Author: D alias myuniqueface
Main Cast:
Kyuhyun (Super Junior)
Michele aka Hyunri (OC)
Support Cast: -
Genre: Romance
Length: One-shot
Rated: General
Author’s Note: fanfict ini pernah di publish di wp pribadi: hitamabuputih.wordpress.com
-Posting by: Mizucha 040213-
Last edit by: Kang Hyemin – 04022013 -
Notes dan sejumlah pena di sebelah kanan, tumpukan buku di sebelah kiri, sebuah buku yang terbuka di hadapanku dan tangan yang memegangi kepala karena pusing bukan main. Yeah, aku sedang belajar di perpustakaan kampus. Ya ya ya, kata belajar memang terdengar klasik. Akan tetapi, serius, aku benar-benar sedang belajar. Aku sedikit tertinggal dalam memahami materi kuliah yang diberikan dosen, sehingga kuputuskan untuk mengejar ketinggalan itu dengan belajar lebih giat di perpustakaan.
Aku tak pernah membayangkan jika kuliah di negara asing sesulit ini. Ah bukan, ini bukan hanya sekedar masalah bahasa asing, tapi juga jurusan yang asing. Baiklah, ini salahku sendiri yang menginginkan belajar Filsafat, padahal latar belakang pendidikanku tidak sesuai dengan jurusan yang diambil saat ini.
Tsk! Daripada terus menyalahkan diri dan membuang waktu untuk menyesal seperti ini lebih baik aku melanjutkan belajarku. Kutekuni kembali buku yang sedang kubaca. Sial, kenapa buku ini susah sekali di pahami sih? gerutuku dalam hati.
Bruk!
Setumpuk buku dan tablet diletakkan di hadapanku. Spontan aku mendongak karena terkejut. Seorang laki-laki muda memakai topi hitam yang meletakkannya. Dia tersenyum kecil ke arahku. Aku membalas senyumnya dan kembali menekuni buku yang kubaca.
“Maaf, boleh aku minta kertas?” sebuah suara kembali mengagetkanku, sehingga aku kembali mendongakkan kepala. Ternyata pria tadi yang meminta kertas.
“Tentu saja, butuh berapa lembar?” jawabku sambil tersenyum. Semoga senyumku ini sedikit menghilangkan sakit kepala yang kurasakan.
“Satu lembar saja,” jawabnya. Aku segera meraih notes-ku dan merobek selembar kertas untuknya.
“Silahkan,” kataku sambil memberikan kertas itu kepadanya.
“Terima kasih banyak. Ah, boleh pinjam pulpen?” tanyanya dengan ekspresi malu-malu.
“Tentu saja,” jawabku sambil tertawa kecil, “kupikir kau sudah membawa pulpen sendiri,” lanjutku seraya memberikan pulpen.
“Aku hanya membawa ini ke sini,” jawabnya sambil menunjuk buku dan tablet yang tadi ia letakkan. Aku hanya mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum.
“Kau mahasisiwa di sini?” tanyanya lagi.
“Iya, program Graduate. Kau?” jawabku.
“Program Post Graduate, jurusan Post Modern Music.”
“Lalu, kenapa kau ada disini?” tanyaku dengan ekspresi bingung. Mengingat ini adalah perpustakaan untuk departemen filsafat. Apa ia akan menemukan buku tentang materi kuliahnya? pikirku dalam hati.
“Aku suka dengan suasana perpustakaan di sini. Menurutku tempat ini menyenangkan untuk belajar dan mengerjakan tugas,” jelasnya. Aku hanya membulatkan mulut, pertanda mengerti.
“Oh iya, namaku Cho Kyuhyun,” katanya, sambil mengacungkan tangan hendak bersalaman.
“Aku Michelle,” jawabku, menyambut tangannya. Dia terlihat agak sedikit kaget.
“Aku pikir kau orang Korea,” katanya pelan, seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Aku kembali tertawa kecil.
“Well, mukaku memang seperti orang Korea, tetapi aku warga negara Inggris,” jelasku.
“Ah maaf. Aku sok tahu tadi,” ujarnya malu.
“Hahaha, tidak apa-apa,” jawabku sambil mengibaskan tangan.
