[Freelance] This Is My Work

This is My Work

Title: This is My Work

Author: Ashley Valeria

Genre: Romance

Length: Oneshoot

Rated: PG 17

Cast: Jaejoong JYJ, Cho Nam Mi (OC)

– posted & last edited by Ai Lee –

***

“Tahukah bahwa kita telah berjodoh sejak kita diciptakan oleh Tuhan? Tahukah bahwa aku telah mencintaimu sejak beribu-ribu tahun yang lalu? Dan tahukah bahwa aku diciptakan hanya untuk mencintaimu? Pekerjaanku hanya mencintaimu”

***

Nam Mi menggeliat dari tidurnya, membuka mata perlahan dan mengerjap-ngerjapkannya untuk mengembalikan penglihatannya agar tidak kabur. Sesekali gadis itu menguap, rasa kantuknya belum seratus persen menghilang. Tentu saja, karena sekarang jam masih menunjukkan pukul enam, dan ia tidak terbiasa bangun sepagi ini.

Kakinya melangkah dengan terseok-seok saat berjalan menuju kamar mandi. Tubuh ramping itu hampir saja terjatuh jika saja tidak ada sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggang gadis itu untuk menahan bobot tubuhnya.

“Kembalikan dahulu kesadaranmu,” ucap Jaejoong mengingatkan, kepalanya menggeleng pelan sebagai rasa tidak percayanya karena melihat tingkah sang istri.

Nam Mi hanya mengangguk tidak sadar. Namun beberapa detik kemudian gadis itu berteriak kencang ketika tangan Jaejoong mengangkat tubuhnya. Gadis itu meronta diatas pangkuan Jaejoong, sedangkan sang suami tetap dengan ekspresi datarnya meneruskan langkahnya menuju kamar mandi.

Memutar keran dengan kakinya lalu menghempaskan tubuh Nam Mi tepat diatas bathtub. “Mandilah dengan tenang, kau masih mempunyai waktu satu jam lagi,” ucap Jaejoong lalu mengecup kening Nam Mi. Meninggalkan gadis itu yang membeku akibat perlakuan yang diterimanya dari sang suami.

Memang perlakuan yang Jaejoong lakukan itu bukanlah hal yang spesial, hanya saja tubuhnya masih bereaksi sama seperti saat pertama mereka bertemu. Membeku, terdiam, pipi merona, dan jantung yang tidak karuan.

“Jangan hanya diam, cepatlah mandi Nam Mi-ya,” teriak Jaejoong dari arah luar. Nam Mi mendengus kesal karena pria itu lagi-lagi bisa menebak apa yang sedang dilakukannya. Apakah watu tiga tahun itu benar-benar dihabiskan oleh suaminya untuk mengetahui segala hal tentangnya? Juga kebiasaan-kebiasaannya? Dan kelakuan-kelakuan tak terkendalinya? Nam Mi menggelengkan kepala dan segera melakukan ritual yang biasa ia lakukan saat mandi.

Di sisi lain, Jaejoong terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri atas perilaku yang dilakukan dirinya terhadap sang istri. Lagi-lagi ia bersikap diluar kendali otaknya, dan selalu seperti itu ketika berdekatan dengan Nam Mi. Entah kenapa, ia sendiri tidak mengerti. Tubuhnya selalu menolak apa yang diperintahkan oleh otaknya.

Jaejoong berjalan keluar, menapaki lantai rumahnya menuju dapur. Yang harus ia lakukan sekarang ialah, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Nam Mi, karena Jaejoong yakin sekali bahwa istrinya itu tidak akan sempat untuk melakukan hal itu, apalagi Nam Mi selalu bersikap ceroboh ketika sedang dikejar waktu, seperti saat ini.

Tangan Jaejoong dengan lihai memotong berbagai sayuran yang sekarang sudah berada di depannya, memasukkannya kedalam mangkuk dan menambahkan mayonaise diatasnya. Beberapa menit kemudian ia mendengar suara ribut dari lantai atas saat baru saja Jaejoong menyelesaikan pekerjaannya.

Pria itu menggeleng pasrah lalu meletakkan mangkuknya diatas meja, menaiki anak tangga satu persatu dan mendorong pintu kamarnya.

Jaejoong menyipitkan mata saat mendapati kamarnya telah berubah menjadi kapal pecah. “Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.

