[Freelance] You’re My Melody

FF50%
Author             : F_lygee
Main Cast        : Soyeon T-ARA, Gikwang BEAST, Wooyoung 2PM
Support Cast   : IU, Nicole KARA, Jinwoon 2AM
Genre             : Romance
Length            : One-Shot
Rated             : PG-13
Author’s Note : My first. Give me your comment, please~ kamsahamnida!! (^O^)/

 Posting By: Mizucha -310113-  

Last edit by thecuties -020213-

 (Author Pov)

“Jadi, kalau kejadiannya seperti ini kita pakai rumus yang ini, sehingga peluang dari kejadian ini adalah 40%. Mengerti anak-anak? Jika kejadiannya…..”

Kim Seonsaengnim(guru) masih asyik menjelaskan materinya sedangkan Soyeon yang sudah mulai bosan malah menopang dagunya sembari melirik ke arah Gikwang yang duduk dua meja di depannya.

Hufht…  Peluang… Bagaimana peluangku menjadi pacarnya, ya? 50%? 20%? Atau 0%?” kata Soyeon dalam hati mulai melayang ke dunia fantasinya.

“Ehem ehem, Soyeon-ssi, apa jawaban soal nomor tiga?” tiba-tiba Kim Seonsaengnim sudah berdiri di depan Soyeon dan membuatnya gelagapan panik.

“Mati aku! Soal apa sih? Aduh, belum aku kerjain tuh soal. Mampus dah mampus! Ih ampun, Gikwang menertawakan aku! Eh… Eh dia menunjukkan kertas apa tuh? Hah? C? Apaan C? Oh!”

“Jawabannya C Kim Seonsaengnim, 25%.” kata Soyeon ragu-ragu berharap Kim Seonsaengnim tak menyuruhnya menjelaskan cara mengerjakannya.

“Bagus, Soyeon-ssi jangan melamun lagi, ya,” ujar Kim Seonsaengnim yang membuat Soyeon menghela nafas lega.

***

(Soyeon Pov)

“Darimana tadi kamu tahu jawabannya C? Dapet bisikan malaikat mana?” kata Jieun yang masih cengengesan saat kami berjalan pulang bersama. Dia adalah sahabat baikku sejak kecil. Sebenarnya di sekolah ini dia biasa dipanggil IU. Tapi aku masih memanggilnya dengan nama kecilnya, Jieun. Di SMA ini dia sangat populer dengan suara merdunya, bahkan dia sering diminta tampil untuk mengisi acara sekolah.

“Dari malaikat ganteng! Kamu tuh bukannya bantuin temen malah cekikan di sebelahku,” ucapku sambil menjitak kepalanya.

“Aw! Mianhae (maaf), aku aja kagak tahu jawabannya, by the way malaikat ganteng siapa? Gikwang pujaan hatimu?” kata Jieun memegang kepalanya. Yap, dia udah pasti tahu aku suka Gikwang. Cuman dia satu-satunya yang tahu siapa orang yang telah mencuri hatiku.

“Iya~ Masa tadi, ya, dia ngetawain aku. Tapi dia lalu ngeliatin kertas jawaban gitu! Duh, malu nih,” ujarku semangat mendengar nama pangeranku disebut.

“Aih~ Dia suka kamu tuh, eh aku duluan, ye. Dah, Honey!” kata Jieun seraya melambaikan tangan lalu berbelok ke gang menuju rumahnya. Aku memutuskan untuk mampir ke toko aksesoris baru yang berada tak jauh dari rumahku. Beberapa hari lagi temanku Nicole berulang tahun.

Saat aku hendak mengambil sebuah boneka yang letaknya jauh dari jangkauanku tiba-tiba ada seseorang yang berbaik hati mengambilkannya untukku.

“Hei, Soyeon, kan?” ujarnya. Dia Wooyoung teman seangkatanku. Orangnya ramah dan cukup menyenangkan, tapi kami tak terlalu akrab karena kelas kami cukup berjauhan sehingga jarang berpapasan.

“Ah, Wooyoung-ssi, sedang apa di sini?” kataku yang merasa aneh ada namja yang mampir ke toko ini sendirian.