“Wajahmu memang sangat Korea, meski terlihat sedikit berbeda dengan orang Korea kebanyakan. Lalu tadi sekilas kulihat kau sedang membaca buku dengan hangul, jadi aku tanpa ragu-ragu bertanya dengan bahasa korea. Dan ternyata bahasa koreamu sangat lancar,” katanya sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
“Ibuku orang Korea dan sering menggunakan bahasa Korea ketika berbicara dengan anak-anaknya. Aku juga belajar bahasa Korea sewaktu di Inggris. Bahkan aku pernah mengikuti pertukaran pelajar di sini, ketika usiaku 15 tahun,” jelasku.
“Oh, pantas saja,” ujarnya sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Aku kembali tersenyum. Hal seperti ini sangat sering terjadi semenjak aku tinggal di Korea. Jadi aku terbiasa menyiapkan jawaban tadi. Itu adalah versi terpendek dari sejarah panjang kenapa aku bisa dengan lancar berbahasa Korea :p
“Sudah lama belajar di sini?” tanyanya lagi.
“Baru dua bulan. Aku mahasiswa baru sekaligus warga baru di sini. Kurang lebih baru tiga bulan tinggal di Korea,” jelasku.
“Oh. Apakah menyenangkan selama berada di sini?”
“Di universitas ini atau di Korea?”
“Semuanya.”
“Oh, cukup menyenangkan. Meskipun aku masih harus terus menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru. But I’d love to learn something new. That’s fun,” jawabku sedikit menyelipkan kalimat dengan bahasa Inggris.
“Oh, bahasa Inggrismu sangat British,” komentarnya sambil terkekeh.
“Tentu saja. Aku orang Inggris,” jawabku sambil ikut terkekeh.
Kemudian kami kembali terdiam. Dia membuka-buka bukunya dan menuliskan beberapa hal di kertas. Aku sedikit memperhatikannya karena merasa keheranan dengan topi yang ia pakai.
“Kau, tidak kepanasan memakai topi di dalam ruangan seperti ini?” tanyaku, mencoba bersikap sopan. Dia terkejut, kemudian menyentuh topi yang ia pakai.
“Ah ini, gwenchana. Aku nyaman dengan topi seperti ini,” jelasnya sambil memegang topi yang digunakannya saat ini. Aku mengangguk-anggukakan kepala mendengar jawabannya. Sedikit aneh, tapi biarlah.
“Kau sudah lama belajar di sini?” tanyaku lagi, mencoba memulai pembicaraan.
Ia mengangguk, “Ya, aku mengambil program Graduate-ku juga disini. Di departemen yang sama.”
“Sepertinya kau sangat menikmati belajar, apa tadi, ah iya, Post Modern Music.”
“Iya, sesuai dengan pekerjaan yang aku lakukan sekarang.”
“Oh ya? Apa pekerjaanmu?”
“Aku pekerja seni.”
“Oh,” responku sambil kembali mengangguk-angguk.
“Kau tidak mengenalku?” tanyanya lagi, dengan muka sedikit ingin tahu kemudian membuka topi yang ia pakai. Aku sedikit mengernyitkan kening.
“Bukankah kita baru saja berkenalan? Kau Cho Kyuhyun, bukan?” jawabku polos. Dia terlihat menahan senyum.
“Bukan, maksudku ah bagaimana menjelaskannya?” dia terlihat kebingungan. Serentak aku menjentikkan jari.
“Ah! Jangan bilang kau pekerja seni yang terkenal di Korea. Kudengar banyak orang terkenal yang bersekolah di sini,” jawabku agak sedikit memekik sambil menunjuknya. Segera aku meraih handphoneku dan mencoba mencari namanya di internet.
“Apakah tulisan namamu benar seperti ini?” tanyaku memastikan, sambil memperlihatkan hasil ketikanku.
“Iya,” jawabnya sambil mengangguk setelah melihat layar handponeku.
Aku membulatkan mata begitu melihat informasi yang keluar setelah aku mengetik namanya. Pria yang ada di hadapanku ini ternyata memang orang terkenal, dia anggota dari Super Junior, boyband Korea yang sedang populer saat ini. Tidak hanya terkenal di Korea, tapi juga di dunia. Foto yang ada di internet pun membuktikan kemiripan wajah, tapi mungkin saat ini ia sedang tidak memakai make up sehingga terlihat agak berbeda. Aku kemudian melihat ke arahnya dengan tatapan meminta maaf dan senyum tidak enak.
