MIDNIGHT IN PERTH [2 of 2]

1359301211-picsay

MIDNIGHT IN PERTH 2 of 2

Teacher : Chelski @LoveyChelsea
Genre : Songfict/Romance
Casts :
Beast AJ aka LEE GIKWANG
Choi Sang Ki (OC)
Lee Chae Rin (OC)

Genre : Romance
Length : Two Shoots
Rated : PG-17

Last edit by thecuties -290113-

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Sangki kembali ke hotel di malam hari. Dia sudah mengisi hari kesepiannya dengan perjalanan yang menyenangkan sekaligus melelahkan.

Sangki berbaring santai di ranjang sambil melihat ponselnya. Tiba-tiba Gikwang masuk tanpa mengetuk pintu. Sangki bangkit.

“Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?”

Gikwang menatapnya serius tapi santai. Dia melempar tabletnya ke samping Sangki. Gadis itu meraihnya. Dia melihat melihat foto dirinya bergandengan mesra dengan seorang namja.

“Bukankah kita sepakat untuk tidak ikut campur urusan pribadi masing-masing?”

Gikwang menatapnya tajam, “Ini bisa jadi berita hebat.”

“Kau mau memberitakannya?” tanya Sangki.

Gikwang tersenyum masam. “Itu peluang bagus untukku agar bisa lepas dari pertunangan yang memuakan ini. Sekaligus merusak karirmu.”

Sangki berdiri. “Apa maumu, Lee Gikwang?”

“Pergi dan memohon pada ayahmu untuk memutuskan pertunangan, atau kulakukan dengan cara itu,” ucap Gikwang sambil menatap tablet yang dipegang Sangki.

Sangki menatapnya nanar. “Kau tidak seriuskan?”

Gikwang mendekatkan dirinya satu langkah di depan Sangki. Dia tersenyum masam. “Ani~. Ini permainan yang menyenangkan bagiku.”

Pandangan mereka bertemu dalam energi yang berbeda. “Kenapa kau harus melakukan ini padaku?”

“Cara yang pertama bisa kau lakukan agar kita bebas. Tapi plan B akan kulakukan jika plan A tak kau jalankan.”

Perasaan Sangki hingar bingar dipenuhi berbagai warna yang tak jelas dan membuatnya speechless.

Gikwang mendekatkan kepalanya dan berjarak 10 senti di depan wajah Sangki. “Aku tinggal mengatakan ya, sebuah berita akan menghebohkan dunia K-pop. Jadi, silahkan kerjakan plan A.”

Gikwang segera meninggalkan kamar Sangki dan yeoja terdiam sebelum mengejar Gikwang dan mereka berdebat di ruang tengah.

“Kalau kau penasaran kenapa aku melakukan hal ini, akan kukatakan,” ucap Gikwang. “Aku selalu melakukan hal yang sama pada orang-orang yang memanfaatkanku. Choi Sangki sudah memanfaatkanku untuk menaikan popularitas, mencari sensasi dan mendapat keuntungan bagi perusahaan ayahnya.”

Neo…” Sangki tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia tersentak dengan pernyataan Gikwang barusan.

“Kau mengatakannya di Jeju tujuh bulan lalu, kau mencari sensasi melalui pertunangan kita.”

Sangki merasa down, bagaimana mungkin dia meminta ayahnya memutuskan pertunangan? Saat ini jelas-jelas BIG Entertaiment tengah mengalami kesulitan yang ditutupi oleh grup Geumsan.

“Ternyata kau punya jiwa monster di balik wajah malaikatmu itu,” ungkap Sangki.

Being a beast or angel, it depends on you. And you made me a beast, Dear,” respon Gikwang dengan tatapan setan. Gikwang mengelus pelan kepala Sangki. “Plan A or B, tak ada yang lebih baik, bukan?”

Sangki menepis tangan Gikwang. Matanya berkilat antara marah dan sakit hati. “Baiklah, akan kupikirkan. Sambil mencari plan C.”

