She is Me (Part 2)

She is Me-1

She is Me (Part 2)

Teacher : mochiangang

Main Cast

  • Jang Hyeon Mi (OC)
  • Nam Woohyun (INFINITE)
  • Park Jiyeon (T-ARA)
  • Kim Sunggyu (INFINITE)

Other Cast :

  • Kim Myungsoo (INFINITE)
  • Jang Wooyoung (2PM)

Genre : Romance, Friendship, School Life

Rating : PG-15

Length : Series

Prolog |  Part 1

Seoul High School

Sunggyu tidak pernah menonjol dalam pelajaran olahraga. Bukan karena dia buruk, tapi karena dia tidak tertarik. Dia tidak pernah berusaha keras, tapi nilainya cukup untuk membuatnya lulus. Sesederhana itu. Sunggyu tidak pernah berusaha untuk membuat guru maupun teman-temannya terkesima.

Tapi, hari ini lain. Sejak dia memasuki gedung olahraga, matanya terpaku pada satu hal. Terpaku pada seseorang. Seorang gadis yang tampak bingung dengan keadaan sekitarnya. Memang, hari ini kelas olahraganya digabung dengan adik kelas karena salah satu guru mereka sedang sakit.

Ya! Kim Sunggyu, apa yang sedang kau lihat?” tanya Woohyun sambil menghampiri Sunggyu dan melingkarkan tangannya di leher lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Membuat Sunggyu terkejut dan sedikit kesakitan di saat yang sama.”Apa kau menemukan sesuatu yang menarik?” tanya Woohyun. Kali ini sambil berusaha menebak apa yang sedang dilihat sahabatnya itu.

Aniya. Lagipula kau tidak akan tertarik,” jawab Sunggyu sambil melepaskan tangan Woohyun yang masih melingkar di lehernya. Sebelum Woohyun sempat bertanya atau mengetahui siapa yang sedang dia perhatikan, Sunggyu dengan cepat menarik Woohyun ke arah yang berlawanan.

-00-

Mungkin ini pertama kalinya Woohyun melihat Sunggyu bersemangat seperti hari ini. Dalam pertandingan dodge ball melawan adik kelas mereka, Sunggyu merupakan MVP (Most Valuable Player) kelas mereka. Sunggyu sendiri sudah berhasil membuat sekitar sepuluh anak keluar lapangan. Jumlah itu belum termasuk jumlah yang dikeluarkan dengan kerjasamanya dengan Woohyun. Belum lagi kelincahannya menghindar. Sunggyu benar-benar berhasil membuat guru, teman-teman sekelasnya, dan adik kelasnya terkagum-kagum dengan permainannya kali ini.

“Sunggyu-ah, kau ini kenapa?” tanya Woohyun di sela-sela mereka menghindar dari bola yang ditujukan pada mereka.

“Apanya yang kenapa?” tanya Sunggyu. Tak mengerti dengan maksud pertanyaan Woohyun.”Jiyeon-ah, mianhae!” teriaknya sambil melemparkan bola yang ada di tangannya ke arah Jiyeon. Tepat sasaran. Jiyeon tak bisa menghindar dan tak bisa menangkap bola itu.

“Sunggyu oppa, neo miwo!” teriak Jiyeon. Sunggyu hanya bisa tersenyum lebar. Tahu kalau itu hanya candaan Jiyeon.

Sunggyu menatap dua orang adik kelas yang menjadi lawannya dan Woohyun. Satu laki-laki – Jinwoon- dan satu gadis. Gadis yang dilihatnya tadi tampak kebingungan. Jang Hyeon Mi. Alasan Sunggyu bermain hebat dalam permainan kali ini adalah gadis itu.

-00-

“Boleh aku duduk disini?” tanya Sunggyu pada Myungsoo yang sedang duduk sendirian di kantin. Suasana kantin sedang ramai dan sialnya Sunggyu tidak menemukan satu tempat kosong untuk dirinya. Sedangkan Woohyun sudah melesat pergi tanpa memberitahu Sunggyu.

Ne, hyung,” kata Myungsoo sambil menggeser posisinya. Memberikan Sunggyu tempat untuk duduk.”Sendirian, hyung?” tanya Myungsoo.