“Maaf, aku tidak mengenalmu,” ujarku sambil terkekeh malu. Dia hanya tersenyum memaklumi.
“Yeah, aku tahu musik Korea. Ah apa ya istilahnya?” aku sedikit lupa dengan istilah yang ingin aku katakan.
“K-Pop,” sambarnya.
“Ah iya, aku tahu bahwa K-Pop sedang merajai dunia. Banyak orang yang menyukai jenis musik ini. Beberapa temanku di London sering membicarakan tentang hal itu. Beberapa kali aku juga melihat berita yang memberitakan tentang K-Pop. Tapi mungkin karena aku tidak memperhatikan dengan seksama pembicaraan temanku ataupun berita yang kulihat, aku jadi tidak terlalu familiar dengan K-Pop dan juga pekerja seni di dalamnya,” jelasku. Lebih tepatnya mencari-cari alasan agar dia tidak tersinggung karena aku tidak mengenalinya.
“Kau tidak suka dengan K-Pop?” tanyanya lagi. Aku agak kaget dengan pertanyaannya. Agak tajam.
“Ini bukan masalah suka atau tidak. Baru ketika mulai tinggal disini, aku sering mendengarkannya. Terdengar bagus, umm membuatmu ingin menari dan you know, membuatmu merasa senang, tapi umm bagaimana mengatakannya?” aku sedikit berpikir, mencari kata yang tepat untuk diucapkan.
“Tidak sesuai dengan seleramu?” kembali ia menyambar.
“Ya, mungkin seperti itu. Sorry,” kembali aku menatapnya dengan pandangan meminta maaf.
Kyuhyun hanya tersenyum, “Tidak apa-apa. Selera musik orang memang berbeda-beda.”
“Tapi K-Pop hebat. Maksudku, selama ini pasar musik di dunia lebih banyak di dominasi oleh Amerika atau Eropa. Tapi sekarang Korea bisa membuktikan kalau mereka juga bisa. Aku sebagai orang keturunan Korea merasa bangga. Jjang!” kataku sambil mengacungkan jempol.
Kyuhyun tertawa setelah mendengar penjelasanku. Aku tak tahu mengapa, tapi dia terlihat sangat tampan ketika tertawa seperti itu.
“Jadi, selera musikmu seperti apa?” tanyanya.
“Rock, RnB, dan Western Pop.”
“Penyanyi favoritmu?” tanyanya lagi.
“Linkin Park, Avenged Sevenfold, dan Eminem. Untuk Western pop, aku tidak punya satu penyanyi favorit. Aku suka semuanya.” Dia terlihat kagum dengan deretan nama yang kusebutkan tadi.
“Aneh ya?” tanyaku memastikan.
“Tidak, hanya saja aku jarang mendapati wanita yang menggemari nama band dan penyanyi yang kau sebut tadi,” jelasnya.
“Yes sir, I’m one of a kind,” jawabku sambil sedikit menyanyikan nada lagu G-Dragon kemudian tertawa.
“Oh, kau tahu lagu itu?” tanyanya dengan wajah senang. Mungkin ia senang mengetahui bahwa aku sedikit tahu tentang K-pop.
“Beberapa waktu yang lalu aku pernah menonton TV, kalau tidak salah channel SBS. Mereka sedang menayangkan program musik dan aku melihat penampilan G-Dragon, benar namanya itu, bukan? Lagu tadi entah kenapa sangat melekat di otakku. Kemudian aku membeli album digitalnya dan ternyata bagus.” dia mengangguk angguk sambil tersenyum.
“Kusarankan kau juga mendengarkan musik Super Junior. Tidak kalah bagus,” katanya percaya diri sambil tersenyum lebar.
“Baiklah,” jawabku sambil tertawa, geli dengan rasa percaya dirinya yang berlebihan.
Kembali kami terdiam dan menekuni aktivitas masing-masing. Suasana kembali hening. Selain karena kami tidak lagi mengobrol, tidak banyak pula orang yang berada di perpustakaan. Di area tempat kami duduk saja, hanya ada empat orang, termasuk kami berdua.
“Michelle-ssi?” panggilnya.
“Yes?” jawabku
“Apa kau punya nama Korea? Ibumu orang Korea kan?”