Sangki pergi keluar, meninggalkan Gikwang yang termenung sendiri. Ini sedikit di luar harapannya. Gikwang ingin Sangki memohon. Tapi gadis itu malah pergi untuk memikirkan cara lain.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Gikwang menghabiskan malam di Burswood Entertainment Complex, kawasan hiburan di mana terdapat kasino dunia. Setelah puas bermain dan sedikit mabuk, Gikwang kembali ke hotel tengah malam. Saat dia tiba di depan kamarnya, ada beberapa pelayan.

Excuse me, what are you doing here?” tanya Gikwang.

Seorang pelayan menjelaskan bahwa nona Choi memesan dinner yang harus diantarkan tengah malam tapi tidak ada yang menyahut dari dalam. Gikwang membuka pintu kamar dan membiarkan pelayan membawa masuk roda lalu menata meja dan menyiapkan makan malam. Dia tidak menemukan Sangki di kamarnya. Setelah mereka pergi, Gikwang menengok meja makan. Para pelayan itu menyiapkan dinner untuk dua orang. Gikwang masuk ke kamar Sangki, dia melihat ponsel gadis itu di atas ranjang.

“Mungkin dia sedang frustasi dan mencari hiburan.”

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

This night I can’t fall asleep in So sad tonight
This night I can’t spend with you
In the midnight a a a midnight
This midnight I can’t sleep from my thoughts of you
This night that found me again so sad tonight
This night I greet again without you
In the midnight a a a midnight a
This midnight I can’t fall asleep without you

Sangki menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Tak ada perasaan dingin dan lelah yang mendera tubuhnya setelah sepanjang malam berjalan tanpa tujuan. Sangki berdiri agak lama di tepian Swan River sampai dia memutuskan untuk berjalan lagi meski tidak jelas ke mana. Sangki merasa langkahnya berat kalau harus kembali ke hotel.

Dia menatap jalanan yang masih ramai padahal sudah lewat tengah malam. Sangki larut dalam pikirannya.

‘Ini sangat menyakitkan, tapi aku tak mampu membencimu. Kenapa makhluk berwajah malaikat itu menyembunyikan monster di dalam dirinya?’

Kaki yeoja itu membawanya sampai ke Hay Street, mendekati hotel. Dia menatap gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Karena itu, dia tak melihat sesuatu di depannya. Kaki Sangki menginjak ekor anjing.

Anjing itu menggonggong keras dan membuat Sangki takut. Dia seolah mau menerkam Sangki yang memang takut pada anjing. Gadis itu berlari.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Gikwang bangun pagi-pagi sekali dan dia melihat meja makan yang terletak di dekat jendela itu masih sama. Gikwang membuka pintu kamar Sangki dan mendapati yeoja itu belum kembali. Tak ada perasaan cemas sedikit pun dan dia memilih mandi lalu pergi dengan penampilan casual, jeans, T-shirt putih dibalut kemeja warna mint dan sunglasses.

Di pagi yang cerah itu, Gikwang berjalan kaki menyusuri Hay Street, terus ke Hay Street Mall lalu belok kanan menyusuri Barrack street. Gikwang melihat gedung-gedung perkantoran modern sebelah kanan jalan yang menjulang tinggi di kawasan Centre Business District. Dia mendengar percakapan beberapa orang di sekitar sana.

Is it true that there was an accident in the midnight?” tanya seorang pria pegawai salah satu kantor di sana.

Rekannya menjawab, “The guard have just told me about that.”

Gikwang menghiraukan mereka dan terus berjalan menuju ujung selatan jalan sampai tiba di Barrack Square. Gikwang menatap Swan Bell Tower yang menjadi salah satu ikon kota Perth. Menara setinggi 82,5 meter itu menjadi rumah kaca bagi 12 lonceng St. Maryin in the Fields Elizabeth dari abad ke-14.

Gikwang pergi ke dermaga yang terdapat di Barrack Square. Di sana terdapat terminal feri untuk cruising. Namja imut itu memilih cruising. Saat menikmati sarapan di atas kapal, tiba-tiba saja dia ingat Choi Sangki.