Nam Mi tersenyum lebar. “Aku sedang mencari pakaian yang pas, hanya saja tidak ada.” Jaejoong mendekat, matanya berputar mencari sesuatu diantara baju yang berserakan dan aksesoris yang keluar dari tempatnya.

“Kau bisa menggunakan baju ini,” tukas Jaejoong menyodorkan baju kemeja biru dengan jas putih setengah badan kepada Nam Mi.

“Lalu, celananya?” tanya Nam Mi menunggu.

Igo.” Jaejoong melemparkan skinny jeans putih, Nam Mi dengan refleks menangkapnya. Gadis itu tersenyum senang dan segera berlari kearah suaminya, merengkuh pipi Jaejoong lalu mengecup bibirnya dalam waktu sepersekian detik.

Gomawo,” ucapnya lalu mendorong tubuh Jaejoong agar keluar dari kamarnya.

“Hei, hei. Apa yang kau lakukan?”

“Aku akan berganti baju, tidak mungkin ‘kan kalau kau tetap disini ketika aku mengganti baju?”

Jaejoong mendengus kesal. “Kau bahkan tidak malu saat malam pertama kita, bukannya saat itu kau tidak mengenakkan busana satu helai pun?”

“Astaga, kenapa suamiku jadi bersikap frontal seperti ini?” Nam Mi menggeleng tidak percaya.

“Kau harus bertanggung jawab,” ucap Jaejoong kemudian. “Tanggung jawab apa?” Nam Mi merengut tidak mengerti.

“Setidaknya, berikan aku ciuman yang lebih lama,” tutur Jaejoong dengan polosnya. Nam Mi terdiam membeku saat mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya, dan dalam beberapa detik, Jaejoong segera menarik tengkuk Nam Mi dan menyatukan bibir mereka berdua, lalu mulai menggerakkan bibirnya untuk menyadarkan Nam Mi.

“Kau hanya akan berdiam seperti itu?” tanya Jaejoong di bibir Nam Mi. Gadis itu mengerjap dan segera membalas ciuman suaminya. Jaejoong tersenyum senang dan segera melancarkan kebiasannya ketika berciuman dengan sang istri.

“Yak!” Nam Mi berteriak saat kesadarannya telah kembali pulih. “Kau.., aish, bisa-bisanya kau mengambil kesempatan!” teriak Nam Mi.

Jaejoong memberengut. “Kau bahkan membalasnya,” sungutnya tidak terima.

“Aish, sudahlah. Aku sudah telat, pergilah,” perintah Nam Mi kemudian. Jika ia meneruskan perdebatannya, bisa-bisa ia tidak bisa memenangkan kesempatan yang sedang dimilikinya saat ini.

“Aku tunggu kau di ruang makan, kau harus sarapan, arraseo?” teriak Jaejoong saat Nam Mi meninggalkannya begitu saja.

***

“Aku yakin kau pasti bisa.” Jaejoong memberi semangat kepada Nam Mi. Gadis itu menggeleng dengan wajah semrawut. “Kau tidak mengerti bagaimana takutnya aku jika semuanya tidak berjalan dengan lancar,” kilah Nam Mi dengan nada takut yang sangat kentara.

“Bagaimana mungkin aku tidak mengerti? Wajahmu bahkan menyiratkannya dengan jelas.” Jaejoong mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi gadisnya itu. “Tersenyumlah, aku akan menunggumu disini,” ucap Jaejoong kemudian. Nam Mi menatap suaminya dalam.

“Berikan aku pelukanmu,” tuturnya pelan. Jaejoong dengan senang hati segera merengkuh tubuh istrinya lalu mengelus punggungnya. Berusaha menenangkan istrinya yang sebentar lagi akan mengikuti seleksi untuk menjadi seorang model.

“Ingatlah, jika kau berhasil, maka kau akan berpasangan denganku. Bukan dengan orang lain.” Nam Mi mengangguk dan melepaskan pelukannya. Mengecup pipi Jaejoong lembut lalu keluar dari mobilnya dan berjalan menuju gedung tempat seleksi dilaksanakan.

“Aku harus berhasil. Jika tidak, Jae pasti akan berpasangan dengan perempuan lain.”

***

Nam Mi merengut sebal ketika setiap pose yang dia lakukan diprotes terus-menerus, padahal ia telah melakukannya sesuai dengan script yang diterimanya saat memasuki ruang tunggu.