“Mmm, sebenernya aku mau nyari kado buat adikku. Besok dia ulang tahun. Kebetulan banget ketemu kamu. Mau bantu pilihkan tidak?” pintanya dengan angelic smile-nya. Dia memang tampan, apalagi dengan jarak yang cukup dekat ini. Aku pun mengiyakan dan mulai mencari barang yang cocok.

***

(Soyeon Pov)

Aku menegak habis minumku. Tenggorakanku sudah cukup kering sedari tadi bernyanyi mengalahkan suara instrumen lain yang cukup keras itu. Sore ini aku masih berada di ruang musik sekolahku bersama member band lainnya.

“Latihannya besok lagi saja, ya guys, sudah lama kita latihan. Kasihan Soyeon. Nanti malah sakit tenggorakannya, kan gawat,” ujar Gikwang, drummer sekaligus ketua di band sekolah kami S2GO. Dia memang cukup usil tapi dia sangat menyenangkan dan entah sejak kapan dia mengisi hatiku.

“Oke, Bos!” ujarku bersamaan dengan Nicole sang keybordist dan Jinwoon, gitarist kami. Setelah membereskan barang masing-masing Nicole dan Jinwoon pulang lebih dulu. Saat aku hendak membuka pintu, Gikwang menyuruhku untuk menunggunya di gerbang. Dia akan mengantarku hari ini. Aku pun tentu saja mengiyakan. Selain karena hari sudah mulai gelap, jalan menuju rumahku cukup sepi. Biasanya aku pulang bersama Nicole. Tapi malam ini, dia dan Jinwoon akan mengerjakan tugas kelompok.

***

(Author Pov)

“Soyeon-ssi! Terima kasih untuk kemarin. Adikku senang sekali dengan boneka pilihanmu,” ucap Wooyoung yang berpapasan dengan Soyeon di koridor menuju gerbang sekolah.

“Oh, ya? Syukur lah aku ikut senang,” jawab Soyeon.

By the way aku boleh meminta nomormu? Sepertinya aku akan butuh bantuanmu lagi,” ujar Wooyoung sambil mengambil handphone-nya bersiap untuk mencatat nomor Soyeon. Gikwang yang sedari tadi melihat mereka berdua dari jauh merasakan sesuatu yang aneh dan membuatnya gerah kala itu.

***

Gikwang membawa Soyeon mampir ke taman kota. Sepertinya Gikwang sangat lapar malam itu. Dia sudah menghabiskan tiga potong roti bakar yang dia beli tak jauh dari sana. Gikwang menengok ke arah Soyeon saat sadar dari tadi gadis itu terus melihatnya.

“Kenapa? Maaf, ya, aku terlalu rakus,” ujar Gikwang dengan mulut penuh.

Ani, kenapa minta maaf padaku. Terimakasih, ya, traktirannya,” ujar Soyeon tersenyum.

“Mmm, Soyeon-ah, apa kau dekat dengan Wooyoung? Kulihat tadi kalian cukup akrab,” tanya Gikwang tiba-tiba yang membuat Soyeon tersedak. Gikwang dengan cekatan memberikan minuman kalengnya yang langsung diminum Soyeon. Setelah itu wajah Soyeon berubah menjadi merah. Tampaknya dia malu dengan pertanyaan yang diajukan oleh Gikwang dan membuat Gikwang tidak melanjutkan pertanyaannya.

***

 (Soyeon Pov)

Aku masih berbunga-bunga saat ini. Secara tak langsung aku telah berciuman dengan Gikwang. Tadi aku meminum kaleng yang telah digunakan Gikwang. Mungkin wajahku tadi sudah seperti kepiting rebus. Aku merasa wajahku tadi memanas hingga telinga dan akhirnya aku hanya menunduk selama bersama Gikwang tadi. Apa Gikwang menyadarinya? Aih, kuraih dan kupeluk boneka pandaku erat. Tiba-tiba ponselku berdering tanda ada pesan yang masuk.

*From: Wooyoung*

Annyeong Soyeon-ssi, kau sudah di rumah? ^_^

*To: Woyoung*

Ne, aku sudah di rumah, bagaimana denganmu? ^o^

Malam itu aku menghabiskan malamku berkirim pesan dengan Wooyoung hingga aku merasa mengantuk dan jatuh tertidur.