‘Apa yeoja itu sudah pulang? Ah, aku tidak peduli.’

Gikwang berpikir berkali-kali untuk menghubungi Sangki dan dia butuh 30 menit untuk memutuskan memanggilnya. Gikwang menghubungi Sangki tiga kali tapi tak ada jawaban. Dia melirik arlojinya, sudah jam 9.33.

‘Apa dia belum kembali?’ Gikwang mulai merasa cemas. Karena sedang cruising, dia tak bisa kembali ke hotel secepatnya.

Gikwang begegas masuk ke kamar Sangki begitu tiba di hotel. Keadaan kamarnya masih sama. Gikwang melihat ponsel Sangki masih tergeletak di ranjang. Gikwang memeriksa lemari dan dia menemukan sebuah kotak. Gikwang meraihnya dan membuka kotak itu. Sebuah arloji dan kartu ucapan.

Gikwang mengerutkan kening. Dia memeriksa lagi ponsel Sangki dan menemukan pesan di sebuah aplikasi chat.

[Yoojung] : Bagaimana surprisenya? Apa Lee Gikwang menyukainya?

Gikwang mengenal Han Yoojung, aktris di BIG Ent, sahabat Sangki. Gikwang memeriksa chat history mereka. Gikwang baru tahu kalau Sangki menyiapkan pesta kecil. Dia minta banyak pendapat pada Yoojung. Sangki mau menyiapkan kejutan kecil tengah malam tadi untuk ulang tahun Gikwang. Dia tidak bisa pergi di hari ulang tahun Gikwang karena saat itu dia masih di Jerman.

Sangki mengatakan meskipun dia sakit hati karena Gikwang menganggap pertunangan mereka sekedar kepentingan bisnis, tapi Sangki masih menyukainya. Sangki merasa bersalah pernah mengaku bertunangan demi mencari sensasi dan membuat mereka melakukan kesepakatan.

Gikwang menghubungi Yoojung.

Namja bertampang cute itu duduk tidak nyaman sambil berpikir. Dia baru tahu bahwa Sangki menerima perjodohan karena menyukainya. Di mata Sangki, Gikwang adalah orang baik yang bersikap manis. Dia begitu mengagumi kepintaran Gikwang. Walaupun semakin lama, Sangki merasa Gikwang semakin acuh tapi Sangki masih mengaguminya. Baru beberapa bulan bergabung di Geumsan, Gikwang sudah melakukan banyak hal. Gikwang juga menemukan foto-foto dirinya di dalam ponsel Sangki. Bahkan foto Gikwang sedang tidur.

Gikwang putus asa mencari Choi Sangki. Dia tidak tahu harus mencarinya ke mana. Gikwang berjalan lemas di suatu kawasan Hay Street. Dia masih menggenggam ponsel Sangki, berharap yeoja itu menghubungi ponselnya sendiri. Gikwang kembali ke hotel, berharap Sangki pulang.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Wajah Gikwang tampak panik luar biasa. Dia sedang berlari begitu memasuki entrance rumah sakit Royal Perth Hospital. Sangki mengalami kecelakaan tadi malam dan yeoja itu baru siuman dan pihak rumah sakit menghubungi Holiday Inn Hotel.

Gikwang berhamburan mendekati tunangannya. Tapi dokter mengatakan Sangki baru saja tertidur karena pengaruh obat. Sangki mengalami pendarahan di kepala dan sudah dilakukan tindakan operasi.

Gikwang memegang tangan Sangki. Dia manarik napas yang berat dan terasa sesak dan mengutuk dirinya.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Langit-langit berwarna putih adalah hal pertama yang dilihat Sangki saat terbangun dari tidurnya. Dia tahu dirinya terbaring di rumah sakit setelah mengalami tabrakan tadi malam. Sangki merasa seseorang memegang tangannya. Dia menoleh dan melihat Gikwang tertidur sambil menggenggam tangannya.

