Please, Only Hear Me

PicsArt_1374577608823

Author: Chenhye | Cast: Park Chanyeol, Kim Nayoung OC | Other cast: Choi Sooyoung | Genre: Romance, Fluff, Angst (?) | Length: Ficlet| Rating: PG 15

 Have been posted in Sides Of Chenhye

Plot is mine. The casts belong to God, expect OC. Don’t plagiarism. Don’t read if you dislike. Last, please give ur comment. Don’t be a silent reader! Thank you and happy reading! ^^~

last edit by swithya_chan (28.07.2013)

Please, Only Hear Me

Suara tetesan air yang turun dari atap halte bus itu tidak mengurungkan niat gadis cantik dengan seragam sekolah yang telah basah seluruhnya untuk beranjak dari tempatnya. Sudah beberapa menit berlalu dan sudah 3 bus berhenti, namun satu pun sama sekali tidak membuatnya ingin untuk segera tiba di rumah.

Ia memeluk tubuhnya semampunya. Angin yang berhembus kencang membuat tubuhnya yang bermandikan air hujan semakin terasa menggigil. Ditatapnya jam tangannya, sudah beranjak petang. Ia tahu, ini sudah melewati jam pulang sekolah terlalu lama. Dan eomma-nya pasti akan sangat marah besar. Biarlah, sekalian saja ia pulang malam. Toh, ia pasti akan tetap diserang beribu omelan walaupun ia pulang sekarang.

“Dasar bodoh,” gumamnya, lebih kepada diri sendiri. Karena memang tidak ada satu pun orang yang ada di sana. “Kenapa aku seperti ini?!” gumamnya. “Chanyeol pabo!” pekiknya lagi. Ia menggigit bibir bawahnya yang pucat, mati-matian berusaha menahan tangisnya yang hampir pecah kembali. Oh, ia sudah lelah menangis sepanjang jalan ke halte bus ini tadi.

Rasanya ada sesuatu yang menyayat hatinya lagi. Lagi dan lagi. Sakit sekali hingga ia ingin mati saja rasanya. Kejadian di lapangan sekolah tadi masih berputar-putar dengan jelas di benaknya. Saat ia melihat lelaki yang sangat dicintainya bersama gadis lain, kakak kelasnya sendiri.

 

Flashback

Nayoung baru saja keluar kelas setelah 15 menit yang lalu bel tanda pelajaran terakhir telah usai berdering. Ia baru saja menyelesaikan piketnya hari ini. Gadis itu lalu berjalan dengan terburu-buru dengan beberapa buku di tangan kirinya, menuju halaman parkir sekolah, karena ada seseorang yang telah menunggunya di sana. Oh, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol, kakak kelasnya sekaligus pujaan hatinya.

Oppa… mianhae, aku terlam–” Ucapannya terputus begitu kakinya telah tiba tepat di depan mobil Chanyeol, namun tidak menemukan batang hidung lelaki itu. Ia mengedarkan pandangannya, semampu jarak pandang matanya. Mencari sosok lelaki tampan bertubuh tinggi yang sangat dikaguminya namun, ia sama sekali tidak menemukan lelaki itu. “Kemana dia? Tidak biasanya seperti ini,” gumam Nayoung sembari meraih ponselnya, mencoba menghubungi Chanyeol. Tidak diangkat. Ia menghela napas pelan.

Gadis itu kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke halaman sekolah. Mungkin saja Chanyeol berada di dalam bersama teman-temannya karena terlalu lama menunggunya. Ia melangkahkan kakinya sembari memandang ke setiap sudut ruangan yang dilewatinya. Berharap menemukan lelaki itu secepatnya. Sekolah memang sudah sangat sepi. Mungkin karena cuaca yang mendung membuat semua siswa bergegas untuk segera pulang ke rumah daripada kehujanan di tengah jalan. “Yeol Oppa, eodi-ga, huh?”

“Yeollie!”

Nayoung lantas menolehkan kepalanya begitu mendengar suara seorang gadis memanggil… apa tadi? Yeollie? Chanyeol? Ia segera berlari menyusuri koridor, mencari sumber suara yang sedikit menggangu telinganya dan bahkan sekarang meracaui pikirannya.

Apa yang sedang dilakukan Chanyeol?