***

Sudah seminggu semenjak kejadian malam itu. Wooyoung masih rutin mengirimiku pesan tiap malam. Hari ini dia ingin melihat latihanku bersama band-ku S2GO untuk pentas akhir tahun yang diadakan dua minggu lagi.

(Gikwang Pov)

Apa-apaan anak itu. Dia datang tanpa diundang dan sekarang dia malah asyik mengobrol dengan Soyeon. Kulihat dia tertawa-tawa bersama Soyeon. Ini sangat mengganggu latihan. Kenapa aku jadi kesal, ya?

“Aku pulang duluan. Tidak enak badan,” ujarku sambil mengambil tasku dan berlalu dari ruangan itu. Kuhiraukan pandangan bertanya dari member lain. Aku sudah tak tahan melihat pemandangan menyebalkan tadi.

(Soyeon Pov)

Ada apa dengan Gikwang? Apa dia kelelahan? Tapi raut mukanya tadi lebih seperti orang yang sedang emosi. Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya? Ah, aku jadi mengkhawatirkannya. Aku mengambil ponselku dan mulai mengetik pesan untuknya.

*To: Gikwang ©*

Apa tidak apa-apa kau pulang sendiri?

Kucoba mengirim pesan padanya yang tak kunjung mendapat balasan.

 “Soyeon-ssi, apa minggu ini kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu membeli kado untuk IU. Kau sudah tahu kan aku sudah lama menyukainya. Aku berencana menyatakan perasaan padanya dalam waktu dekat. Soyeon-ssi apa kau mendengarkanku?” suara Wooyoung membuyarkan lamunanku yang masih memikirkan Gikwang.

“Ah? Mm, boleh. Aku minggu ini luang.”

***

Siang ini cukup cerah. Wooyoung mengajakku pergi ke toko boneka di pusat perbelanjaan tak jauh dari rumahku. Wooyoung sudah mendapatkan sebuah boneka teddy bear besar yang menurutku sangat cocok jika diberikan kepada Jieun yang sangat suka boneka teddy. Setelah lama berjalan kami pun mampir ke sebuah kafe sederhana yang berada di pojok mall. Kami masih asyik berbincang hingga aku merasa seseorang menatap tak suka kepadaku. Namun, anehnya saat aku mencoba mencari asal tatapan itu, tak seorang pun yang berada di sana.

(Gikwang Pov)

Aku sedang jenuh di rumah. Mungkin aku butuh udara segar dan akhirnya aku memutuskan mengajak Jinwoon menemaniku ke pusat perbelanjaan untuk membeli stik drum baru. Kebetulan aku datang lebih pagi dan jadilah aku menunggunya di pojok mall di seberang sebuah kafe.

Aku sedang mencari-cari sosok Jinwoon yang tinggi sebelum aku melihat seseorang yang kukenal memasuki kafe itu. Benar, itu Soyeon. Tapi dia tak sendirian dan aku sangat familiar dengan sosok di sebelahnya. Tak salah lagi itu Wooyoung. Sosok yang saat ini sedang tidak ingin kulihat. Kulihat mereka sangat asyik berbincang-bincang layaknya sepasang kekasih. Dan bayangan itu membuatku ingin pergi secepatnya dari sini.

Kulangkahkan kakiku menjauhi tempat itu. Kudengar Jinwoon memanggilku dari kejauhan. Tak kuhiraukan dan kupercepat langkahku menuju tempat parkir motorku. Aku lajukan motorku dengan kecepatan tinggi dengan pikiran yang masih tertinggal di kafe tadi.

Sebenarnya apa hubungan mereka? Mengapa Soyeon tak menjawab pertanyaanku waktu itu, apa memang benar mereka sudah berpacaran, tapi kenapa aku mesti ambil pusing akhir-akhir ini, apa aku memang suka pada Soyeon? Ah, aku tak mengerti!

***

(Soyeon Pov)

Tinggal satu minggu lagi sebelum acara pentas seni dilangsungkan. Aku makin sering memergoki Gikwang memberikan tatapan sinis padaku. Apa salahku sehingga dia bersikap begitu padaku? Setiap aku mendekatinya, pasti dia sedikit menjauh dan pergi, sehingga aku tak sempat berkata apapun. Pesan yang kukirimkan juga jarang mendapat respon jika bukan hal yang benar-benar mendesak dan itu membuatku benar-benar frustasi.