“Woohyun pergi. Dan tempat lain sudah penuh,” jawab Sunggyu.”Kalau tidak terpaksa aku juga tidak mau makan denganmu,” kata Sunggyu bercanda. Myungsoo pura-pura menatapnya sebal dan lalu tertawa.”Kau sendiri?” tanya Sunggyu.

“Temanku sedang di toilet,” jawab Myungsoo.

Sunggyu hanya mengangguk kemudian melanjutkan menghabiskan makan siangnya. Sesekali berbicara dan bercanda dengan Myungsoo. Bicara tentang perkembangan klub musik yang saling mereka ikuti.

“Myungsoo-ya! Kau harus mencuci seragamku!” seorang gadis tiba-tiba datang dan meneriaki Myungsoo. Sunggyu menoleh dan terkesiap. Gadis ini adalah gadis yang dilihatnya saat pelajaran olahraga tadi. Dan sekarang gadis ini ada di hadapannya langsung?

Sunggyu melihat seragam yang dikenakan gadis itu. Terdapat bercak merah dan bekas cipratan air di bagian saku blazer gadis itu.”Apa yang kau lakukan?” bisik Sunggyu. Myungsoo diam, memberinya isyarat untuk diam terlebih dahulu.

“Itu salahmu sendiri, Jang Hyeon Mi-ssi. Kenapa kau berusaha merebut saos dariku?” tanya Myungsoo. Hyeon Mi mengerucutkan bibirnya sebal lalu duduk tepat di hadapan Myungsoo dan Sunggyu. Sepertinya dia belum menyadari keberadaan Sunggyu.”Sekarang, boleh aku mengenalkanmu pada seseorang?” tanya Myungsoo.

Hyeon Mi dengan cepat menyadari keberadaan Sunggyu dan menundukkan kepalanya. Tampaknya gadis itu malu dengan kenyataan bahwa dia telah berteriak di depan seseorang yang tidak dia kenal.”Kim Sunggyu imnida,” kata Sunggyu sambi menahan tawanya.”Kau tidak ingat diriku?” tanya Sunggyu.

Sunbae yang tadi bermain melawan kelasku kan? Yang membuat Jinwoon keluar dan membiarkan Woohyun sunbae membuatku keluar?” jawab Hyeon Mi memastikan. Sunggyu tersenyum. Myungsoo hanya melihat sunbae dan sepupunya bergantian dengan tatapan heran.”Jang Hyeon Mi imnida,” kata Hyeon Mi.

“Kau ini siapanya Myungsoo? Pacarnya?” tanya Sunggyu tiba-tiba. Membuat Myungsoo yang baru saja mengunyah lauk miliknya tersedak. Sedangkan Hyeon Mi hampir saja menyemburkan air yang baru diminumnya.”Apa aku salah bertanya?” gumam Sunggyu heran melihat tingkah kedua hoobae-nya itu.

“Dia sepupuku, hyung,” jawab Myungsoo setelah berhasil menormalkan napasnya.

Jjinjja?” tanya Sunggyu terkejut.”Aku tak percaya kalau dia ini sepupumu, Myungsoo,” lanjutnya. Sunggyu lalu memperhatikan wajah Hyeon Mi dan Myungsoo secara bergantian.”Aku tidak melihat kemiripan di antara kalian,” kata Sunggyu.

Sunggyu menarik napasnya sebelum melanjutkan perkataannya,”aku tak percaya kalau kau memiliki sepupu secantik ini.”

-00-

Oppa, eotteohke?” tanya Jiyeon. Mata besarnya menatap Woohyun penuh harap. Sedangkan pria di hadapannya tengah sibuk mengunyah kimbab buatannya.”Eotteohke??” tanya Jiyeon tidak sabaran.

“Bisakah kau menungguku selesai makan?” tanya Woohyun setelah bersusah payah menelan kimbab-nya. Jiyeon tak merespons, terus menatapnya dengan mata besarnya.”Lebih enak dari yang terakhir kali,” jawab Woohyun sebelum meminum air mineral miliknya.