“Ah, jinjja! Kenapa kau kaku sekali, huh?” teriak seorang pria tambun yang ditebaknya adalah seorang sutradara. Potografer yang sejak tadi memotret Nam Mi terlihat hanya bisa menghela nafas pasrah .

“Kau, keluar. Peserta selanjutnya!” teriaknya memerintah.

“Jadi, apa aku diterima?” Nam Mi bertanya sebelum meninggalkan tempat pemotretan. Matanya mengerjap, jantungnya berdetak kencang, seakan ingin keluar dari tempatnya. Jika bukan karena Jaejoong, ia tidak akan mau mengikuti seleksi pekerjaan yang menurutnya konyol. Berpose di depan kamera, bahkan sekali-kali memamerkan tubuh. Bukankah tubuhnya hanya untuk dipamerkan di depan Jaejoong? Suaminya?

“Apa kau tidak merasa? bahwa dirimu itu tidak layak diterima?” tanyanya retoris. Nam Mi menatap sutradara yang tengah berdiri di dekat potografer dengan sebal. “Kau tidak mempunyai bakat sama sekali. Jadi, silakan keluar,” perintahnya kemudian seraya meninggalkan Nam Mi.

Gadis itu mengeluarkan sumpah serapahnya tanpa mengacuhkan, apakah ada orang yang mendengarnya atau tidak. “Dia kira, dia bisa melakukan pose tersebut, huh? Bisanya hanya memerintah saja!” sungutnya dengan kaki menyepak apapun yang ada di depannya.

Jaejoong mengetuk-ngetukkan jarinya pada dashboard, menunggu dengan bosan. Sesekali ia melirik sekelilingnya, mencari hal yang dirasanya bisa mengalihkan kebosanannya. Matanya menatap tajam jam di pergelangan tangan, mendesah untuk ke sekian kalinya karena sang istri belum juga menampakkan dirinya. Padahal waktu sudah melebihi yang dijadwalkan, tapi belum ada tanda-tanda Nam Mi akan muncul.

“Seharusnya dia tidak mengatakannya dengan nada mengejek seperti itu, dasar gendut!” Jaejoong menoleh ke kanan dan mendapati Nam Mi tengah menggerutu, wajahnya tampak kesal, juga kakinya yang menghentak-hentak. Ia tahu apa yang terjadi, dan sejak awalpun Jaejoong telah memprediksi apa yang akan terjadi hari ini.

Dengan segera pria itu mengeluarkan ponselnya, mengetikkan beberapa kalimat dan segera mengirimnya sebelum Nam Mi datang di depannya.

Gadis itu membuka pintu mobil, memasukkan tubuhnya dan menghempaskannya di atas kursi, menutup pintu mobil dengan keras sehingga menimbulkan bunyi bedebum yang cukup memekakan telinga. Jelas sekali bahwa Nam Mi tengah kesal kepada pria bertubuh tambun tadi.

Jaejoong hanya diam, dia tidak berani untuk mengucapkan satu patah katapun ketika istrinya dalam keadaan kesal seperti sekarang.

“Aku tidak mau pulang ke rumah. Apa bisa kita bermain terlebih dahulu?” tanya Nam Mi kemudian setelah ia berhasil menenangkan detak jantungnya dan juga amarahnya. Jaejoong mengangguk dan segera menyalakan mobilnya.

“Kemana?”

“Terserah kau saja, yang penting kita tidak pulang ke rumah sekarang,” ucapnya datar.

***

Jaejoong mengayun-ayunkan ayunan yang di duduki Nam Mi. Perlahan-lahan, sengaja dilakukannya untuk menenangkan sang istri. Sesekali Jaejoong bernyanyi untuk mengusir rasa bosannya karena sejak satu jam yang lalu, gadis itu sama sekali tidak mengucapkan satu kalimatpun.

“Nam Mi-ya..” ucap Jaejoong memulai. “Apa kau akan mengacuhkanku seperti ini terus?” tanyanya saat ia sudah tidak tahan. Jaejoong masih manusia, ia masih mempunyai batas-batas tertentu dengan sifat yang dimilikinya.

Nam Mi menoleh dan segera berdiri dari dudukannya, memeluk Jaejoong dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya. “Jae-ya..” panggil Nam Mi dengan isakan tangisnya yang semakin terdengar. Jaejoong menghela nafas berat dan menepuk-nepuk punggung istrinya.

“Aku tahu, aku tahu.”