Pertanyaan itu terus berputar-putar di benaknya hingga ia akhirnya menemukan sosok Chanyeol di tengah lapangan sekolah. Ini akan melegakan kalau saja ia tidak melihat seorang gadis yang sangat dikenalnya sedang bersama kekasihnya di lapangan itu.

Cukup lama ia berdiri di sana, memperhatikan apa yang dilakukan Choi Sooyoung, kakak kelasnya yang ia ketahui sangat populer, berdiri di tengah lapangan itu. Sementara Chanyeol sibuk memantulkan bola basket ke atas tanah, tampak tidak peduli. Rasanya ingin ia berlari, menarik Chanyeol, dan segera mengajaknya untuk pulang. Tetapi entah kenapa, urat-urat kakinya terasa sulit untuk digerakan. Ada rasa penasaran yang membuatnya bertahan untuk tidak bergeming dari tempat itu.

“Kau menolakku?” tanya Sooyoung dengan suara getir. Tetapi, Nayoung dapat mendengarnya dengan begitu jelas, walaupun ia berdiri di kejauhan. “Park Chanyeol!!!” pekiknya kesal karena untuk yang kesekian kali tidak mendapatkan jawaban dari lelaki itu.

Lelaki pemilik nama itu akhirnya membalikan tubuhnya, “Harus berapa kali kukatakan, aku tidak menyukaimu. Kenapa kau begitu keras kepala?” Ia menatap Sooyoung dengan sedikit kesal.

“Adik kelas kutu buku itu?! Aku bisa lebih baik darinya!” Sooyoung mengerang sembari menatap Chanyeol dengan geram. Ada letupan amarah yang berdesir di urat nadinya. Perasaan yang terpendam selama 3 tahun terakhir, berbalas nista seperti ini?

Nayoung mendengar itu. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya mulai terasa panas. Ia mengerti apa yang sedang terjadi di sana. Ia tahu, akan jadi apa ini pada akhirnya. Tidak, ia ingin segera pergi dari sini.

Chanyeol mendelik tajam, “Kepopuleranmu semakin membuatmu terlihat egois.”

“Ya. Aku memang egois. Kau tahu aku dengan begitu baik, tetapi kenapa kau begini, hah?” Sooyoung melangkah maju, mendekati Chanyeol yang tak bergeming di tempatnya.

Chanyeol bisa melihat cairan bening perlahan mulai membasahi pipi Sooyoung.

“Soo….” Lelaki itu tertegun.

“Kau tidak tahu, betapa inginnya aku memilikimu? Kau tahu, berapa lama aku menahan perasaan ini, hah? Keegoisanku, semuanya karena kau!”

Sooyooung brutal. Air matanya tumpah seiring dengan langkahnya yang gusar untuk mendekati Chanyeol. Ia menarik kerah seragam Chanyeol lalu mendaratkan bibirnya dengan kasar ke bibir lelaki itu.

BRAK!

Buku-buku yang digenggam Nayoung meluncur bebas ke atas lantai begitu matanya melihat bibir Sooyoung menyentuh bibir lelaki yang sangat dicintainya. Ia menutup rapat kedua bibirnya, berusaha untuk tidak berteriak. Tangannya mengepal, berusaha menahan rasa sakit yang kini menelaah seluruh ruang hatinya.

Mata Chanyeol membulat begitu dirasakannya sentuhan kasar di bibirnya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat. Wajah Nayoung kini berputar-putar dalam benaknya. Tidak, ia harus menghentikan ini. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mendorong tubuh Sooyoung, namun gadis itu terus mengeratkan ciumannya.

“Sooyoung!” Chanyeol akhirnya berhasil mendorong tubuh gadis itu hingga membuat ia tersungkur ke tanah.

Nayoung mengerjapkanya matanya, apakah ini mimpi? Matanya benar-benar terasa perih sekarang. Setelah mendengar teriakan itu dan tanpa ingin melihat apa pun lagi, gadis itu segera berlari ke luar sekolah. Diterobosnya semua orang-orang yang dilewatinya. Kenapa rasanya seperih ini?

Ia berlari tanpa tujuan. Beberapa kali ia menyeka air mata yang telah sukses membasahi kedua pipinya yang merona. Namun, air mata itu tak kunjung henti. Samar-samar didengarnya seseorang memanggil namanya, ia tahu itu suara Chanyeol.