Jeongmalyo?” pekik Jiyeon senang. Kerja kerasnya pagi ini tidak sia-sia rupanya. Woohyun mengangguk. Jiyeon tersenyum cukup lebar sampai-sampai Woohyun tak bisa melihat mata besar Jiyeon.”Lain kali akan kubuatkan lagi, eottae?” tawar Jiyeon. Woohyun hanya tersenyum.

Keduanya terdiam. Sampai akhirnya Woohyun merebahkan dirinya di lantai atap. Sedang kepalanya ditaruhnya di atas pangkuan Jiyeon. Membuat gadis itu sedikit terkejut dengan tindakan Woohyun. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena Jiyeon malah merapikan rambut Woohyun yang sedikit berantakan.

Oppa mengantuk?”

Eung, mungkin aku akan tidur sebentar. Bangunkan aku jika bel sudah berbunyi, arachi?”

Eo,”

Woohyun memejamkan matanya. Jiyeon hanya menatapnya dengan tatapan lembut.Sesekali merapikan rambut yang jatuh mengenai mata Woohyun.

Stop staring at me like that, Park Jiyeon-ssi,” kata Woohyun yang tiba-tiba membuka matanya.”Aku ingin tidur,” lanjutnya lagi.

Jiyeon tak menjawab. Hanya langsung berdiri sehingga membuat kepala Woohyun terantuk lantai.

Waeyo?”

“Aku belum mengerjakan PR, oppa. Aku harus kembali ke kelas sekarang,”

Jiyeon segera membereskan kotak makan siangnya dan segera berlari menuju kelas. Meninggalkan Woohyun dengan tampang terkejutnya.

You’re such a big liar, Jiyeon-ie,” gumam Woohyun sambil tertawa kecil.

-00-

Jiyeon masuk ke ruang kelasnya dengan wajah yang masih memerah. Dia masih sibuk menenangkan degup jantungnya yang berdetak terlalu cepat. Seakan khawatir jika Woohyun mengetahui apa perasaannya yang sebenarnya.

Jiyeon berjalan menuju mejanya dan mendapati Hyeon Mi tengah tertidur. Berusaha tak membangunkannya, Jiyeon duduk di bangkunya dengan pelan.

Gadis berambut cokelat itu menoleh ke arah Hyeon Mi. Gadis itu sedang tertidur dengan sebuah buku sebagai bantalnya. Mungkin saat sedang membaca sesuatu, dia jatuh tertidur, pikir Jiyeon. Dirinya lalu mengamati buku itu dan berusaha membaca apa isi buku itu.

Mwoya ige?” gumamnya saat melihat sebuah foto di atas buku itu. Sebuah foto diri Hyeon Mi yang sedang membawa sesuatu. Pita berwarna hijau.

“Kau sedang apa, Jiyeon?” tanya seseorang. Jiyeon mendongak dan mendapati Myungsoo berdiri di hadapannya dengan ransel berada di pundaknya.

Aniya. Kau sendiri sedang apa disini?”

“Aku disuruh pindah ke kelas ini,”

Ah..begitu,”

“Kau…mengenal Hyeon Mi?” tanya Jiyeon. Myungsoo hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Jiyeon. Sedang tangannya menarik buku yang ditiduri Hyeon Mi agar buku itu tidak rusak.

Aish… Dia masih menyimpan benda itu?” gumam Myungsoo sambil mengambil foto yang terjatuh dari buku itu..

Wae? Ada apa?”

“Dia masih menyimpan benda yang diberikan oleh teman masa kecilnya,”

“Lalu kenapa? Bukankah itu hal bagus?”

“Tapi dia tak mau melihat laki-laki lain,”

“Kemana temannya itu?”

“Kudengar dia mengalami kecelakaan. Dan aku tak tahu bagaimana kabarnya,”

Jiyeon terdiam. Matanya meneliti foto yang diletakkan Myungsoo di atas meja. Mengamati benda yang sedang dipegang Hyeon Mi dalam foto itu. Seketika dirinya membeku. Benda itu, lonceng dengan pita berwarna hijau. Sama persis dengan yang disimpan oleh Woohyun.