Latihan hari ini sudah selesai. Tentu saja Gikwang yang paling dulu meninggalkan ruangan ini. Mungkin dia masih merasa jengkel padaku walau aku tak tahu sebabnya. Jinwoon dan Nicole juga baru saja pulang. Tinggal aku sendirian di sini menunggu hujan reda sambil merapikan alat musik yang tadi kami pakai.

Tiba-tiba saja pintu terbuka dan muncul sosok Gikwang yang sedikit kebasahan. “Kau belum pulang?” tanya Gikwang padaku yang hanya mengangguk tak berani menatap wajahnya. “Sepertinya dompetku tertinggal di sini. Kau pulanglah duluan biar aku yang menguncinya nanti,” katanya tanpa kutanya. Tapi karena hujan sepertinya masih cukup deras aku memutuskan untuk membantunya mencari dompet hitam miliknya.

Saat kami berdua sibuk mencari, suara petir menggelegar dan tiba-tiba lampu mati. Aku yang memang tidak suka gelap tak sengaja langsung memeluk Gikwang yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Selang sesaat lampu menyala kembali dan seketika aku langsung melepaskan pelukanku dan menjauh.

Entah kenapa sepertinya kurasakan dia mendekat padaku. Mungkin dia akan memarahiku saat ini. Aku hanya mampu menunduk dan tiba-tiba tangan Gikwang mengangkat daguku. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya. Tapi sepertinya wajahnya semakin mendekat ke arahku.

“Apa yang sedang Gikwang lakukan? Apa dia akan menciumku?” pikirku. Akhirnya aku memejamkan mataku dan aku mendengar suara pintu terbuka. Aku spontan menjauh dari Gikwang dan melihat ke arah pintu. Kulihat Wooyoung yang sepertinya tidak melihat apa yang Gikwang lakukan padaku tadi.

“Soyeon-ssi, ayo pulang bersamaku, hujannya masih lumayan lebat dan mungkin akan lama jika kau menunggunya reda,” katanya yang langsung aku iyakan. Dengan cepat aku meraih tas dan meninggalkan Gikwang yang masih mematung di tempat yang sama. Aku tak berani menoleh ke belakang menutupi wajahku yang mungkin sudah merah padam.

***

Hari ini pentas seni dilaksanakan. S2GO sudah selesai tampil dengan lancar tanpa kendala dan sekarang aku sedang berkeliling menikmati suasana pentas seni yang meriah. Kulihat Jinwoon dan Nicole bergandengan tangan mesra menikmati penampilan dari Jieun yang menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdunya. Aku heran sejak kapan mereka menjadi sepasang kekasih. Aku iri melihat mereka dan memutuskan untuk mencari spot lain untuk melihat panggung.

“Di mana cowok yang akhir-akhir ini dekat denganmu?” tanya seseorang dengan suara yang sangat akrab di telingaku. Gikwang yang entah sejak kapan berdiri di belakangku memberikanku segelas minuman.

Molla, dia tadi tiba-tiba menghilang entah ke mana,” jawabku. Kulihat raut mukanya yang seolah kecewa dengan jawabanku. Aku lalu mengambil minuman yang dia sodorkan. Sudah lama dia tak mengajakku bicara lebih dulu. Jantungku kembali berdegup dengan kencang saat berada di sampingnya seperti ini, apalagi tiba-tiba aku teringat kembali kejadian di studio itu.

“Soyeon-ssi!” teriak Wooyoung yang berlari ke arahku. “Sebentar lagi aku akan menyatakan cintaku pada IU. Doakan berhasil, ya!” bisiknya di telingaku agar aku dapat mendengarnya dengan jelas mengingat tempat ini sudah pasti sangat berisik.