Nam Mi menggeleng lemah. “Maafkan aku, Jae-ya.. Maafkan aku..”

“Nam Mi-ya, apa kau tahu?” Jaejoong melepaskan pelukannya dan merengkuh pipi gadis itu. Menatap sang istri dengan intens dan seperti menyaluran sebuah gelombang yang tak kasat mata agar sang istri dapat mempercayai perkataan yang akan diucapkannya kemudian.

“Aku terlahir di dunia ini bukan semata-mata hanya untuk memenuhi bumi yang telah amat sesak ini. Aku terlahir di bumi karena aku telah ditakdirkan untuk mencintai seseorang. Aku dilahirkan di bumi untuk menjaga seseorang. Dan aku dilahirkan di bumi untuk memenuhi tulisan takdir seseorang,” ungkap Jaejoong di tengah isak tangis Nam Mi yang kini mulai mereda.

Nam Mi mengusap pipinya yang basah dan menangkup tangan Jaejoong. “Maafkan aku karena aku tidak pernah bisa kau andalkan, maafkan aku karena sering merepotkanmu, dan maafkan aku karena terlahir di dunia ini hanya untuk merusak kehidupanmu.”

Jaejoong mendudukan Nam Mi di ayunan tadi. Ia berlutut di depan istrinya lalu mengelus tangan Nam Mi perlahan. “Tidak.. kau salah. Kau dilahirkan untuk menjadi pendampingku, menjadi tumpuan hidupku, dan menjadi tempat kembaliku. Kau sama sekali tidak seperti itu, aku mencintaimu, dan aku tidak keberatan sama sekali untuk direpotkan olehmu. Bahkan aku rela mati jika kau menginginkan aku untuk mati.”

“Aku tidak mendapatkan pekerjaan itu, Jae-ya. Apa kau masih ingin bersamaku?” tanya Nam Mi ragu-ragu.

Jaejoong tersenyum dan berdiri, mengajak sang istri untuk berada disampingnya juga dan merengkuh bahu gadis itu dengan erat. “Tenang saja, aku sudah tidak bekerja disana lagi.” Nam Mi melirik Jaejoong dan menatap pria itu seolah-olah bertanya ‘mengapa?’.

“Aku tidak peduli aku tidak mempunyai pekerjaan satu pun. Karena aku terlahir di dunia ini untuk mencintaimu, menjagamu, dan tetap berada disampingmu. Jadi, pekerjaanku yang sebenarnya adalah mencintaimu, apa kau mengerti?”

Nam Mi terdiam. Ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Jantungnya bhkan terasa berhenti sementara lalu memompa dengan cepat ketika ia bisa mencerna apa yang diucapkan Jaejoong barusan. Pria itu, bahkan ia rela mati hanya untuknya.

“Aku mencintaimu Jae-ya.”

End

9 comments on “[Freelance] This Is My Work

  1. anyeong aku reader baru bangapta ^^

    aigoo so sweet bgt jeje’a ><
    ahhh ga kebayang klo jeje yg ngomong gtu ke aku
    trs klo jeje g kerja kluarga'a mau d ksih makan apa? cinta kan ga bisa ngasih makan #plak *abaikan* XD

  2. Terus Nam Mi d kasih makan pake apa Jae Joong oppa?? Cepet cari pekerjaan!! Ah, aku ini emang nggak bsa ngerti suasana romantis ya -. .-

    Semangat buat nulis fanfi-fanfic selanjutnya ya Author-ssi ^^
    Hwaiting~ *\(^0^)/*

  3. Ah, Jaejooooooong!!!

    Ternyata ada FF castnya abang JJ *high five*
    Romantis.. aku jadi kangen FF-ku sendiri hiks.*mendadak curcol* 😀

    Well, I like your paper.
    Cuma tolong diperhatikan kata-kata asing, mohon dicetak miring/italic.
    kedalam, kearah harap dipisah –> ke dalam, ke arah.
    Aku gak tahu, pas di bagian paragraf awal kata2 asing dicetak miring, tapi kenapa di pertengahan tidak dicetak miring?

    Mungkin ke depannya harus diteliti lagi ^^
    Oke, keep writing 😉

    LOVE

    • ah, makasih 😀
      ini memang dulu nulisnya pas masih belum terlalu baik dalam bahasa, tapi sekarang sudah mulai berangsur lebih baik, makasih ya kritiknya kak 😀

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s