“Ibuku sering memanggilku dengan nama Hyunri. Aku tidak tahu apa artinya, tapi menurutku itu terdengar bagus.”
“Sepertinya aku akan memanggilmu Hyunri saja kalau begitu. Aku takut lidahku terkilir kalau terlalu sering memanggilmu dengan nama Michelle,” katanya sambil menjulurkan lidahnya.
“Mwoya,” jawabku sambil tertawa. Kyuhyun juga ikut tertawa.
“Hyunri-ssi,” panggilnya lagi.
“Ne?” jawabku sambil kembali tertawa. Ini terasa aneh, karena selama ini hanya ibuku yang memanggil dengan nama Hyunri. Orang-orang yang kukenal selama hidupku selalu memanggilku Michelle. Bahkan orang-orang disini, di Korea maksudku. Salah sendiri mereka tidak pernah bertanya apa aku punya nama Korea atau tidak. Jangan salahkan aku kalau lidah mereka terkilir karena memanggilku dengan nama Michelle :p
“Kenapa tertawa?” tanyanya heran.
“Aniya.”
“Kau ini lucu dan unik,” katanya sambil tersenyum.
“Kau orang kesekian yang berkata seperti itu.”
Dia kembali tersenyum sembari memainkan pulpen yang ada di jarinya. Mendadak ponsel Kyuhyun berbunyi, tapi dia hanya melihat dan tidak segera mengangkat telepon. Aku menyilahkannya untuk mengangkat telepon. Kyuhyun menurut, sambil lagi-lagi tersenyum ke arahku.
“Ne Hyung, aku sedang di kampus. Mwo? Kau bilang jam 2? Baiklah, aku segera kesana. Iya, tidak usah cerewet. Iya,” katanya di telepon. Kulihat jam di tangan, ini baru jam 1 lewat 15 menit.
“Ah, aku harus pergi. Hyungku mengajakku makan siang,” katanya setelah menutup telepon. Entah mengapa wajahnya terlihat agak sedikit…kesal?
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.
“Hyurin-ssi, apa kau punya KakaoTalk?” tanyanya di sela-sela kesibukan membereskan bawaannya.
“Punya. Kenapa?” Yeah, aku punya aplikasi ini karena hampir semua orang yang kukenal di sini menggunakannya. Dia merobek bagian kertas yang masih kosong, kemudian menyerahkannya ke arahku beserta dengan pulpen yang tadi kupinjamkan padanya.
“Tuliskan nama ID-mu di sini,” perintahnya. Aku memandangnya dengan tatapan bingung. Kenapa aku harus memberikan ID-ku kepadanya? Bahkan aku hanya mengenalnya selama kurang dari 30 menit.
“Ayolah, kapan lagi seorang Kyuhyun Super Junior meminta ID Kakao-mu? Manfaatkanlah kesempatan ini,” katanya membujukku sambil tersenyum jahil. Benar-benar penuh percaya diri orang ini.
“Tsk, baiklah,” aku pun menuruti permintaannya dan segera menuliskan nama ID KakaoTalk-ku di kertas dan menyerahkannya kembali ke Kyuhyun. Ia menerima secarik kertas itu dengan senyum lebar.
“Oke, terima kasih untuk kertas dan pulpennya,” katanya sambil melipat kertas dan mengembalikan pulpenku.
“Terima kasih juga untuk obrolan yang menyenangkan. Semoga kita bisa mengobrol lagi di lain kesempatan,” katanya lagi sambil mengajak aku berjabat tangan.
“Sama-sama,” jawabku sambil tertawa dan menyambut tangannya.
“Aku pergi dulu,” pamitnya, lagi-lagi sambil tersenyum. Aku rasa, dia terlalu banyak senyum selama mengobrol denganku tadi.
“Hati-hati,” pesanku.
Kyuhyun hanya membuat tanda “OK” dengan tangannya, kemudian meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa. Aku sendiri kembali membaca buku dan meresapi setiap kata yang tertulis di dalamnya.
Katalk!
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk dari aplikasi Kakao-ku. Ketika kubuka, aku hanya bisa tersenyum kecil.
Hi! I’m Kyuhyun~
Nice to meet you~
Let’s meet again ^^
-FIN-
Ada sequelnya kan?
Bikin penasaran endingnya -_-
sila kunjungi blog pribadi saya untuk liat sekuel ff ini