Yang artinya sama persis dengan yang disimpannya rapat di laci mejanya. Yang menandakan kalau Hyeon Mi adalah teman masa kecil Woohyun. Hyeon Mi adalah cinta pertama Woohyun.

Supermarket

Oppa, berhenti memasukkan snack!” teriak Hyeon Mi memarahi Wooyoung. Sudah terlalu banyak snack yang dimasukkan oleh kakak laki-lakinya itu. Bukan apa-apa, dia hanya takut kesehatan kakaknya itu terganggu.

Eo, ahjumma, annyeonghaseyo,” kata Wooyoung menyapa seseorang. Wooyoung berhenti mendadak membuat Hyeon Mi hampir saja menabraknya dengan troli belanja.

Nuguya, oppa?” tanya Hyeon Mi.

“Kau tidak ingat? Dia Nam ahjumma, ibu Woohyun,”

Hyeon Mi terpaku. Matanya menatap sosok wanita di hadapannya. Ya, dia familiar dengan perasaan ini. Tatapan mata wanita itu sama dengan yang sering dia lihat dua belas tahun lalu. Saat dia masih sering bermain dengan Woohyun.

“Kau sudah besar ya, Hyeon Mi,” kata wanita itu. Hyeon Mi hanya tersenyum menanggapi perkataannya.

“Sendiri saja, ahjumma?” tanya Wooyoung mencoba berbasa-basi.

“Iya, Woohyun tidak bisa mengantar karena dia sibuk mengerjakan tugasnya,” jawab Nam ahjumma.”Ah, bagaimana kalau kalian mampir ke rumah?”

Wooyoung melirik ke arah Hyeon Mi. Adiknya itu masih tersenyum kecil. Sebuah ide terbesit di kepalanya.”Choisunghamnida, ahjumma. Temanku baru saja datang ke rumah. Bagaimana kalau Hyeon Mi saja yang mampir? Toh dia juga sudah lama tidak bertemu ahjumma,” kata Wooyoung.

“Itu ide bagus. Kebetulan sekali Woohyun ada di rumah. Kalian bisa bertemu,” jawab Nam ahjumma senang. Tidak mengetahui bagaimana perasaan Hyeon Mi.

“Kalau begitu, aku duluan. Hyeon Mi, biar aku bawa belanjaannya. Nanti sore kau kujemput, arasseo?” kata Wooyoung.

Hyeon Mi baru saja akan membuka mulutnya untuk mencegah Wooyoung pergi. Tapi, Wooyoung sudah terlanjur mengambil kendali troli dan membawanya menjauh.

Woohyun’s Home

Hyeon Mi memasuki kediaman keluarga Nam dengan hati-hati. Seolah-olah dirinya ini adalah seorang pencuri yang takut tertangkap basah sedang melancarkan aksinya. Kenyataannya, dia takut berhadapan dengan Woohyun sekarang ini.

“Hyeon Mi?” sapa seseorang.

Hyeon Mi menoleh dan mendapati Jiyeon memandangnya dengan tatapan heran. Hyeon Mi juga tidak kalah terkejutnya dengan gadis di hadapannya ini. Dirinya sama sekali tidak menyangka akan bertemu Jiyeon di rumah keluarga Nam ini.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jiyeon pelan.

“Aku…aku tadi bertemu eomoni di supermarket,”

“Kau mengenal eomoni?”

Well…ya, bisa dibilang begitu,”

Hyeon Mi kebingungan menjawab pertanyaan Jiyeon. Dirinya takut kalau Jiyeon sampai mengetahui hubungan dirinya dengan keluarga Nam.

“Hyeon Mi?” kali ini suara berat menyapu indera pendengarannya. Dengan berat hati, Hyeon Mi membalikkan badannya. Benar saja, Woohyun berdiri di hadapannya.

Hyeon Mi bisa merasakan lututnya lemas sekarang. Pria di hadapannya, yang merupakan kakak kelasnya, adalah teman masa kecilnya. Teman masa kecil yang tampaknya sudah melupakan keberadaan Hyeon Mi. Ingin rasanya Hyeon Mi menjatuhkan dirinya ke lantai. Lututnya sudah terasa lemas sekali sekarang.