Nayoung semakin mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin melihat wajah Chanyeol sekarang. Bahkan mendengar suaranya saja membuat hatinya benar-benar merasa sakit. “Ah!” pekik Nayoung, tiba-tiba. Ketika ditengah larinya kakinya tak sengaja menginjak tali sepatu sebelah kanannya. Gadis itu tersungkur ke tanah dengan lutut yang mendarat lebih dahulu. Ia meringis, sakit. Tetapi, tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini merasuki hatinya.

Nayoung menangis dalam diam. Ia tidak tahu, sejak kapan hujan turun dan telah membasahi hampir sekujur tubuhnya. Ia tak bergeming, tidak sanggup untuk beranjak berdiri lagi. Seluruh uratnya terasa mati rasa. Bahkan ia sama sekali tidak merasakan hawa dingin yang telah merasuk ke pori-pori kulitnya.

“Bodoh, kenapa sesakit ini….”

Flashback end

 

Nayoung kembali menyeka air matanya yang tumpah. Sudah berapa liter air yang ia keluarkan dari kedua matanya? Kenapa rasa sakit itu tidak berkurang sedikit pun meskipun ia menangis berkali-kali?

Ia memukul dadanya. Kesal. Ia kesal memiliki perasaan yang seperti ini. Ia sudah cukup lelah dengan kehidupannya. Kenapa soal percintaannya menambahi bebannya? Kenapa ia begitu mencintai Park Chanyeol?

Lelaki yang sangat populer di sekolahnya. Ia tahu, ia memang tak sebanding dengannya. Harusnya ia sadar akan hal itu sejak awal. Ia hanya adik kelas yang populer di perpustakaan. Hanya perpustakaan.

“Nayoung…” Suara seseorang memangggil namanya disertai dengan hembusan napas yang terengah-engah membuyarkan lamunannya.

Nayoung mendongakkan kepalanya, didapatinya lelaki bertubuh jangkung di depannya tengah menumpukan kedua tangannya di lututnya, berusaha mengatur napas yang memburu. Rasanya air matanya ingin pecah lagi melihat sosok Park Chanyeol berada di hadapannya. Mati-matian ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak tumpah lagi. Oh ayolah, ia benci terlihat sangat lemah.

“Youngie, dengarkan aku dulu. Jangan salah paham,” ucap Chanyeol dengan suara tertahan, setelah napasnya mulai teratur. Seolah ia bisa membaca apa yang sekarang ada dalam pikiran gadis itu.

Lelaki itu tertegun begitu melihat sekujur tubuh Nayoung yang basah kuyub. Badannya bergetar hebat, bibirnya pucat kebiruan, sementara di kedua lututnya mengalir darah di goresan lukanya. Wajah Chanyeol mengeras, ada rasa amarah yang berdesir di uratnya. Ia tidak suka melihat Nayoung seperti ini. “Apa yang terjadi? Kakimu berdarah.” Chanyeol berjalan mendekati Nayoung, namun gadis itu melangkah mundur sembari menatap wajah Chanyeol dengan mata berair.

“Jangan mendekat,” lirihnya.

“Youngie, dengarkan aku dulu.” Chanyeol menghela napas kasar. Ia mengutuk dirinya sendiri karena memenuhi permintaan Sooyoung untuk bertemu di lapangan sekolah sepulang sekolah. Harusnya ia tahu, gadis itu akan melakukan apa saja untuk memenuhi kepuasan dirinya.

“Aku tahu semuanya, Oppa. Aku mendengarnya. Aku tidak pantas untukmu. Soo Eonnie benar,” ucap Nayoung dengan suara bergetar. Ia mengerjapkan matanya berkali-kal, cairan bening telah sukses meluncur ke permukaan pipinya.

Chanyeol mengepalkan tangannya. Ada rasa perih yang menyayat batinnya begitu melihat tetesan air mata yang keluar dari mata indah Nayoung. Ingin rasanya ia mendekap gadis itu dalam pelukannya, tetapi bahkan gadis itu enggan untuk sekedar menatap wajahnya.

“Apa yang ada dalam pikiranmu? Aku yang paling tahu siapa yang pantas untukku. Dan hanya kau yang pantas untukku.”

Nayoung menggigit bibir bawahnya, tidak dihiraukannya lagi tubuhnya yang mati rasa karena kedinginan. Ia menghela napas pelan, “Oppa, hentikan saja.”

“Kim Nayoung!” bentak Chanyeol, gusar, Ia tidak suka mendengar kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang sangat dicintainya.

