorin disela oleh yeoja itu.

 “Kau berbuat apa sih sampai-sampai Taemin sudi meladenimu terus? Apa jangan-jangan kau menyukai Taemin, makanya sengaja mengasihani dirimu sendiri supaya mendapat perhatiannya?”

Yoorin mebelalakan matanya, bukan hanya karena dia terkejut dengan spekulasi temannya itu, tetapi juga karena Taemin berada di pintu kelas, terlihat terkejut juga.

“A..aku..” Yoorin benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

“Cepat katakan! Kau pasti memanfaatkan kebaikan hati Taemin kan supaya dia meladenimu?!”

Yoorin mengepalkan tangannya erat-erat, dia sudah tidak tahan dipojokkan seperti ini terus, “Aku tidak pernah menyukai Taemin ataupun mengasihani diriku sendiri! Kami hanya sebatas teman, tidak lebih!” setelah mengucapkan itu, Yoorin merasa kaget sendiri. Buru-buru dia melihat reaksi Taemin.

Taemin memandangnya dengan tatapan kosong, lalu dia mendekati papan tulis dan segera melepas foto dan menghapus tulisannya. Dia beralih menatap seluruh teman sekelas,

“Sudah dengar kan? Jangan pernah mengambil foto sembarangan lagi. Yoorin sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun terhadapku.” Taemin menatap Yoorin seraya tersenyum simpul, “Hanya aku yang menyukainya, bukan dia.”

Yoorin terkesiap. Senyuman Taemin…terasa menyakitkan baginya. Lalu saat itu juga Yoorin berlari keluar kelas.

Dia menyesali perkataannya sendiri, dalam hati dia merutuki dirinya yang sangat bodoh.

Yoorin ingin pergi, pergi ke tempat yang sangat jauh, supaya bisa menghindari bertemu dengan taemin. Menghindari untuk melihat tatapan, senyuman, dan ekspresinya yang sangat menyedihkan.

Air mata mulai mengalir membentuk sungai kecil di pipinya, Yoorin menangis.

Hari-hari  berjalan dengan sangat lambat setelah kejadian itu.

Saat ini, Yoorin benar-benar kehilangan semangatnya untuk menggapai impiannya. Semuanya seakan seperti kertas berwarna hitam dan putih. Flat. Sangat membosankan.

Sejak kejadian itu, Yoorin tidak mau berbicara dengan Taemin. Dia memutuskan untuk menutup diri dari siapapun, dan akan menjalankan keinginan orang tuanya sebagai dokter. Dia bertekad akan lulus dengan nilai terbaik supaya bisa melanjutkan ke Universitas Seoul dan mengambil jurusan kedokteran, bukan kesenian seperti yang sudah diinginkannya sejak dulu.

Teman-temannya tetap tidak berubah, selalu memanfaatkan Yoorin. Kali ini Yoorin melaksanakannya tanpa mengeluh, karena toh dia memang pantas diperlakukan seperti ini.

Bel berdentang, Yoorin segera membereskan buku pelajarannya. Diliriknya Taemin yang berada di bangku paling depan. Terlihat Taemin sedang menuliskan sesuatu, tetapi Yoorin sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh Taemin.

Sewaktu Yoorin berjalan melewati Taemin untuk menuju ke pintu kelas, Taemin memegang tangannya. Yoorin terkesiap.

Kelas sudah sepi, hanya tersisa Yoorin dan Taemin, “Mau apa kau?” Yoorin tidak percaya akhirnya dia bisa berbicara dengan Taemin lagi setelah lama menghindarinya lagi. Dirasakan, Taemin menyelipkan sesuatu ke tangan Yoorin.

Sebuah kertas kecil.

“Besok pagi kuharap kau akan datang ke kelas ini pagi-pagi untuk membaca sesuatu yang sudah tertulis di kertas itu.” kata Taemin. Yoorin tidak menjawab, dia langsung keluar dari kelas

“Yoorin-ah, tunggu!” Taemin mengejar Yoorin, “Kenapa kau selalu menghindariku terus? Apa aku melakukan suatu kesalahan?” Taemin berhasil memegang lengan Yoorin lagi. Ditatapnya Yoorin lekat-lekat.

Yoorin menghindari tatapan Taemin, “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Ini kemauanku sendiri.” Yoorin langsung melepaskan pegangan Taemin dan langsung berlari.

‘Kumohon Taemin, jangan mengejarku..’ pinta Yoorin dalam hati.

Yoorin tidak sadar, kalau sekarang dia sudah berada di tengah jalan raya.

Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, tengah mendekati dirinya. Yoorin berpikir, mungkin sebentar lagi akhir hidupnya, tetapi…

“KIM YOORIN!”

BRAAK!!

Yoorin terlalu shock untuk melihat kejadian yang sangat cepat itu. Kepalanya seakan ditabrak oleh sesuatu yang sangat besar. Samar-samar, Yoorin melihat sesosok lelaki yang berada di depannya. Yoorin semakin shock begitu mengetahui siapa lelaki yang melindunginya.

Setelah itu, Yoorin sudah tidak bisa mengingat apapun lagi. Semuanya menjadi sangat gelap.

Tubuhku gemetar.

Aku tidak percaya dengan kejadian yang selama ini telah kulupakan. Semuanya berputar dengan sangat cepat di pikiranku.

Kuedarkan pandanganku ke arah kelas ini lagi.

Aku ingat kelas ini.

Aku ingat aku pernah menghuni kelas ini.

Aku ingat aku pernah mempunyai teman sekelas namja yang sangat perhatian.

Aku ingat aku pernah menyakitinya dengan kalimat bodohku.

Aku ingat aku pernah….membunuhnya di depan mataku sendiri.

Aku ingat aku sangat depresi setelah itu. Bahkan aku nyaris gila.

Aku ingat, karena terus menerus menangis dan menyalahkan diri sendiri, tiba-tiba aku melupakan segalanya.

Aku ingat, pesan terakhirnya padaku yang belum sempat kulakukan..

“Besok pagi kuharap kau akan datang ke kelas ini pagi-pagi untuk membaca sesuatu yang sudah tertulis di kertas itu.”

Kembali aku mengarahkan pandanganku di meja paling depan itu, meja yang pernah ditempati oleh Lee Taemin lima tahun yang lalu.

Aku mulai membaca tulisan-tulisan yang ada di situ. Dan setelah itu aku meneteskan air mataku. Air mata yangsudah tidak pernah kukeluarkan karenanya setelah 5 tahun terakhir..

Di atas meja tertulis satu kata,

I.T.A.L.Y

Kembali aku teringat isi kertas kecil yang pernah diberikan oleh Taemin padaku,

I Trust And Love You

Hanya aku yang menyukainya, bukan dia.”

Aniyo, Taemin-ah..” aku mengusap air mataku lalu mulai berkata lagi, “Bukan hanya kamu, aku pun juga menyukaimu..”

            FIN

T^T maaf ya lagi-lagi FF lama yang masih saya post disini T^T i mean, seriously, my current activity is killing me  I really. really. don’t have much time to write nowadays. Maaf ya T^T

tapi sebenarnya ada satu FF yang bisa saya post, but, i need to continue the story a lil more, baru saya berani post FF-nya. Sampai saat itu tiba, tolong tunggu (lagi) ya T^T

5 comments on “I.T.A.L.Y (I Trust And Love You)

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s