Eomma, kenapa Hyeon Mi ada disini?” tanya Woohyun pada ibunya yang sedang berada di dapur.

“Kau tidak ingat? Hyeon Mi itu tetangga kita dulu,”

Jiyeon hanya bisa memandang Hyeon Mi dan Woohyun gelisah. Takut kalau Woohyun mengingat Hyeon Mi dan mulai melepaskan dirinya. Dia belum siap, dan tidak akan siap, jika Woohyun berpaling darinya. Meninggalkan dirinya.

Oppa, kau belum selesai mengajariku soal matematika. Berusaha kabur, huh?” kata Jiyeon tiba-tiba. Dia harus melepaskan Woohyun dari situasi ini, entah bagaimana caranya. Dan dengan cepat gadis itu sudah menarik Woohyun menuju ruang tengah. Meninggalkan Hyeon Mi yang masih terkejut dengan situasi di hadapannya.

-00-

Hyeon Mi masih melihat Jiyeon dan Woohyun saat Nam ahjumma meletakkan segelas orange juice di hadapannya. Hyeon Mi tersenyum dan menggumamkan terima kasih. Sedangkan Nam ahjumma balas tersenyum dan ikut duduk di samping Hyeon Mi. Ikut memperhatikan Jiyeon dan Woohyun dari ruang makan.

“Sudah berapa lama?” tanya wanita itu tiba-tiba.

“Apanya, eomoni?”

“Kalian tidak bertemu?”

“Sepuluh? Atau dua belas? Sekitar itu,” jawab Hyeon Mi pelan.

Nam ahjumma menarik napas pelan. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Hyeon Mi.

“Hyeon Mi-ya, Woohyun sebenarnya mengalami amnesia,” gumam wanita itu.

Hyeon Mi terdiam. Bayang-bayang kecelakaan dua belas tahun lalu kembali memenuhi kepalanya. Bagaimana Woohyun kecil tersenyum padanya sebelum menyeberang. Bagaimana sebuah mobil akhirnya menabrak tubuh kecil Woohyun.

“Dia tidak mengingat masa kecilnya di Ilsan. Lebih tepatnya, tidak mengingat dirimu, Hyeon Mi-ya. Yang dia ingat, teman yang selama ini menemaninya bermain adalah Jiyeon. Karena begitu dia sadar dari kecelakaan itu, kami sudah membawanya ke Seoul,” jelas Nam ahjumma.

Hyeon Mi terdiam. Setetes air mata jatuh menuruni pipinya tanpa dia sadari. Jadi, ini alasan kenapa Hyeon Mi merasa Woohyun sangat mirip dengan seseorang. Karena Woohyun adalah Nam Woohyun, Namu oppa-nya, yang dulu berjanji akan kembali.

“Tapi, dia ingat ada seseorang yang memberikannya pita dan lonceng. Kau ingat?” tanya Nam ahjumma. Hyeon Mi mengangguk.

“Apa Woohyun oppa juga mengingat Jiyeon sebagai orang yang memberikan pita itu, eomoni?” tanya Hyeon Mi sambil terisak.

“Aniya, dia tidak pernah ingat siapa yang memberikan pita itu. Woohyun hanya ingat benda itu pemberian seseorang,” jawab Nam ahjumma pelan. Seakan enggan memberitahukan kebenaran pada gadis di hadapannya ini.

Tanpa mereka sadari, Woohyun mengamati mereka dari ruang tengah. Sedikit bingung kenapa Hyeon Mi menangis dan ekspresi gelap ibunya. Apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan?, pikir Woohyun.

T.B.C

7 comments on “She is Me (Part 2)

  1. Hya, Jiyeoni, relakan saja lah..
    Penasran, Thor.
    Cepat lanjut 😉 •Gampang banget sebagai reader rikues lanjut•

    Well, I found a lil things. Sebaiknya dikasih tanda pemisah sebelum scene pindah ke supermarket. Satu lagi scene pindah ke rumah Woohyun.

    And I’d like asking you something
    Woohyun punya ayah?
    apa marga Nam dia dapet dr ibunya?

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s