“Gikwang-ssi?” ucap Sangki terharu. Dia mencoba menyentuh wajah Gikwang. Jemarinya mendarat di kepala Gikwang dan mengusap pelan rambutnya.

Gikwang membuka mata dan bangkit, “Kau sudah bangun?” tanyanya dan semakin menggengam erat tangan Sangki.

Sangki tersenyum dan mengangguk.

Mianhamnida,” ucap Gikwang dengan suara serak.

Sangki ingin bangun tapi Gikwang melarangnya, “Kau tidak boleh banyak bergerak.” Gikwang menunduk. “Entschuldigung.” [German : Maaf]

“Gikwang-ssi,” panggil Sangki membuat Gikwang mengangkat wajah. “Apa kau habis menangis?”

Gikwang tersenyum kecil. “Kau benar-benar membuatku mati ketakutan.”

Sangki merasa tangan mungilnya berada dalam pelukan erat kedua tangan Gikwang. “Kau mengkhawatirkanku?”

Gikwang terdiam sesaat lalu dia mengangkat tangan Sangki dan didekatkannya ke dadanya. Gikwang menundukan kepala dan mencium punggung tangan gadis itu. Gikwang menatap lembut Sangki. Dia mendekati kepala Sangki lalu mencium kening yeoja itu. “Aku tak berharap kau memaafkanku,” bisik Gikwang di dekat telinga Sangki.

“Gikwang-ssi,” Sangki tersenyum haru sampai dia menitikan air mata.

Gikwang menyentuh pipi gadis itu. “Kenapa kau menangis?”

Sangki hanya bisa tersenyum. Dia sudah menangkap apa yang dirasakan Gikwang. Namja itu tampak luar biasa cemas dan sedih. Dia ingin sekali merangkul tunangannya yang tampan dan imut itu.

“Istirahatlah,” ucap Gikwang. “Aku mau keluar sebentar.”

Sangki menahan tangan Gikwang saat namja itu berdiri, “Kajima.”

Gikwang tersenyum kecil. “Hanya pergi ke kamar kecil, tidak boleh?”

Sangki terkekeh meski badannya terasa lemas.

“Aku baru tahu kalau tunanganku begitu posesfi, sampai melarangku ke toilet,” canda Gikwang.

Di malam hari, tuan Lee bersama istrinya dan Chaerin datang ke Perth menengok Sangki. Begitu juga tuan Choi. Gikwang dimarahi keluarganya. Tapi Sangki membelanya.

“Aku yang pergi tanpa memberitahunya. Aku juga tidak hati-hati di jalan,” bela Sangki.

Ayah Sangki tak banyak bicara. Dia sudah cukup lega melihat anak tunggalnya tidak terluka parah.

Chaerin menarik Gikwang keluar.

“Kalian bertengkar, kan?” selidik Chaerin. “Akting kalian sungguh buruk di mataku.”

Gikwang meringis. Chaerin menjewer telinganya, “Ah. Noona, stop!”

“Kau bukan membuatnya berlutut di hadapanmu tapi kau membuatnya hampir mati, hah?”

Noona, I’m not a little boy. Stop, please! Es ist verletzt.” [Ini sakit]

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Sangki stay di Perth Royal Hospital selama sepekan. Chaerin ikut menemaninya, sementara para orang tua harus kembali ke Korea karena kesibukan masing-masing dan mempercayakan Sangki pada Gikwang dan Chaerin.

Hari itu Sangki boleh pulang. Chaerin dan Sangki duduk di ranjang sambil menunggu Gikwang menjemput.

Sunbae, mianhamnida,” ucap Sangki.

“Kenapa kau minta maaf?” tanya Chaerin datar.

“Kritikku pada novel Sunbae.”

Chaerin tertawa kecil. Gikwang membuka pintu dan masuk.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Sangki sudah duduk di dalam pesawat, di antara Gikwang dan Chaerin. Gikwang menggenggam tangan Sangki sejak take off tadi.