***

(Gikwang Pov)

“Berani sekali dia mencium pipi Soyeon di depanku,” aku melayangkan tinjuku ke pintu kamar mandi di depanku. Aku yang tak tahan melihat pemandangan tadi berlalu untuk menenangkan pikiran. Aku masih tak percaya Soyeon benar-benar menjalin hubungan dengan Wooyoung. Aku emosi, mengapa aku terlambat menyadari bahwa aku suka pada Soyeon. Sudahlah, aku kembali saja. Mungkin mereka sudah pergi.

(Author Pov)

Gikwang yang sudah sedikit tenang memutuskan untuk kembali ke tempat tadi dan dia melihat beberapa berandal sekolah menarik-narik Soyeon dan membuat Soyeon ketakutan.

“Lepaskan dia!” kata Gikwang sambil menarik Soyeon ke belakangnya. “Dia bersamaku, tolong jangan ganggu kami.”

Berandal tadi yang sepertinya terkena efek minuman keras pergi menjauh meninggalkan mereka berdua. Soyeon yang ketakutan menangis dengan cukup keras. Gikwang dengan lembut memeluknya dan mengelus kepala Soyeon.

Yak! Baboya (bodoh)! Ke mana saja kau tadi? Seenaknya meninggalkanku sendirian di sini,” kata Soyeon ditengah isakan tangisnya.

Mianhae, aku kira kau sudah bersama Wooyoung. Aku tidak mau menganggu kalian. Kamu tahu, aku sakit hati setiap melihat kalian berdua. Tapi karena aku sayang kamu, apa boleh buat, selamat, ya, untuk kalian. Kudoakan semoga hubungan kalian awet,” kata Gikwang yang seketika membuat Soyeon melepaskan pelukannya keheranan.

“Maksudmu, kau pikir aku kekasih Wooyoung?  Babo! Yang aku suka itu kamu! Aku selama ini cuman mau membantu Wooyoung yang suka IU, sahabatku. Jadi itu alasanmu mengacuhkanku selama ini? Nappeun neom (orang jahat)!” kata Soyeon sambil memukul-mukul Gikwang.

(Gikwang Pov)

Apa aku tak salah dengar? Sepertinya tadi aku mendengar sesuatu yang tak kusangka selama ini. Apa cintaku tak bertepuk sebelah tangan?

Aku yang cukup lama mematung menarik tangan Soyeon yang sedaritadi memukuliku dan mencium bibirnya lembut. Aku sangat bahagia saat ini. Aku tak menyangka akan begini jadinya.

Mianhae, Soyeon-ah, aku salah paham terhadapmu, saranghae (aku mencintaimu), jadilah milikku,” kataku sambil memeluknya.

Gwaenchana (tidak apa-apa), nado saranghae (aku juga mencintaimu),” jawab Soyeon yang juga memelukku dengan erat.

***

(Author Pov)

Puncak acara telah dimulai. Kembang api besar mulai dinyalakan bersamaan membuat suasana menjadi semakin meriah. Gikwang mengajak Soyeon mendekati panggung. Di sana mereka bertemu Wooyoung yang merangkul pundak IU. Wooyoung yang melihat Soyeon lalu mengacungkan jempolnya tanda keberhasilannya merebut hati IU. Soyeon tersenyum dan kembali melihat kembang api dalam rangkulan tangan Gikwang.

^END^

Mianhae kalok gaje~ maklum pemula 😀

Kalo ada karakter yg gak sesuai itu memang hanya pemikiran author belaka jadi harap maklum ya reader. Mohon kritik dan sarannya baik FF nya maupun posternya juga boleh *ups* hehe~

Kamsahamnida~ \(^O^)/

Advertisements

One comment on “[Freelance] You’re My Melody

  1. Hei, pertama-pertama ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya adalah editor di SOFF, dan saya kebetulan mendapatkan giliran untuk mengedit tulisan kamu.

    Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya, yaitu :

    – Pertama, banyak tulisan bahasa slang yang tidak dicetak miring.
    -Kedua, pada bagian author pov, kenapa saat bagian dialog Soyeon selalu menggunakan kata aku? Salah satu contohnya ‘ujarku’. Padahal sudah jelas-jelas dibagian atas ada tulisannya author pov, yang artinya menggunakan sudut pandang orang ketiga.

    Saya harap kamu memperhatikan perbedaan yang saya buat di sini dengan tulisan kamu sebelumnya.

    Regards,
    thecuties

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s