“Aku hanya seorang adik kelas yang tidak populer sama sekali. Hobiku hanya berada di perpustakaan, berkutat dengan buku-buku pelajaran. Aku tidak punya keahlian, tidak punya banyak teman. Aku orang yang membosankan untuk diajak bicara. Berbanding jauh dengan Soo Eonnie yang cantik dan sama populer sepertimu. Aku–”

Perkataan Nayoung terputus begitu sesorang mengunci mulutnya dengan sebuah bibir yang tiba-tiba mendarat di bibirnya yang bergetar hebat. Tubuhnya membeku ketika Chanyeol meraih kedua lengan tangannya lalu menciumnya dengan lembut.

Ia ingin menolak, tetapi Chanyeol terus menutup bibirnya dengan rapat. Dirasakannya sesuatu yang berdentum berantakan. Jantungnya berdetak abnormal sekarang. Nayoung akhirnya menikmati ciuman itu karena tak dipungkiri ia merasa jauh lebih baik karena sentuhan itu.

“Jangan berkata seperti itu lagi. Rasanya benar-benar sakit.” Chanyeol melepaskan ciumannya begitu dirasakannya Nayoung jauh lebih tenang dari sebelumnya.

“Aku–”

Chanyeol meraih kedua tangan Nayoung sebelum gadis itu melanjutkan kalimatnya. Ditatapnya lekat-lekat kedua manik mata gadis itu yang berair. Perlahan, disekanya sungai-sungai kecil di kedua pipi Nayoung yang merona.

“Tidak peduli seberapa buruknya kau di mata orang lain. Bagiku kau tetaplah Kim Nayoung, gadis cantik yang jauh terlihat sangat manis saat berkutat dengan buku pelajarannya. Yang terlihat sangat menawan saat tersenyum, dan terlihat amat polos saat diajak bicara. Kau adalah kau. Dan aku menyukai apa yang ada pada dirimu.”

Oppa…” gumam Nayoung, tercekat. Rasanya ia ingin menangis, bukan menangis karena sakit. Tetapi menangis karena perasaan haru yang membuncah dalam hatinya, membuatnya merasa paling berarti di mata Chanyeol

“Jangan dengarkan orang lain. Cukup dengarkan aku saja.” Chanyeol lalu mengecup kening Nayoung dengan lembut.

“Maafkan aku.” Nayoung menatap wajah Chanyeol yang sedikit pucat, ia pasti kedinginan karena mengejarnya di tengah hujan tadi.

Chanyeol tersenyum, membuatnya semakin terlihat tampan di mata Nayoung. “Aku benar-benar mencintaimu, Youngie.”

“Aku juga, Yeol Oppa,” balas Nayoung. Seulas senyum akhirnya terukir di bibirnya yang mungil.

Chanyeol menepuk puncak kepala Nayoung, “Ayo, kita pulang. Kau pasti sangat kedinginan dan lukamu harus segera diobati.”

“Aku tidak apa-apa.” Nayoung tersenyum, meyakinkan.

Lelaki itu menghela napas panjang, ia tahu Nayoung tidak pintar berbohong. Chanyeol lalu berlutut dan menyodorkan punggungnya pada Nayoung, “Cepat naik.”

Oppa, aku sungguh tidak apa-apa. Tidak perlu seperti ini.” Nayoung menolak. Ia tahu Chanyeol pasti sudah sangat lelah. Jika ia naik, itu hanya akan menambah rasa lelah lelaki itu.

“Cukup dengarkan aku saja dan turuti perintahku,” tukasnya.

Dengan terpaksa, akhirnya Nayoung menurutinya. Dipeluknya leher Chanyeol erat-erat, sementara lelaki itu mulai berjalan meninggalkan halte bus. “Oppa….” gumamnya.

“Hmm?” Chanyeol mendelik.

“Terima kasih untuk segalanya.” Nayoung mencium pipi Chanyeol sekilas, lalu dengan segera menyembunyikan wajahnya di punggung lelaki itu. Ia tahu, pasti sekarang wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

Chanyeol tertegun sesaat. Namun, perlahan-lahan kedua sudut bibirnya tertarik. Membentuk sebuah senyuman bahagia.

I love you, baby Youngie.”

Ia membatin, memiliki Nayoung adalah anugerah terindah yang pernah ada dalam hidupnya.

 

End

Advertisements

9 comments on “Please, Only Hear Me

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s