“Sangki-ya,” panggil Chaerin. “Kalau bocah nakal itu berani menyakitimu dan membuat ulah, katakan saja padaku.”

Sangki terkekeh sambil melirik Gikwang. Gikwang protes, “Noona, seharusnya kau tak memberitahunya bahwa aku paling takut padamu.”

Komawo, Sunbaenim,” ucap Sangki.

Gikwang tertidur, mungkin karena beberapa hari ke belakang dia tidak banyak istirahat.

Sunbae, aku pikir kau membenciku,” ucap Sangki.

“Aku yang berpikir begitu,” tanggap Chaerin.

“Waktu itu aku terlalu kekanak-kanakan dan sensitif.”

Chaerin tersenyum kecil. “Syukurlah kalau kau sadar.”

“Aku tahu Sunbae begitu tidak menyukaiku,” lanjut Sangki. Kedua yeoja itu saling menatap.

Chaerin tersenyum. “Ne, sampai sekarang aku belum menyukaimu. Sampai kau sembuh dan membuat adikku tertawa setiap hari.”

Sangki tersenyum ceria. Dia merasa Gikwang begitu beruntung punya seorang kakak yang sangat menyayanginya.

“Gikwang bukan orang jahat, meski dia mengatakan hal-hal yang buruk padamu,” ucap Sangki. “Dia menganggap semua orang di sekitarnya hanya ingin memanfaatkannya dan dia banyak menemukan fakta seperti itu. Dia membenci identitasnya dan berharap menjadi orang lain yang punya kebebasan.”

Sangki menceritakan pertemuan pertamanya dengan Gikwang.

Choi Sangki memakai T-shirt longgar dan hotpants ditambah topi baseball. Sejak debut, dia sulit mendapat waktu luang bersama teman-temannya. Sangki menunggu teman-temannya di sebuah cafe. Tiba-tiba ada seorang pria duduk di sampingnya.

“Anda Choi Sangki, penyanyi dan putri pemilik BIG-ent?”

Sangki menoleh dan mendapati wajah seorang Ahjussi yang cukup dia kenal. Dia adalah wartawan Ahn yang sering mencari berita artis-artis BIG.

“Aku ingin bertanya, apa benar Choi Sajang punya kekasih seorang artis di BIG?”

Sangki berdiri dan meninggalkan cafe. Wartawan Ahn mengejar. Sangki berlari di sekitar jalan dan dia mencari tempat bersembunyi. Sangki membuka pintu sebuah mobil yang berhenti karena lampu merah dan masuk. Gadis itu buru-buru menunduk.

Ich ruf dich spater an,” ucap seorang namja dalam bahasa Jerman. [Aku akan menghubungimu nanti].

Sangki menoleh ke kursi kemudi dan mendapati seorang namja cute menatapnya heran. Sangki menempelkan kedua tangan, pertanda memohon. “Jebal, izinkan aku bersembunyi. Aku sedang dikejar orang.”

“Apa kau stalker yang mengikutiku?”

“Bukan. Aku benar-benar dikejar orang,” jawab Sangki sambil tetap menunduk.

“Aku baru tahu ada trik seperti ini untuk mendekatiku,” ucap pria itu ketus.

Hya! Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu. Aku hanya bersembunyi.”

Tok! Tok! Tok!

Namja itu melihat seorang pria mengetuk jendela mobilnya.

Sangki memohon, “Jebal, bawa aku menjauh dari sini dan aku akan pergi.”

“Lalu berterima kasih dan meminta nomor ponselku?” ucap namja itu ketus.

“Choi Sangki-ssi!” panggil wartawan Ahn.

Namja itu melihat lampu hijau dan melajukan mobilnya.

“Di mana kau mau turun?” tanya namja itu setelah jauh dari cafe tadi.

Sangki mengedarkan pandangannya. “Di sana,” dia menunjuk pemberhentian bus sekitar 10 meter di depan mereka.

Namja itu menghentikan mobil. “Turunlah dan tak usah berterima kasih apalagi meminta nomor ponselku.”

Sangki mencibir kesal. “Komawo,” ucapnya lalu keluar.

Tiga tahun berlalu dan Sangki bertemu pria jutek itu lagi dalam pertemuan yang diatur keluarga mereka.

“Waktu itu, Gikwang-ssi begitu bebeda. Awalnya aku berpikir dia akan bersikap sama padaku. Ternyata dia baik dan manis,” ucap Sangki.

Chaerin tertawa kecil. “Komawo.”

Ye?” tanya Sangki tidak mengerti.

“Aku mendapat inspirasi baru.”

“Maksud Sunbae?”

“Bolehkah aku menulis cerita kalian menjadi novel?” pinta Chaerin.

“Tentu saja. Komawo, Sunbae.” Sangki tersenyum senang tapi tiba-tiba dia murung.

Wae?” tanya Chaerin.

“Aku tidak tahu perasaan Gikwang-ssi padaku.”

Chaerin tertawa lagi. “Aku tahu dia menyukaimu.”

Jeongmal?”

Chaerin bercerita. Setelah beberapa hari pulang dari Jerman, Gikwang sering marah-marah tidak jelas. Chaerin tidak tahu kenapa sampai Gikwang berkata, bahwa dia sakit hati karena Sangki menganggap pertunangan mereka sebagai ajang cari sensasi. Tapi Chaerin pernah mengintip adiknya sedang nonton Sangki menyanyi live.

“Gikwang itu paling tidak suka diacuhkan. Dan kau sudah mengacuhkannya,” jelas Chaerin. “Semua yeoja yang mendekatinya, tak ada yang mengacuhkannya. Dia membencimu, sekaligus menyukaimu. Kita lihat saja akhirnya seperti apa.”

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Choi Sangki berada di Noraebang bersama Han Yoojung dan dua teman mereka. Tiba-tiba sekelompok preman masuk dan menodong mereka. Gadis-gadis itu menjerit ketakutan tapi mereka tidak berdaya.

Mata Sangki ditutup dan tangannya diikat. Entah bagaimana preman-preman itu membawa mereka keluar. Sangki tidak bisa melihat apa-apa tapi dia tahu kalau para preman memasukannya ke dalam mobil. Sangki sadar bahwa dia tidak bersama teman-temannya. Gadis itu sangat ketakutan dan tak berani membayangkan apa yang akan terjadi.

Setelah beberapa lama, dia merasa mobil berhenti dan preman itu meyeretnya keluar. Suasana sangat hening. Preman itu membuka ikatan lengan Sangki dan menyuruhnya diam tak bergerak. Ikatan mata pun dilepaskan. Tapi Sangki tetap tak bisa melihat apapun. Dia berada di ruangan yang gelap.

Sangki mendengar petikan gitar diikuti nyanyian. Di saat yang bersamaan, lampu menyala tepat di atas seorang namja yang duduk sambil memainkan gitar.

Baby you light up my world like nobody else

The way that you flip your hair gets me overwhelmed

But when you smile at the ground it aint hard to tell

You don’t know Oh Oh

You don’t know you’re beautiful

If only you saw what I can see

You’ll understand why I want you so desperately

Right now I’m looking at you and I can’t believe

You don’t know Oh oh

You don’t know you’re beautiful Oh oh

That what makes you beautiful

Sangki melihat tunangannya, Lee Gikwang, tersenyum lembut lalu berdiri mendekatinya.
“Happy birthday!” ucapnya sambil memperlihatkan kotak kecil berwarna ruby.

Gikwang membukanya dan Sangki terpana melihat sebuah kalung indah di dalamnya. Liontin kalung itu membentuk garis-garis dengan warna gold, merah, biru, putih. Gikwang memesan rancangan kalung itu agar semirip mungkin dengan pemandangan air sungai Swan di malam hari. Garis-garis itu seperti pantulan cahaya bangunan di sekitar Swan River kota Perth.

Sangki benar-benar speechless. Gikwang memakaikan kalung itu ke lehernya dan mereka saling menatap lembut.

Komawo,” ucap Sangki dengan mata berbinar.

Gikwang mengelus rambut Sangki dan tertawa kecil. Lalu dia mendekatkan kepalanya dan berbisik tepat di telinga Sangki.

Neol saranghae,” ucap Gikwang lembut tapi menghantarkan getaran hebat ke seluruh sel tubuh gadis itu.

Mereka saling memandang dalam jarak yang sangat dekat. Gikwang tersenyum kecil lalu mendaratkan ciuman di kening Sangki. Dia memindahkan ciumannya ke pipi yeoja itu lalu berakhir di bibir.

Sangki merasa ribuan peri sedang membawanya terbang melayang saat mereka bercumbu dan saling mendekap.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Lee Chaerin sedang sibuk melayani tanda tangan di acara launching novel terbarunya, “Midnight in Perth.”

Dia tidak melihat panjangnya antrian dan bersikap ramah kepada semua orang yang membeli novelnya dan minta ditandatangani.

“Nama Anda?” tanyanya sambil mengukir tanda tangan di belakang cover novel. Saat itu Chaerin tidak melihat orang yang berdiri di depannya.

“Lee Donghae,” jawab orang itu.

Chaerin mengangkat wajah dan mendapati sosok namja tampan tersenyum manis padanya. Dia baru menyadari beberapa wanita berbisik melihat namja itu.

Long time no see, Lee Chaerin,” ucap Lee Donghae yang dikenal sebagai pemain sepak bola Korea yang merumput di Manchester United.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

@ a dinning room, Sun Tower hotel, Han River, Seoul

Direktur Lee dan nyonya Shin sedang menikmati acara weekly breakfast mereka di hotel mewah milik grup Geumsan mereka. Sepasang suami itu merasa suasana sarapan saat ini lebih hangat. Selain Gikwang dan Sangki, Chaerin juga ditemani Lee Donghae.

“Sangki-ya, tadi kau akan mengatakan sesuatu pada kami,” ucap Gikwang.

“Ada apa, Sangki-ya?” tanya Lee Sajang.

Sangki menatap Gikwang dan tersenyum. Lalu dia memandang semua orang di sana. “Aku akan merilis single baru. Aku sendiri yang menulisnya.”

Chukae!” ucap semuanya.

Sangki melanjutkan. “Lagu ini sangat spesial karena aku persembahkan untuk seseorang.” Lalu dia menoleh pada Chaerin. “Setelah novelis terkenal menulis ceritaku, giliranku membuatkan lagu untuknya.”

Ye?” tanya Chaerin kaget.

“Kisah cinta seorang novelis dan pesebakbola. Menarik, bukan?” ungkap Sangki.

*˛.* *˛.* ♥ midnight ♥ ˛* ˛*˛* ˛*

Mianhae kalau part 2 ini geje bin amburadul.
Gak hot? Silahkan cek genre saja. Hehe.

Advertisements

7 comments on “MIDNIGHT IN PERTH [2 of 2]

  1. Yippie happy ending Gikwang khawatir juga sama Sangki, dan dia cuman bete gara-gara ngerasa Sangki cuman manfaatin dan ngacuhin dia aja hehehehe

    Geli banget pas akhirnya pria pujaan Lee Chaeri muncul, Lee Donghae yang jadi pemain bola di club MU, dah macem Park Jisung aja hehehehehe

    Okay Onnie next paper please… *Mungkin Amortentia* hehehehe

    • That’s right. Gikwang ga pernah diabaikan yeoja.
      Jadi sekali diabaikan, membekas di hati
      Itu membuat Sangki menarik baginya. Hehe

      Itu penampakan LDH, surprise buat LCR yg suka MU.
      Hhhmmn, kalo diperpanjang, LDH bisa dikatakan teman park jisung #maksa 😉

      Thanks for always RCL.
      Hopefully I’ll finish my Amortentia soon.
      But in fact, lagi kena WB berat. Aigoo.
      May someone help me 😦

Review Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s